How To Love You

How To Love You
Bab 60



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Ayo cepat katakan Dew. Aku penasaran banget nih!" seru Tasya. Ia sangat penasaran dengan perkembangan hubungan kakaknya dan sahabatnya itu.


"Aku aku mm ... " Dewi bingung harus bilang apa.


"Ayo Dew. Cepat katakan." Tasya sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Dewi.


"Mm ... begini aja, langsung ke intinya." ujar Dewi. Ia pun menarik napasnya dalam untuk mencari kekuatan menjawab pertanyaan Tasya. Tasya diam sambil menunggu jawaban Dewi. Dia sudah tidak sabar karena terlalu penasaran.


"Kak Tama bilang ... Aku harus menunggunya 6 bulan lagi." jelas Dewi.


"Ah yang bener?" pekik Tasya. Ia merasa sangat bahagia mendengar jawaban sahabat itu. Ia langsung memeluk Dewi saking bahagianya.


"Eh, terus terus. Kamu bilang apa? Kamu nggak nolak kakakku kan?" tanya Tasya ingin memastikan.


Air muka Dewi berubah jadi datar, ia lalu menjawab pertanyaan Tasya.


"Maaf Tasy. Aku nggak bisa." ujar Dewi sambil menekuk wajahnya.


"Memangnya kenapa Dew? Hm. Apa ada yang salah?" tanya Tasya sampil memegang kedua bahu Dewi. Jujur Tasya merasa sedikit kecewa mendengar ucapan Dewi. Tasya berpikir kalau Dewi menolak Tama.


"Tasy. Aku minta maaf karena aku ... aku nggak bisa nolak maksudnya. Hehe." jawabnya sambil tertawa. Ia berhasil mengerjai Tasya kali ini.


"Ah kamu Dew. Puas yah kamu ngerjain aku tadi. Hm." Tasya sedikit kesal dengan tingkah jail Dewi.


Dewi hanya tertawa melihat ekspresi Tasya tadi.


"Tapi nggak apalah. Makasih yah Dew karena kamu mau menerima dan menunggu Kak Tama. Jujur Dew, aku bahagia banget dengernya. Bentar lagi kita akan jadi satu keluarga." ujar Tasya seraya memeluk Dewi. Ia merasa sangat bahagia.


Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum dalam pelukan Tasya.


Mereka tidak sadar kalau sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari tadi.


"Ehem ehem." Hendra berdehem.


Tasya dan Dewi tersentak. Refleks mereka melepas pelukan.


"Sayang. Kamu bikin kaget saja." Tasya memegang dadanya karena tadi sempat kaget dengan suara deheman Hendra yang tiba-tiba.


"Oh jadi ini penyebabnya." ucapan Hendra menggantung.


Tasya dan Dewi saling lirik tidak mengerti maksud ucapan Hendra. Dewi mengeryitkan kening sambil menatap Tasya. Tasya hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti juga.


"Dewi. Aku ingin bertanya padamu!" seru Hendra.


"A apa kak?" tanya Dewi terbata. Jujur ia merasa sedikit takut tanpa sebab.


"Apa karena gara-gara ini Tasya selalu cuek padaku dulu? Aku tidak menyangka kalau ternyata istriku suka padamu." canda Hendra lalu terbahak karena berhasil membuat kedua gadis dihadapannya kebingungan.


"Sayang ih. Bikin gemes." Tasya mengepalkan kedua tangannya karena kesal dikerjai Hendra.


Hendra dan Dewi hanya tertawa.


"Sayang. Jangan bilang kamu cemburu sama Dewi." canda Tasya.


"Hahaha. Sayang aku kan cuma bercanda. Kalian lanjutkanlah obrolan kalian. Aku mau keluar dulu menunggu kedatangan Radit dan Andi." ujar Hendra sembari melangkah keluar.


Setelah Hendra hilang dari pandangan mereka.


"Tasy. Apa kamu bahagia menikah sama Kak Hendra." tanya Dewi.


"Syukurlah. Aku turut bahagia kalau kamu bahagia dengan pernikahanmu." ucap Dewi seraya tersenyum.


"Kamu tenang saja Dew. Aku yakin kakakku juga pasti bisa memperlakukan kamu dengan baik nantinya." ujar Tasya.


"Semoga aja yah Tasy. Aku harap juga begitu." balas Dewi.


"Tentu saja. Kak Tama akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia didunia. Aku kenal baik siapa kakakku." ujar Tasya seraya tersenyum. Dewi hanya tersenyum menanggapinya.


"Tasy. Aku boleh nanya sesuatu nggak sama kamu?" tanya Dewi pelan.


"Apa itu?" tanya Tasya.


"Apa kamu sudah membuka hatimu untuk kak Hendra?" tanya Dewi.


Tasya terdiam.


"Apa kamu sudah mencintai kak Hendra?" tanya Hendra.


"Sejauh ini aku menyayanginya Dew. Dan sekarang aku sedang berusaha mencintainya. Doakan yah, semoga hatiku cepat terbuka untuknya. Kak Hendra itu suami yang sangat baik. Aku merasa sangat beruntung menikah dengannya. Dia tahu cara memperlakukan wanita. Dia membuatku merasa sangat dicintai dan disayangi, dan aku suka itu. Aku pikir aku tidak punya alasan lain untuk tidak berusaha mencintainya. Dia sangat pantas untuk aku cintai." jelas Tasya sambil tersenyum ke arah Dewi.


Hendra yang tidak sengaja menguping pembicaraan mereka jadi senyum-senyum sendiri. Ia merasa sangat bahagia mendengar ucapan istrinya.


"Sayang. Aku berjanji akan berusaha lebih keras lagi agar kamu bisa membuka hatimu untukku secepatnya." batin Hendra.


...----------------...


Radit datang tidak lama setelah kedatangan Andi. Mereka duduk lesehan diatas sebuah karpet permadani sambil berunding untuk membagi daerah yang akan mereka tempati untuk menyebar undangan.


"Aku ambil daerah Semboyong aja. Karena disana kampung halaman ibuku jadi aku cukup mengenal banyak orang disana." ujar Andi menjelaskan pada yang lainnya.


"Kebetulan sekali kak, ayahku juga punya banyak kerabat disana." ujar Tasya.


"Oh yah." balas Andi.


"Iya kak. Nanti Kak Andi bisa barengan sama Tania atau Tantri kesana." ujar Tasya.


"Eh kakak ipar, aku sama Tania aja yah." potong Radit yang duduk diantara Andi dan Dewa.


Tania melirik ke arah Radit. Mereka beradu pandang. Radit tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Tania memalingkan pandangannya.


Oh iya, Radit kakak kelas Tania dulu di SD, SMP sampai SMK. Tania kelas 1 dan Radit kelas 3 waktu itu. Sekarang Radit Kuliah di Universitas Merdeka. Sedangkan Tania sebentar lagi lulus di SMK.


"Terserah kalian mau ngaturnya gimana yang penting undangannya cepat tersebar dan tidak salah alamat." ujar Hendra.


"Berarti Kak Andi sama Tantri aja yah kak." ujar Tasya pada Andi.


"Kalau aku mah terserah, mau sama siapa aja." balas Andi santai.


"Aku sama Kak Dewa ambil daerah sini sama kampung sebelah aja yah Tasy." sambung Dewi.


"Iya. Terserah kamu aja Dew." balas Tasya.


"Kalian mau ambil daerah mana?" tanya Hendra pada Radit dan Tania.


"Aku Pattimura, Ahmad Yani dan sekitarnya kak. Disana juga banyak orang yang aku kenal." jawab Radit.


"Bukannya itu terlalu jauh Dit." ujar Hendra pada Radit.


"Nggak apa-apa kak, mau nggak mau kan undangannya harus tetap dibawa kesana juga. Tadi aku juga bawa mobil kesini." jawab Radit.


Aku sengaja memilih daerah yang paling jauh agar aku bisa berlama-lama dengan Tania nanti. Itung-itung pendekatan sama calon bini. Hehe. batin Radit.