
Tasya dan Fathur melihat kearah asal suara. Mata Tasya terbelalak kaget, jantungnya berdegup sangat kencang melihat sosok yang berjalan ke arah mereka dengan sorot mata tajam dan wajah merah padam.
Melihat siapa yang datang. Fathur pun segera bangkit dari posisinya.
"Sa sa sayang!" ucap Tasya terbata.
"Kenapa wajah, Kak Hendra jadi menyeramkan begitu sih? Aku takut! Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti ini." batin Tasya dengan raut wajah pucat dan tangan gemetar karena takut.
Hendra hanya diam sambil memasang ekspresi wajah menyeramkan. Ia berjalan menghampiri Tasya dan Fathur dengan tangan terkepal.
"Sayang, kembalilah ke pesta! Aku ingin berbicara empat mata dengannya." perintah Hendra pada istrinya.
Tasya mendekati Hendra. Ia lalu memeluk lengan suaminya seraya berkata,
"Sayang, kamu jangan marah dulu. Aku bisa jelaskan semuanya nanti. Ayo kita sama-sama kembali ke pesta!" ajak Tasya mencoba membujuk suaminya.
Tasya tidak ingin suaminya salah paham dan membuat keributan disana.
"Kamu tenang saja, sayang. Aku percaya sama kamu. Lagi pula, aku mendengar semua percakapan kalian dari awal. Aku mengikutinya saat aku melihat dia sedang membuntutimu ke toilet." balas Hendra.
"Ta tapi, sayang,"
"Tidak usah tapi-tapi. Sana!" titah Hendra.
Meskipun Hendra sedang marah tapi ia tetap bertutur kata lembut pada istrinya.
"Sayang, aku baru mau pergi kalau kamu mau berjanji satu hal padaku."
"Apa itu, sayang?" tanya Hendra.
"Kamu harus janji, kamu tidak akan membuat keributan disini." jawab Tasya.
"Kamu tenang saja, sayang. Aku berjanji, hal itu tidak akan pernah terjadi. Kembalilah!" ucap Hendra seraya mengelus-elus bahu istrinya dengan lembut.
"Baiklah, sayang."
Sebagai seorang istri yang baik, mau tidak mau Tasya harus menuruti perintah suaminya. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan Hendra dan Fathur berdua disana. Sebenarnya ia juga khawatir kalau sampai Hendra tidak bisa mengendalikan emosi lalu menghajar Fathur sampai babak belur. Tapi ia mencoba menepis pikiran buruknya itu. Karena ia percaya pada suaminya.
Setelah Tasya kembali memasuki pestanya. Ia terkejut saat melihat tamu-tamu yang ada disana berkerumun sembari semuanya berteriak,
"Terima, terima!"
"Prok prok prok." suara tepukan tangan serentak orang-orang yang ada disana.
"Apa yang terjadi? Terima apa?" batin Tasya.
Tasya pun lalu mendekat kearah para tamu yang berkumpul disana. Ia menghampiri Tania, Radit, dan Tantri yang juga ikut berdiri disana.
"Apa yang terjadi, Dek? tanya Tasya.
"Sini, Kak cepetan. Kak Tama lagi ngelamar, Kak Dewi," jawab Tania antusias seraya menarik tangan Tasya untuk segera mendekat.
"Hah, yang bener?" ujar Tasya tidak kalah senangnya.
"Iya, Kak. Ayo sini cepetan!" timpal Tantri.
"Iya, Kak beneran. Hampir aja kakak ketinggalan." ujar Tania.
Tasya melihat kakak laki-lakinya sedang memasangkan cincin dijari manis kiri Dewi. Dewi juga melakukan hal yang sama pada Tama.
"Yah, ampun! Kak Tama, Dewi! Aku seneng banget. Akhirnya mereka tunangan." ujar Tasya dengan bahagianya.
Seketika Tasya melupakan Hendra dan Fathur yang ia tinggalkan didepan toilet sana.
"Iya, Kak. Sebentar lagi kita punya anggota keluarga baru. Yeiiy!" sambung Tania.
Tasya, Tania, dan Tantri saling berpelukan saking bahagianya melihat kakak laki-laki mereka sudah punya calon istri. Namun, pelukan mereka terlepas saat mendengar deheman pemuda yang sedang berdiri didekat mereka.
"Kamu kenapa, Dit?" tanya Tania yang heran mendengar deheman Radit.
Radit menarik tangan Tania untuk mendekat padanya. Ia lalu berbisik didekat telinga Tania.
"Nia, kalo kamu juga mau, aku bisa meminta orang tuaku untuk segera mengatur pertunangan kita secepatnya." bisik Radit.
"Enak aja. Aku masih muda tau, Dit. Umurku baru mau 19 tahun. Masa depanku masih panjang. Aku masih belum siap untuk itu. Aku nggak mau terikat dengan siapapun." balas Tania lalu membelakangi Radit.
"Yah, sayang dong. Padahal aku udah siap jadi imam," ujar Radit cemberut.
"Imam apa dulu? Iman sholat?" ledek Tania.
"Iya, imam sholat sekaligus imam dalam rumah tangga."
"Elah, dengerin apa kata, Tante Risna, Dit. Selesaiin dulu kuliah kamu, baru mikirin yang begituan. Jadi orang kok ngebet banget pengen nikah."
Radit hanya mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Tania.
"Ck, punya pacar kok nggak bisa diajak kerja sama. Nggak pengertian banget, huft." gerutu Radit seraya mendengus kasar.
Tasya, Tania dan juga Tantri segera menghampiri Tama dan Dewi. Mereka bertiga memeluk keduanya seraya mengucapkan selamat atas pertunangan mereka.
"Kak Tama kok nggak bilang sih kalo kakak mau lamar, Dewi disini? Kan kita bisa bikinin acara khusus untuk pertunangan kalian berdua." ucap Tasya seraya menggandeng tangan Tama dan Dewi. Ia berada diantara keduanya.
"Semuanya tiba-tiba, Dek. Kakak juga beli cincinnya pas mau ke bandara." jawab Tama.
"Oh, yah. Kamu juga tau nggak, Dew kalo, Kak Tama mau ngelamar kamu disini?" tanya Tasya pada Dewi.
"Nggak sama sekali. Aku juga nggak nyangka." jawab Dewi malu-malu.
"Berarti surprise dong. Kak Tama bisa juga romantis ternyata." ujar Tasya seraya tersenyum.
"Oh iya, maaf yah, Dek nebeng diacaranya kamu. Lumayan, hemat biaya." ucap Tama seraya tertawa.
"Huh! Dasar nggak modal!" canda Tasya.
Mereka bertiga pun lalu tertawa bersama.
***
Sementara itu, Hendra dan Fathur masih berada didepan toilet sana. Hendra menatap Fathur dengan tatapan tajam. Sedangkan Fathur hanya menatapnya dengan tatapan santai.
"Hei, Bung! Saya peringatkan pada, Anda. Anda tidak perlu lagi mencintai istri saya. Karena saya mampu memberikan cinta yang lebih untuknya. Jadi, Anda tidak perlu lagi repot-repot untuk mencintai istri saya. Cukuplah istri, Anda yang, Anda cintai." tegas Hendra seraya menunjuk-nunjuk Fathur.
Fathur tidak membalas ucapan Hendra, ia memilih diam karena ia sadar kalau ia memang bersalah dalam hal ini.
"Mulai detik ini juga, lupakan istri saya. Karena saya sangat tidak suka ada laki-laki lain yang selalu mengingat-ngingat istri saya."
"Daaan satu lagi. Asal Anda tau, saya dan istri, Anda adalah sahabat baik. Kami sudah bersahabat selama hampir 10 tahun. Jadi, Anda jangan coba-coba untuk menyakiti perasaannya. Karena kalau, Anda berani berbuat demikian, saya tidak akan segan-segan membuat perhitungan dengan, Anda. Ecamkan itu!"
Fathur masih diam, ia tidak mau menggubris ucapan Hendra. Ia tidak mau masalahnya jadi panjang dan rumit. Jadi, ia lebih memilih untuk diam saja.
"Kalau, Anda tidak ingin mengatakan apapun. Saya permisi!" ucap Hendra.
Hendra lalu berbalik meninggalkan Fathur yang masih berdiri mematung disana. Ia memilih meninggalkannya saat tidak mendapatkan respon apapun. Sebenarnya ia ingin sekali menghajar si Fathur. Tapi karena ia mengingat ucapan istrinya, dan mengingat kalau Fathur adalah suami sahabat baiknya, ia jadi mengurungkan niatnya.
Namun setelah Hendra baru melangkahkan kakinya beberapa langkah, ia memutar kembali tubuhnya menghadap ke arah Fathur.
"Oh iya, masih ada satu lagi. Saya dengan segenap seluruh jiwa raga saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih dari lubuk hati saya yang paling dalam. Karena, Anda sudah memberikan saya kesempatan untuk memiliki, Tasya seutuhnya. Dan asal, Anda tau, saya tidak akan mengulangi kebodohan yang pernah, Anda lakukan. Catat itu!" ucap Hendra seraya tersenyum miring ke arah Fathur.
Setelah itu, Hendra lalu kembali ke pestanya. Ia meninggalkan Fathur yang masih berdiri disana seperti orang bodoh.
Fathur sangat tidak menyukai ucapan terakhir yang dilontarkan oleh Hendra. Ia merasa hatinya terasa teriris-iris mendengar kata-kata itu. Karena hal itulah yang teramat sangat ia sesalkan selama ini. Hal yang membuatnya menyesal setengah mati dan hantui rasa bersalah.