How To Love You

How To Love You
Pembalasan Dendam Hendra



Saat sore hari Hendra berkunjung k erumah Tasya, dengan alasan dia ingin membawakan uang yang harga makanan yang tidak sempat diambil oleh Tasya tadi. Kebetulan saja ada alasan yang bagus, jadi dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menemui gadis pujaannya itu.


Hendra memarkirkan motornya tepat di pekarangan rumah Tasya lalu melangkah menghampiri pintu.


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum!"


Tidak berselang lama, Tantri datang membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam. Eh, Kak Hendra. Pasti mau ketemu sama kak Tasya, ya?" tebak gadis berusia 16 tahun tersebut.


"Tahu aja kamu bocah. Kakakmu ada tidak?" tanya Hendra.


Tantri tertawa kecil. "Ada di kamarnya, Kak. Tapi aku gak yakin kak Tasya mau keluar apa gak."


"Memangnya kenapa?" tanya Hendra penasaran.


"Tadi, waktu kak Tasya pulang abis ngantar pesanan orang. Dia kayaknya kesel ... banget. Kayak abis nangis juga, murung gitu deh pokoknya. Gak tau kenapa? Dia juga gak mau cerita dan sampe sekarang dia belum pernah keluar kamar."


"Oh begitu." Hendra mengangguk-angguk kepalanya mengerti.


Itu pasti ara-gara aku tadi. Aku jadi merasa bersalah. Batin Hendra.


"Duduk dulu, Kak. Sebentar aku coba panggilin, siapa tau kak Tasya mau keluar."


Tantri pun beranjak masuk ke dalam rumah. Sedangkan Hendra duduk di kursi teras menunggu Tasya keluar.


Beberapa menit kemudian, Tasya pun akhirnya keluar.


"Ternyata kamu." Tasya memasang wajah kesal sambil berdiri di ambang pintu.


"Kamu kok jutek banget sih sama tamu?" kata Hendra.


"Kamunya nyebelin."


"Iya, iya. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Janji." Hendra tersenyum sambil mengacungkan jari tengah bersamaan dengan jari telunjuknya.


Tasya tidak menjawab, dia terlihat masih kesal pada Hendra. Dan tidak semudah itu juga dia memaafkan kesalahan pemuda itu.


"Oh iya, aku ke sini karena mau memberikan uang kamu. Berapa semua harga makanannya?" tanya Hendra sambil merogoh dompet yang ada di dalam saku celananya.


"Spesial buat kamu pemecah rekor pelanggan paling menyebalkan sejagat raya, aku kasih harga 500 juta," katanya ketus sambil duduk di kursi paling jauh dari tempat Hendra duduk.


Sepertinya Hendra membuat kesalahan besar yang membuat gadis itu menjadi sangat kesal padanya.


Hendra tertawa. "Kamu ini lucu sekali. Jadi aku ini menyebalkan, ya?"


"Iya lah. Gak nyadar?" Saking kesalnya Tasya tidak mau menatap wajah Hendra.


Melihat ekspresi wajah Tasya, Hendra tersenyum lebar-lebar lalu berdehem. "Ehem. Sepertinya kamu lupa sesuatu."


"Aku? Lupa sesuatu?" Tasya merasa bingung, sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Jangan jutek begitu lah. Apa kamu lupa kata-kataku waktu itu? Hm?" tanya Hendra, sambil menaik turunkan sebelah alisnya.


"Ih apaan sih? Sana pergi, gak usah bayar. Semua akanan itu gratis buat kamu."


Tasya spontan berdiri mengusir Hendra. Sujujurnya ini yang paling dia takutkan. Setiap megingat kata-kata Hendra waktu itu, dia pasti akan merinding. Tidak tahu kenapa?


"Tidak. Aku tidak mungkin tidak membayarnya. Aku bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab."


"Ih ngaco. Sana, cepat pergi, pergi pergi. Gak usah bayar." Tasya mengusir Hendra dengan cara mengibas-ngibaskan tangannya. Gadis itu bisa menangkap maksud dari ucapan pemuda itu barusan.


Hendra berdiri dari duduknya. "Kamu mengusirku lagi?"


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi asal kamu tahu, aku ini orangnya pendendam. Aku tidak terima kamu perlakukan seperti ini. Jadi ... aku sarankan bersiap-siaplah untuk pembalasanku nanti malam," imbuh Hendra lalu berjalan keluar menuju motornya.


"Nanti malam? Hei! Pembalasan apa maksud kamu? Udah gila apa nih orang. Dikasih makanan gratis kok malah mau balas dendam," omel Tasya.


"Tunggu saja pembalasanku nanti malam." Hendra mengedipkan sebelah matanya lalu memberikan kiss bye pada Tasya.


Tasya yang melihat Hendra seperti itu, tentu saja bergidik ngeri. Sontak saja gadis itu berlari masuk ke dalam rumah lalu dengan cepat menutup pintu rumahnya rapat-rapat.


Tasya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia berharap apa yang baru saja dia lihat dan deengarnya barusan hanyalah mimpi belaka.


Gadis itu membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berharap bisa melupakan semua kejadian tadi. Namun sayangnya, seberapa sering pun dia membasuh wajahnya, kedipan mata serta kiss bye Hendra tetap saja terngiang-ngiang di pikirannya, bahkan terlihat sangat nyata.


Aah! Aku bisa gila kalau begini.


Tasya berlari masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu langsung tengkurap di atas tempat tidur lalu menutupi kepalanya dengan bantal. Dia sangat berharap apa yang dia lihat dan dengarkan tadi bisa segera berhenti menghantuinya.


...----------------...


Waktu makan malam pun tiba. Malam ini Tasya tidak membantu ibunya menyiapkan makan malam. Bu Indah hanya dibantu oleh Tania dan Tantri. Semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan.


"Kamu kenapa? Kenapa mukamu kusut begitu?" Pak Rudi bertanya pada Tasya. Tidak biasanya dia melihat wajah putrinya yang seperti itu.


"Gak apa-apa kok, Yah. Tasya cuma sedikit gak enak badan aja," jawab Tasya.


"Yah sudah, makanlah, lalu kembali beristirahat di dalam kamarmu."


"Baik, Ayah."


"Kak Tasya, ada apa tadi kak Hendra datang mencari Kakak?" celetuk Tantri.


Tasya tidak menjawab. Dia hanya menatap adiknya itu dengan sorot mata tajam. Tentu saja Tantri yang ditatap seperti itu menjadi takut bertanya apa-apa lagi.


"Hendra? Hendra anaknya pak Gunawan?" tanya Bu Indah.


"Udah, Bu. Gak usah dibahas, gak penting juga." Tasya berusaha menghabiskan makanannya secepat mungkin, takut ayah dan ibunya kembali bertanya ini dan itu mengenai pemuda menyebalkan itu.


Saat Tasya baru saja menyelesaikan makan malamnya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumah mereka.


Deg.


Wajah Tasya berubah pucat. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang sampai-sampai terasa ingin copot dari tempat persembunyiannya.


Apa jangan-jangan, dia benar-benar datang? Apa sebenarnya yang mau dia lakukan di rumah orang malam-malam begini? Aku harus keluar mengusirnya sebelum orang lain mendahuluiku.


Dengan cepat dan terburu-buru Tasya berjalan keluar hendak membukakan pintu.


Sebaiknya aku mengusir orang itu pergi dari sini secepatnya. Dasar orang menyebalkan.


Begitu Tasya membuka pintu, dia berniat untuk langsung mengusir Hendra.


"Seb ...blamat malam, Om."


Tasya mengurungkan niatnya mengusir Hendra begitu mendapati pak Gunawan yang berdiri di balik pintu tersebut. Sedangkan Hendra berdiri di belakang papanya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya pada Tasya.


"Selamat malam, Tasya. Ayah dan Ibumu ada?" tanya Pak Gunawan.