
Beberapa hari kemudian
Hari itu adalah hari minggu, Tantri sudah membuat janji dengan Anton untuk jalan-jalan ke mall terdekat. Siang itu mereka tidak sengaja bertemu di parkiran.
Anton sangat kecewa saat melihat Tantri datang bersama Miko. Apalagi saat ia melihat keduanya terlihat sangat mesra. Anton pikir ia dan Tantri hanya akan jalan berdua saja. Ternyata Anton salah menduga.
Sakitnya tuh disini. Mereka sebenarnya punya hubungan apa sih? Kok mesra banget. Batin Anton bertanya-tanya sambil memegangi dadanya yang terasa ngilu saat melihat Tantri berjalan ke arahnya sembari gadis itu melingkarkan tangannya di lengan Miko.
"Eh, Ton. Kebetulan banget, yah kita ketemu disini," ucap Tantri sambil tersenyum sumringah karena bertemu dengan sahabatnya itu.
"Iya," jawab Anton singkat sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Ayo masuk!" ajak Tantri. Anton hanya membalasnya dengan anggukan.
Miko dan Tantri berjalan mendahului Anton. Anton yang berjalan beberapa meter di belakang mereka hanya bisa menatap punggung keduanya sambil tersenyum kecut.
Kalau tau begini, mending aku nggak usah datang kesini. Ma! Tolongin Anton ma! Hati Anton ngilu melihat gadis yang Anton sukai mesra-mesraan sama laki-laki lain. Jerit Anton dalam batinnya.
"Ton! Anton!" panggil Tantri saat menoleh dan melihat sahabatnya itu sedang berdiri mematung dan tidak mengekor dibelakangnya.
"Eh, iya, Tri." Teriakan Tantri membuat Anton tersadar dari lamunannya.
"Kenapa kamu berhenti?" tanya Tantri heran.
"Mm ... tali sepatu aku lepas," jawab Anton lalu segera berjongkok dan berpura-pura membenarkan tali sepatunya.
"Oh. Kalo udah selesai, ayo cepetan kesini! Jangan jauh-jauh! Nanti kamu ketinggalan dan kehilangan jejak kita," teriak Tantri.
"Iya, tunggu sebentar!" balas Anton berteriak karena jarak mereka sudah cukup jauh. Setelah berpura-pura memperbaiki tali sepatunya, Anton pun segera berlari menghampiri Tantri dan Miko yang berdiri menunggunya didepan pintu masuk gedung mall.
Mereka pun kemudian berjalan berdampingan memasuki mall tersebut. Pertama-tama, Miko mengajak mereka untuk berbelanja. Setelah itu mereka makan siang karena waktu jam makan siang memang sudah tiba.
Setelah mereka memasuki sebuah restoran didalam mall tersebut, Miko segera memesan makan siang untuk mereka bertiga. Miko tahu betul makanan yang paling enak di tempat itu karena ia memang sering makan di restoran itu. Ia pun memesan makanan tersebut sebanyak 3 porsi untuk mereka nikmati bertiga.
Saat mereka tengah makan, seorang perempuan cantik yang usianya kira-kira 1 sampai 2 tahun dibawah Miko sedang menghampiri mereka. Perempuan itu mengenakan mini dress berwarna putih polos tanpa lengan dengan panjang 1 jengkal di atas lutut. Serta ia juga mengenakan sling bag bermerek warna hitam seharga 1 petak sawah di kampung halaman Tantri.
"Hai, Mik!" sapa Perempuan itu.
"Lyvia," ucap Miko saat melihat mantan kekasihnya itu sedang berdiri di samping mejanya.
"Apa kabar, Mik? Aku kangen banget sama kamu," ucap Lyvia dengan nada manja.
Iris mata Miko dan Tantri bertemu. Keduanya sama-sama terkejut. Tantri menatap Miko seolah meminta penjelasan dari laki-laki yang sedang duduk disampingnya itu.
"Tri, kamu tenang dulu, yah. Aku akan jelaskan semuanya nanti," jelas Miko pada Tantri. Ia tidak ingin Tantri salah paham dan main pergi begitu saja tanpa tahu masalah yang sebenarnya.
Tantri mengangguk. "Memangnya cewek itu siapa, Kak?" tanya Tantri penasaran.
"Bukan siapa-siapa. Hanya mantan yang kehadirannya tidak pernah aku harapkan sama sekali," jawab Miko.
"Mantan?" gumam Tantri. Ia semakin penasaran dengan sosok mantan kekasih Miko tersebut. Miko berdiri dari tempat duduknya. Ia ingin mengusir Lyvia agar segera pergi dari hadapannya.
"Apa maumu?" tanya Miko dengan wajah datar disertai tatapan dingin.
"Kamu tanya apa mauku? Aku mau balikan sama kamu, sayang," jawab Lyvia dengan nada manja. Dengan cepat ia memeluk lengan Miko.
"Jangan mimpi!" ucap Miko sambil melepaskan tangan Lyvia yang baru saja memeluk lengannya.
"Kenapa, Mik. Apa kamu sudah punya penggantiku?" tanya Lyvia. Sejujurnya ia merasa kecewa dengan penolakan Miko.
"Tentu saja!" jawab Miko mantap.
Lyvia melihat ke arah Tantri. Ia kemudian bertanya pada Miko. "Apa cewek ABG itu yang menggantikan posisiku di hati kamu?"
"Ya. Dia calon istriku," jawab Miko dengan mantap. Lyvia tersenyum kecut. Ia berpikir kalau Miko pasti sedang mengada-ngada.
"Jangan bohong kamu, Mik. Kamu pasti cuma pengen bikin aku cemburu, kan? Iya, kan?"
Rasanya Miko ingin sekali tergelak mendengar ucapan Lyvia barusan. Ia kemudian menoleh ke arah Tantri lalu berkata, "Sayang, coba tunjukkan mana cincin tunangan kita."
Cincin tunangan? Batin Tantri kebingungan. Ah iya, aku baru ingat. Mungkin yang kak Miko maksud cincin pemberian mama Melda. Batinnya lagi.
Pelan-pelan Tantri mengangkat tangannya untuk menunjukkan cincin yang melingkar manis di salah satu jari tangannya seraya berkata, "Ini."