How To Love You

How To Love You
Bab 44



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Bagaimana rasa telur dadarnya sayang?" tanya Hendra meminta pendapat istrinya.


"Enak kok sayang. Enak banget malah." jawab Tasya setelah menelan makanannya.


"Beneran nih?" tanya Hendra memastikan.


"Beneran dong sayang. Sebagai bukti, aku akan makan banyak malam ini karena kamu yang masak. Ayo suapi lagi aaa!" seru Tasya lalu membuka mulutnya minta disuapi karena ia memang sudah keroncongan dari tadi.


Hendra sangat bahagia melihat istrinya. Mereka pun makan bersama sampai kekenyangan.


"Sayang, aku kenyang sekali. Masakan kamu mantul." ujar Tasya tersenyum mengacungkan kedua jempolnya lalu mengelus-elus perutnya.


Hendra tersenyum, "Terima kasih sayang. Aku juga, itu karena tadi kamu tidak mau berhenti menyuapiku juga. Yah, jadinya seperti ini, kita sama-sama kekenyangan." balas Hendra. Ia pun juga mengelus-elus perutnya.


"Sayang, nonton yuk." ajak Hendra.


"Ayo! Ide bagus sayang." balas Tasya.


Hendra menggendong Tasya menuju ruang tengah. Hendra menurunkan Tasya di sofa dengan pelan. Mereka lalu duduk di sofa sambil menonton drama korea. Hendra menyandarkan kepala Tasya dibahunya sambil ia merangkul pinggangnya.


"Sayang, sepertinya enak nonton tv sambil ngemil." usul Hendra.


"Sayang. Apa kamu mau aku pergi cari cemilan di kulkas?" tanya Tasya.


"Tidak usah sayang, biar aku saja. Kamu duduk saja disini." jawab Hendra.


"Sayang. Apa tidak apa-apa kamu terus meladeniku seperti ini?" tanya Tasya. Ia merasa tidak enak melihat Hendra terus melayaninya yang seharusnya itu adalah tugasnya.


"Tidak apa-apa sayang, lagian aku juga kasihan melihat kamu tidak nyaman saat berjalan. Jadi biar aku saja, ini juga bukan pekerjaan sulit kok." jawab Hendra.


"Oh iya, kamu suka cemilan apa sayang?" tanya Hendra.


"Aku apa saja yang ada sayang." jawab Tasya.


"Oh oke." Ia pun bergegas memeriksa isi kulkas.


Hendra menemukan Pocky berbagai rasa di kulkas. Ia pun mengambil semuanya. Tak lupa juga ia mengambil dua botol minuman rasa cappucino di kulkas.


"Kenapa banyak sekali sayang?" tanya Tasya.


"Tidak kok. Sayang, ayo kita nonton dikamar saja. Dikamar kan juga ada tv." ajak Hendra.


"Mm yah sudah. Ayo!" ujarnya lalu mematikan tv.


"Apa kamu masih kuat berjalan? Kalau tidak, sini aku gendong." ujar Hendra menawarkan bantuan.


"Tidak. Tidak usah sayang. Aku masih kuat kok." tolak Tasya.


Mereka pun berjalan pelan menyusuri anak tangga satu per satu menuju kamar mereka. Hendra meletakkan semua barang bawaannya di meja lalu duduk bersama Tasya di sofa sambil menyalakan tv dan memilih chanel yang sama seperti yang mereka tonton tadi di lantai bawah. Mereka pun menonton sambil ngemil. Sesekali Hendra menyuapi istrinya dan meminta di suapi pula.


Setelah menonton lebih dari satu jam. Hendra sedari tadi berbaring di sofa berbantalkan paha istrinya.


"Sayang. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Tasya sambil mengelus-elus kepala Hendra.


"Apa sayang? Katakan saja." Hendra balik bertanya.


"Mm ... tapi kamu jangan marah yah sayang." kata Tasya.


"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Hendra penasaran. Ia membalikkan badannya hingga telentang.


"Apa sayang? Ayo cepat katakan saja tidak usah ragu." Hendra semakin penasaran.


"Apakah benar tidak apa-apa jika aku mengatakan ini." batinnya.


"Sayang ... boleh kah aku ..." ucapannya menggantung. Ia masih ragu dan takut untuk mengatakannya. Ia takut Hendra akan tersinggung.


"Apa sayang. Cepat katakan. Kamu membuatku penasaran saja." katanya sambil menggenggam tangan Tasya.


"Baiklah. Aku akan mengatakannya." batinnya sambil menarik napasnya dalam-dalam.


"Sayang, bolehkah aku ... menggunakan alat kontrasepsi?" tanyanya pelan.


"Apa? Alat kontrasepsi?" spontan bangun karena kaget.


Tasya mengangguk.


"Sayang. Aku ingin bertanya dulu padamu. Apakah kamu tidak mau mengandung anakku?" tanya Hendra sambil menggenggam kedua tangan istrinya. Sejujurnya ia merasa sedikit kecewa mendengarkan pertanyaan istrinya.


"Tuh kan dia jadi tersinggung. Padahalkan aku baru mau minta persetujuannya." batinnya.


"Bukan. Bukan begitu sayang. Aku bukannya tidak mau mengandung kita. Tapi aku punya alasan tersendiri. Yah itupun kalau kamu mengizinkannya. Aku kan baru mau minta persetujuanmu." jelas Tasya.


"Apakah alasannya karena kamu masih kuliah?" tanyanya menatap dalam mata istrinya.


Tasya mengangguk. Hendra lalu memeluk istrinya.


"Sayang. Jangan pernah berpikir untuk menggunakan alat penunda kehamilan. Aku ingin kamu hamil anakku secepatnya." jelas Hendra sambil masih memeluk erat istrinya.


"Dengan cara ini kamu tidak akan pernah bisa lari dariku, sayangku." batin Hendra. Ia tahu betul kalau Tasya belum mencintainya.


Tasya tidak bisa berkata apa-apa. Dia tidak bisa membantah keputusan suaminya. Meskipun ia belum mencintainya tapi ia menghargai dan menghormati Hendra sebagai suaminya.


"Sayang. Soal kuliahmu kamu tidak perlu khawatir. Kamu tahu sendiri kan, sekarang segalanya bisa kamu kerjakan dirumah secara online termasuk tugas-tugas kuliahmu." katanya sambil mengelus-elus kepala istrinya. Ia belum melepas pelukannya.


"Benar juga sih. Tapi nanti aku pasti merindukan teman-temanku di kampus." batinnya.


"Baiklah sayang. Kalau itu keputusanmu aku akan menerimanya dengan lapang dada."ujarnya pasrah.


"Benarkah sayang. Aku sangat senang kalau kamu penurut." ucapnya lalu mencium kepala istrinya yang masih belum lepas dari pelukannya.


"Sayang. Aku masih ingin bertanya satu hal lagi." ujar Tasya.


"Apa sayang?" tanya Hendra seraya melepas pelukannya.


"Mm ... apa aku boleh meneruskan bisnis onlineku?" tanya Tasya.


Hendra tersenyum lalu berkata, "Memangnya berapa pendapatanmu dari bisnismu itu?"


"Yah, lumayan sayang. Aku bisa dapat uang jajan dan membiayai kuliahku selama ini dari hasil kerjaku jualan makanan." jelasnya.


"Berapa totalnya?" tanyanya penasaran.


"Yang jelas lebih besar dari gajiku di toko per bulannya, sayang." ujarnya.


"Kalau begitu setiap bulannya aku akan menggajimu sepuluh kali lipat lebih besar dari pendapatan perbulanmu itu. Bahkan lebih kalau kamu memintanya." kata Hendra.


"Yah, berarti tidak boleh lagi yah?" sebenarnya Tasya merasa sedikit kecewa karena tidak bisa melakukan hal yang ia sukai lagi.


"Sayang. Kamu tidak perlu bekerja lagi untuk membiayai kebutuhanmu. Sekarang kan ada aku. Ada aku sebagai suamimu yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan lahir dan batinmu." jelas Hendra.


"Baiklah sayang." Ia menuruti semua keputusan suaminya. Ia berusaha menjadi istri yang baik dan berbakti pada suaminya.