
Sore hari sebelum masuk waktu azhar, Bu Risna sudah sampai di depan pintu kamar Radit bersama Bu Arini dan satu orang gadis cantik yang tidak lain sepupu jauh Radit. Kurang lebih usia gadis itu lebih tua 1 tahun dari Tania, namanya adalah Chelsea. Chelsea sudah lama menyukai Radit, bahkan sejak mereka masih remaja. Tapi Radit hanya menganggapnya sebagai adik dan tidak lebih.
Tania membukakan pintu untuk mereka, ia tersentak kaget saat ia melihat seorang gadis yang tiba-tiba berlari menerobos masuk kedalam kamar Radit.
"Astagfirullah! Siapa ini?" tanya Tania kaget sambil memegang dadanya.
Bu Risna hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keponakannya tersebut yang masih tidak berubah sejak dulu.
"Tania. Kamu jangan marah yah sayang, dia itu Chelsea, adik sepupu Radit, keponakan tante." jelas Bu Risna. Ia tidak ingin Tania salah paham apalagi sampai cemburu. Karena ia tahu jelas kelakuan Chelsea seperti apa.
"Oh begitu yah tante. Mari silahkan masuk. Sini saya bantu." ajak Tania sambil menarik koper yang dibawah oleh Bu Risna dan membawanya masuk.
"Bagaimana keadaan Radit?" tanya Bu Risna yang khawatir pada keadaan anaknya sejak tadi malam.
"Udah mendingan kok Tante. Radit lagi tidur sekarang." jawab Tania.
"Chelseaaaa .... lepasin nggak. Lepasin." teriak Radit saat adik sepupunya tersebut memeluknya dengan erat saat ia lagi enak-enakan tidur.
Mata Tania terbelalak saat melihat adegan didepannya. Entah kenapa ia merasa tidak suka melihat pemandangan tersebut meskipun Bu Risna sudah mengatakan padanya untuk tidak marah.
"Nggak. Nggak mau. Aku kangen banget tau sama kamu Dit." ucap Chelsea masih ngotot tidak mau melepas pelukannya dari Radit.
"Nia ... Nia. Tolongin aku Nia." teriak Radit meminta bantuan Tania.
"Nia? Siapa Nia? Apa cewek tadi?" tanya Chelsea sambil melonggarkan pelukannya.
"Sana jauh-jauh, nanti calon masa depanku marah lagi." usir Radit yang kesal akan kelakuan Chelsea.
"Apa? Calon masa depan? Bukannya aku calon masa depan kamu?" kata Chelsea percaya diri.
"Enak aja. Aku udah punya pacar tau." balas Radit ketus.
"Jadi cewek tadi itu pacar kamu?" tanya Chelsea seraya melepas pelukannya, ia merasakan kekecewaan didalam hatinya.
"Iya. Sana kamu, jauh-jauh. Jangan nempel-nempel." ujar Radit seraya mengibas-ngibaskan tangannya pada pakaiannya yang disentuh oleh Chelsea tadi.
"Siapa suruh kamu jadi cewek centil banget. Ganjen, main peluk-peluk orang gitu aja. Anggun dikit kek gitu jadi cewek." ucap Radit jengkel dengan sikap Chelsea. Chelsea makin cemberut dibuatnya.
"Aku kan cuma begitu sama kamu doang Dit." ucap Chelsea membela diri.
"Elah, bodo amat." Radit ketus.
"Eh, sudah-sudah, kalian berdua ini, baru aja ketemu udah berantem aja." ucap Bu Risna melerai keduanya.
"Dit. Bagaimana keadaan kamu nak?" tanya Bu Risna menghampiri Radit lalu duduk di sampingnya. Sedangkan Chelsea memilih turun dari tempat tidur dan duduk di sofa tunggal di samping tempat duduk Bu Arini dan Tania.
"Alhamdulillah udah baikan ma. Berkat calon menantu mama yang menjaga dan merawat Radit dengan sangat-sangat baik." jawab Radit sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Bu Risna. Radit mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
"Makasih yah Tania. Kamu memang gadis yang baik. Radit memang nggak salah pilih." puji Bu Risna pada Tania.
"Sama-sama tante." balas Tania.
"Huft. Untung aja Tante Risna nggak tau kalo Radit sakit gara-gara aku." batin Tania lega.
"Wah Ris, sepertinya kita akan punya besan yang sama nih. Aku nggak nyangka. Hahaha." timpal Bu Arini sambil terbahak.
"Iya Rin, doain aja yah. Semoga mereka berdua berjodoh." ujar Bu Risna penuh harap karena ia sudah terlanjur menyukai Tania dan memang ia dan suaminya juga akrab dengan kedua orang tua Tania sejak mereka masih muda.
"Aamiin." ucap Bu Arini.
"Makasih ya ma, tante do'anya. Radit juga berharap seperti itu." sambung Radit. Sedangkan Tania tidak menggubris ucapan ketiga orang itu. Ia hanya menunduk karena malu tapi didalam hatinya ia ikut senang juga.
Berbeda dengan Chelsea, kupingnya seperti panas terbakar mendengar percakapan ketiga orang itu.
"Apa yang istimewa sih dari cewek ini? Kenapa semua orang menyukainya. Cantik sih, tapi cantikan aku juga." batin Chelsea sambil melipat kedua tangannya dan memandang tajam ke arah Tania dari atas sampai kebawah secara berulang-ulang.