How To Love You

How To Love You
Bab 232



Beberapa bulan kemudian.


Tasya akhirnya melahirkan anak pertama mereka, seorang bayi perempuan. Sangat cantik dan lucu. Alis, mata, dan bentuk wajahnya sangat mirip dengan Tasya. Hidung, bibir, dan dagunya sangat mirip dengan Hendra. Hendra memberi nama anak pertama mereka dengan sebutan Raisya.


"Sayang Sayang ... anak Papa lucu banget sih." Hendra menciumi baby Raisa yang ada di dalam gendongannya.


Hari ini tepat 2 minggu kelahiran bayi mungil tersebut.


"Assalamu' alaikum!"


Terdengar sapaan salam laki-laki dan perempuan memasuki ruang keluarga. Mereka berdua adalah Radit dan Tania. Setiap hari keduanya selalu datang menjenguk keponakan mereka.


"Wa'alaykum salam," jawab Hendra.


"Eh, Uncle Radit sama Aunty Tania sudah datang, Sayang. Ayo bangun, jangan tidur terus kerjaannya." Hendra mengajak bayinya yang sedang tertidur pulas itu berbicara.


"Sini, Kak. Biar aku yang gendong." Tania ingin mengambil alih baby Raisya dari gendongan Hendra. Hendra pun lalu menyerahkan bayi tersebut dengan sangat pelan.


Baby Raisa menggeliat. "Shuut shuut."


Tania mengayun-ayunkan dengan pelan bayi mungil yang baru saja berada di dalam gendongannya tersebut.


"Dit, Tania, Kakak titip Raisya sebentar, ya?" kata Hendra.


"Siap, Kak. Jangan khawatir," jawab Radit  dan Tania secara bersamaan.


Setelah Hendra naik ke lantai atas, sepasang suami istri itu pun kemudian membawa baby Raisya ke dalam kamarnya.


Beberapa bulan yang lalu saat usia kehamilan Tasya menginjak 4 bulan hingga sekarang, dia dan Hendra memutuskan untuk tinggal di kamar tamu di lantai bawah.


Tania dan Radit duduk di pinggir tempat tidur Raisya sambil terus mengajak baby Raisya berbicara.


"Sayang, Raisya lucu banget, ya?" pancing Radit.


Selama ini dia memang selalu ingin punya anak tapi Tania selalu menolak dengan alasan dia belum siap punya anak.


"Iya dong. Anak siapa dulu?" kata Tania sambil kembali menciumi pipi baby Raisya untuk yang kesekian kalinya.


"Mm ... bagaimana kalau kita promil, Sayang? Kita berdua 'kan sudah lumayan lama menikah, jadi sudah semestinya kita merencanakan untuk punya anak."


"Ck, baru juga beberapa bulan, Dit. Memangnya kalau kita punya anak kamu siap jagain anak kita seperti Kak Hendra yang selalu gantiin kak Tasya begadang buat jagain Raisya?"


"Tentu dong, Sayang. Masa aku gak mau jagain anak sendiri sih."


"Siapa tau, kamu malah ngorok pas anak kita bangun tengah malam."


"Gak bakalan, Sayang. Aku janji akan menjadi suami dan ayah baik untuk kamu dan anak-anak kita kelak." Radit tersenyum lebar di depan istrinya.


"Cih." Tania berdecih lalu tertawa. Dia merasa ekspresi Radit sangatlah lucu ketika meminta anak dari dirinya.


"Kok kamu malah ketawa sih, Sayang? Aku serius loh," kata Radit.


"Kita berdua 'kan bisa belajar nanti, Sayang. Aku janji deh bakalan bantuin kamu begadang, mandiin anak, gantiin popoknya, sama mijitin anak kita. Pokoknya kamu tenang aja, Sayang. Kalau setelah lahiran kamu mau pergi ke salon sama jalan-jalan ke mall aku gak bakalan ngelarang. Kan ada aku yang jagain anak kita."


"Cih, jangan sampe kamu omdo, ya. Gedenya cuma  diomongan doang. Terus pas anak kita lahir kamu udah lupa sama semua ucapan kamu barusan."


"Gak bakalan, Sayang. Aku janji deh sama kamu. Serius." Radit berusaha meyakinkan istri kesayangannya itu.


Rania tersenyum. Dilihat dari ekspresi wajah Radit sih meyakinkan, tapi tidak tahu nanti setelah mereka berdua benar-benar punya anak.


"Kalian lagi bahas apa sih?" tanya Tasya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sepertinya ibu satu anak itu baru saja selesai mandi.


"Ini, Kak, aku ngajakin Nia buat punya anak juga, soalnya tiap hari itu dia selalu mau ke sini jengukin Raisya. Katanya dia kangen terus," jelas Radit pada kakak iparnya tersebut.


"Kakak setuju, Dit. Memang sudah seharusnya kalian memikirkan masalah momongan. Jangan ditunda terus, gak baik. Apalagi Tania cuma ibu rumah tangga biasa, bukan wanita karir. Jadi buat apa menunda punya anak?" kata Tasya, dia membela adik iparnya. Dia tahu persis kalau Radit memang sejak lama menginginkan hal tersebut.


"Dengerin tuh Sayang apa kata Kak Tasya."


"Elah kamu, Dit. Dasar kamu, tukang ngadu." Tania beranjak dari duduknya.


"Dek, gak boleh gitu. Kalo kamu gak siap lahirin anak buat suami kamu, mending Radit disuruh kawin lagi aja deh," canda Tasya.


"Kak Tasya, ih ...." Tania cemberut.


"Gak dong, Sayang. Gak bakalan. Aku sayang banget sama kamu. ." Radit memeluk istrinya dari belakang.


"Aku akan menunggu kamu sampai kamu siap mengandung anak kita."


"Dek, yang tadi itu Kakak serius loh," kata Tasya. Dia semakin ingin memanas-manasi Tania.


Tania berdecak. "Raisya, Mama kamu kok jahat banget sih, Nak?"


"Gak dong, Sayang. Kak Tasya itu cuma bercanda." Radit semakin mengeratkan pelukannya lalu mencium pipi istrinya.


"Dasar suami istri tidak punya akhlak! Lagi puasa nih. Bisa tidak kalian jangan pamer kemesraan di depan kami?" Hendra tiba-tiba saja muncul dan memasuki kamar baby Raisya.


Mereka semua tertawa. Radit lalu melepaskan tangannya yang melingkar di dekat leher istrinya.


"Dit, kalo aku ngelahirin anak kita, kamu kuat gak puasa selama 40 hari?" Tania berbisik pada suaminya.


Radit terdiam sejenak. Alamak. Puasa selama 40 hari? Lama banget.


"Kuat gak kamu kira-kira? Hem?" Kali ini Tania yang menggoda suaminya itu.


"Mm ... kuat-kuatin aja deh, Sayang. Habis lahiran 'kan kamu masih punya tangan."


Radit terkekeh, cubitan Tania langsung mendarat di pinggangnya.


"Dasar genit."