
Kediaman Hendra dan Tasya
Tasya sedang berbaring sendiri di kamarnya. Hendra ada diruang sebelah sedang berolahraga. Ibu hamil itu sedang asyik berselancar di akun media sosial miliknya. Ia melihat kalau Tania sudah melakukan siaran langsung beberapa menit yang lalu. Ia pun kemudian memutuskan untuk menonton siaran langsung adiknya tersebut.
Pertama-tama Tasya melihat adik dan adik iparnya memamerkan cincin pernikahan yang mereka beli tadi di toko perhiasan. Setelah itu Tania menyapa teman-temannya yang mengomentari siaran langsungnya itu.
"Hai Nayla, Citra, Keysha, Putri, Rita, Novi, Dian, Mila, Tika, Soraya, Arumi, Ella, Tiara, Nissa, datang yah ke nikahan kami 2 minggu lagi. Kalian udah dapat undangannya masing-masing, kan?" undang Tania pada teman-teman sekolahnya dulu.
"Eh aku nggak nyangka loh kalian berdua berjodoh. Aku masih ingat loh, Radit pernah di tolak sama Tania dulu waktu kita masih SMP. Wkwkwk." kata Tania sambil membaca komentar salah satu teman SMP-nya dulu. Ia lalu terbahak jika mengingat hal itu.
"Eh, siapa sih tuh yang berani membocorkan rahasia seorang Raditya Rahmat disitu? Awas yah!" ucap Radit sambil terkekeh.
"Apa, Radit pernah nembak Tania di SMP? Kok aku baru tau, yah." ucap Tasya sambil tersenyum sendiri.
"Semoga lancar sampai hari H dan langgeng sampai kakek nenek." ucap Tania lagi membaca komentar salah satu teman mereka.
"Aamiin. Makasih, yah doanya teman-teman." ujar Tania.
"Makasi, yah semuanya." ucap Radit menimpali.
"Eh, ada Tantri juga, Dit. Dia ngajakin kita live bareng," kata Tania.
"Yah udah, sambungin aja." ucap Radit.
Setelah siaran langsung mereka tersambung.
"Haiiiii!" sapa Tantri pada kakak dan calon kakak iparnya itu dengan wajah ceria seperti biasanya.
"Hai juga!" balas Radit dan Tania.
"Lagi dimana Kak?" tanya Tantri.
"Lagi di jalan mau ke Taman Sutra." jawab Tania.
"Oh yah! Aku juga sama Kak Miko lagi OTW kesana." kata Tantri.
"Ck, anak ini, kencan mulu kerjaannya." ucap Tasya di sela ia menonton live kedua adiknya itu.
Tibalah saat Radit menghentikan mobilnya di depan ATM.
"Guys, aku singgah ke ATM sebentar, yah. Jagain calon istri aku," ucap Radit sambil menghadapkan layar ponsel Tania ke wajahnya.
"Oke! Kak Radit nggak usah khawatir." balas Tantri sambil melingkarkan jari jempol dan telunjuknya menandakan OK.
Radit pun kemudian keluar dari dalam mobilnya.
"Kak! Kak Tania singgah di ATM mana sih?" tanya Tantri.
"ATM Xxx di Jalan Veteran." jawab Tania.
"Oh yah. Aku sama Kak Miko juga udah masuk di Jalan Veteran. Berarti kita udah dekat dong, Kak. Aku udah lewat depan PU."
"Berarti kita udah deket banget dong kalo gitu." ucap Tania.
Tiba-tiba Tania di kejutkan oleh sosok laki-laki berpakain serba hitam yang tanpa permisi membuka pintu mobil disampingnya.
"Astagfirullah! Kamu siapa?" tanya Tania. Tampak jelas bahwa ia begitu terkejut dan ketakutan.
"Eh, ada apa itu? Apa yang terjadi?" ucap Tasya yang masih setia menonton live adik-adiknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Tantri.
"Kak Tania! Kak!" panggil Tantri kemudian.
"Astagfirullah hal adzim! Kak Tania di culik." ucap Tantri saat melihat Tania dibius oleh laki-laki itu.
"Kamu bilang apa tadi? Tania diculik," tanya Miko yang ada disamping Tantri.
"Apa? Tania diculik!" Tasya begitu terkejut mendengar adiknya di culik. Dengan cepat ia bangun dari pembaringannya kemudian berlari menghampiri suaminya yang masih asyik berolahraga.
"SAYAAAAAANG! KAK HENDRAAAAA!" teriak Tasya sambil terus berlari. Hendra yang mendengar teriakan istrinya yang tidak pernah sebelumnya segera menghentikan aktifitasnya.
"Astaga! Apa yang terjadi? Istriku jangan sampai kenapa-napa." ucap Hendra yang panik mendengar teriakan istrinya. Ia pun kemudian segera berlari menuju pintu.
"Aaargh!" pekik Tasya terkejut. Hampir saja mereka tabrakan.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa perutmu sakit?" tanya Hendra sambil memegangi pundak istrinya. Tasya hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk suaminya erat-erat. Ia terus-terusan saja menangis.
"Sayang, jawab! Kamu kenapa?" tanya Hendra penasaran sekaligus khawatir.
"Ta-nia," jawab Tasya disertai isak tangisnya.
"Tania, Tania diculik." jawab Tasya lalu tangisannya kembali pecah.
"Apa, diculik? Kamu tau darimana?" tanya Hendra lagi sambil melepas pelukannya lalu memegang kedua bahu istrinya. Tasya tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia begitu shock. Ia hanya menunjukkan video yang ia tonton tadi.
"Sayang, kamu tenang yah! Tania pasti akan baik-baik saja." ucap Hendra mencoba menenangkan istrinya. Hendra memapah istrinya menuju kamar mereka. Ia sangat mengkhawatirkan janin yang ada didalam kandungan istrinya itu. Setelah membaringkan istrinya ditempat tidur, Hendra pun kemudian menonton video itu sampai selesai.
"Sayang kamu jangan terlalu banyak pikiran, yah. Pikirkan juga anak kita. Kamu tidak mau kan anak kita sampai kenapa-kenapa didalam sini." ujar Hendra sambil mengelus lembut perut istrinya.
Tasya menggelengkan kepalanya lalu menyeka ujung matanya yang sesekali ditetesi buliran bening.
"Yang penting, yang harus kamu lakukan sekarang adalah berdo'a, mendo'akan keselamatan Tania. Serahkan semuanya pada Yang Maha Pelindung." kata Hendra yang juga duduk di pinggir ranjang. Tasya mengangguk mendengarkan ucapan suaminya.
"Sayang, aku tidak habis pikir, siapa yang tega melakukan hal itu pada Tania? Yang aku tau, dari kami kecil, dia tidak suka cari masalah dengan siapa pun. Selama ini, dia juga tidak pernah bermusuhan dengan orang mana pun."
"Sudahlah, sayang. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kasihan anak kita diperut kamu. Kita juga belum tahu apa motif pelaku melakukannya. Apakah orang itu melakukannya karena dendam atau karena ingin meminta tebusan. Yang jelas, aku sudah lapor polisi. Video ini yang akan menjadi bukti nanti. Aku sudah mengunduhnya sebelum videonya hilang." jelas Hendra sambil menggenggam ponsel milik istrinya.
Tasya menunduk, ia mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit buncit. Melihat istrinya melakukan hal itu, Hendra lalu mendekati istrinya kemudian ikut melakukan hal yang sama lalu menciumi perut istrinya cukup lama.
"Sayang, kamu sudah telpon Radit?" tanya Tasya sambil mengelus kepala suaminya.
"Oh iya, Radit. Kenapa aku bisa lupa?" ucap Hendra lalu segera bangkit dari posisinya. Ia beranjak mengambil ponsel pintarnya yang ia letakkan diatas meja sebelum ia berolahraga tadi.
Tut tut tut.
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Wa'alaikum salam. Kamu dimana sekarang?" tanya Hendra.
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Baiklah."
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Oke! Aku akan telpon Miko sekarang. Kamu hati-hati, Dit. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai kamu terluka." pesan Hendra.
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
Setelah panggilannya terputus dengan Radit, Hendra pun segera menghubungi Miko.
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Lo dimana sekarang, Mik?"
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Oke! Gue akan segera kesana."
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Tantri ada sam Lo, kan? Jaga dia baik-baik,"
"... ... ... ... ... ... ... ... ... ..."
"Oke, oke! Lo tenang aja, Gue udah lapor polisi kok."
Setelah sambungan telponnya terputus dengan Miko, Hendra pun segera menghampiri istrinya.
"Sayang, aku mau menyusul mereka. Kamu jaga diri kamu dan anak kita baik-baik yah dirumah. Jangan kemana-mana! Aku akan memanggil Bi Ani menemani kamu disini kalau kamu takut." titah Hendra pada sang istri.
"Tapi sayang, aku juga mau ikut."
"Jangan, sayang. Ini sangat berbahaya, kamu tidak boleh ikut." balas Hendra. Tasya menundukkan wajahnya dalam-dalam mendengar kata-kata suaminya.
"Hei, kemana istriku yang cantik dan penurut itu?" tanya Hendra sambil memegang dagu istrinya. Ia mencoba menghibur istrinya yang terlihat sedih.
"Jangan begitu dong, sayang! Bagaimana aku bisa pergi membantu mencari Tania kalau kamu sedih begini?"
"Huhuhu." Tasya menangis lalu memeluk suaminya.
"Hei, kenapa kamu menangis, sayang?" tanya Hendra sambil mengelus lembut punggung Tasya.
"Aku, aku tidak mau jauh-jauh dari kamu, sayang. Aku mau didekat kamu terus," jawab Tasya dengan nada merengek.
"Astaga! Ternyata itu alasannya. Aku pikir kamu sedih karena aku melarangmu ikut untuk mencari Tania." batin Hendra tersenyum melihat tingkah istrinya yang kelewat manja padanya.
Setelah Hendra mengeluarkan berbagai jurus, untuk membujuk sang istri, Tasya pun akhirnya menurut apa kata suaminya. Hendra juga tidak mau buang-buang waktu lagi. Setelah berganti pakaian, ia segera menyusul Radit, Miko, dan juga Tantri untuk mencari Tania.