How To Love You

How To Love You
Mencari Tasya



Setelah berhasil mengumpulkan nyawa untuk bangkit, Fathur pun bergegas mencari Tasya. Pertama-tama dia pergi mencari Tasya di kampus. Namun setelah sekian banyak teman dekat Tasya yang dia tanyai, tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan gadis itu. Jawaban mereka semua kompak, bahwa Tasya tidak masuk hari ini.


Usai mencari Tasya di kampus, Fathur pun segera mencari Tasya ke tempat-tempat yang sering mereka berdua kunjungi. Namun hasilnya sama saja, Tasya tidak ada di mana pun.


Lebih baik aku pergi mencarinya di rumahnya saja.


Sesampainya di tempat tujuan.


Tok tok tok!


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikum salam," jawab Bu Indah, sambil membuka pintu.


"Eh, Nak Fathur. Mari silahkan masuk," ajak Bu Indah.


"Makasih, Tante." Fathur pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu, tepatnya di seberang meja bu Indah.


"Oh iya, Tasya nya ada Tante?" tanya Fathur.


"Loh, hari ini 'kan Tasya kuliah. Bukannya tadi pagi Tasya dijemput sama Nak Fathur?" Bu Indah terlihat kebingungan.


"Mm ... begini Tante, tadi pagi saya membawa Tasya ke rumah. Terus saya tinggal sebentar untuk ganti baju. Setelah saya turun, Tasya sudah pergi dan tidak menunggu saya. Saya jadi khawatir sama dia, jadi tadi saya pergi mencarinya di kampus tapi tidak ada. Saya juga sudah pergi mencarinya ke tempat-tempat yang sering kami kunjungi tapi saya juga tidak menemukannya di mana pun. Jadi saya pikir kalau Tasya sudah pulang ke rumah Tante," jelas Fathur.


"Loh, terus Tasya ke mana dong? Tasya juga tidak ada dirumah."


"Saya juga tidak tahu Tante, makanya saya datang ke sini mencarinya."


"Apa mungkin dia pergi ke rumah temannya, Nak Fathur?"


"Mungkin saja seperti itu, Tante."


"Apa ada sesuatu hal yang ingin Nak Fathur sampaikan pada Tasya? Nanti Tante yang akan menyampaikannya kalau dia sudah pulang."


"Mm ... saya memang ada urusan yang sangat penting yang ingin saya bicarakan dengan Tasya, Tante, tapi saya ingin menyampaikannya sendiri secara langsung, bukan lewat perantara."


"Ah, baiklah kalau begitu. Tante bisa mengerti."


"Kalau begitu saya permisi dulu ya, Tante."


"Loh, tidak minum dulu Nak Fathur?"


"Tidak usah tante. Terima kasih. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Hati-hati."


"Iya, Tante."


Fathur pun pergi meninggalkan kediaman Tasya dan keluarganya. Pemuda itu melajukan mobilnya tanpa ada tujuan yang jelas. Dia tidak tahu harus pergi kemana lagi mencari Tasya. Nomor gadis itu pun tidak aktif jadi tidak bisa dihubungi.


Tiba-tiba Fathur teringat kalau Tasya masih punya satu sahabat dekat lagi.


"Ah Dewi, iya benar Dewi. Aku harus pergi menemuinya di toko." Fathur segera melajukan mobilnya menuju toko Mentari yang tidak jauh dari tempat itu.


Sesampainya di toko.


"Dewi!" panggil Fathur.


"Eh, Kak Fathur. Tumben datang kemari," gumam Dewi. Gadis itu segera meninggalkan pekerjaannya yang saat itu sedang menyusun barang yang baru masuk ke dalam lemari toko.


"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya Dewi.


"Dewi, aku sedang mencari Tasya. Apa kamu tahu di mana dia sekarang?" tanya Fathur dengan penuh harap. Dia sangat berharap Dewi mengetahui keberadaan gadis yang dicintainya itu.


Ke mana dia?


"Oh, begitu, ya? Makasih ya Dewi."


Fathur berjalan meninggalkan toko dengan langkah lesu. Entah ke mana lagi dia harus pergi mencari Tasya?


...----------------...


Kediaman Tasya dan keluarganya.


Tok tok tok!


"Nak ..." panggil bu Indah dengan suara lembut.


"Apa dia sudah pergi Bu?" tanya Tasya di balik pintu kamar. Suaranya serak karena sudah terlalu lama menangis.


"Iya, dia sudah pergi. Ayo keluar. Kamu sudah seharian loh tidak makan apa-apa," bujuk bu Indah.


"Aku gak lapar, Bu."


"Tasya ... keluar lah, Nak. Nanti kamu bisa sakit kalau begini terus."


"Nanti saja, Bu. Tasya masih ingin menyendiri."


"Ya sudah. Tapi jangan terlalu lama mengurung diri di dalam kamar, Nak. Tidak baik."


"Iya, Bu. Tasya tau."


Dengan perasaan sedih dan khawatir, bu Indah lalu pergi dari depan pintu kamar putrinya. Ini sudah yang kesekian kalinya dia membujuk putrinya itu tapi belum berhasil juga.


Maafkan Tasya bu karena Tasya menyuruh ibu berbohong. Batin Tasya, sambil masih terus menangis. Hingga detik ini air matanya masih belum bisa berhenti mengalir juga.


Semenjak pulang ke rumah, gadis itu belum pernah keluar kamar. Dia terus mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak pernah berhenti menangis. Kepalanya sampai terasa sakit karena terus-terusan menangis. Ini pertama kalinya dia mengalami sakit hati karena cinta. Perasaan cinta yang begitu dalam, menyebabkan sakit yang begitu dalam pula. Pengalaman pertama yang begitu menyakitkan. Semoga tidak menimbulkan trauma ke depannya.


...----------------...


2 minggu kemudian.


Hari-hari berlalu tanpa sehari pun dilewatkan Fathur untuk mencari keberadaan Tasya. Bahkan pemuda itu pernah menerobos masuk ke dalam rumah dan menggedor-gedor pintu kamar Tasya. Bu Indah sampai di buat marah lalu mengusirnya pergi.


Bu Indah malu kalau sampai ada tetangga yang mendengar, pasti mereka akan jadi bahan gunjingan ibu-ibu tukang gosip yang ada di sekitar rumahnya. Bu Indah tidak mau hal itu terjadi pada keluarganya.


Setelah setengah bulan Tasya lalui dengan mengurung dirinya dikamar. Dia hanya keluar sebentar saja untuk makan dan buang air karena kamarnya tidak dilengkapi dengan toilet.


Saat ini gadis itu terlihat jauh lebih kurus dari biasanya. Matanya sembab karena sudah terlalu lama menangis. Entah sudah berapa liter air mata yang dia tumpahkan menangisi takdir yang tidak berpihak pada dirinya dan Fathur.


Setelah merasa cukup lama tinggal di dalam rumah, Tasya akhirnya memutuskan untuk pergi ke kampus. Tugas-tugas kampusnya sudah menumpuk. Ia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan. Hidup bukan hanya tentang cinta. Tapi menyangkut bagaimana dirinya di masa depan. Dia tidak ingin dirinya dianggap remeh dan dipandang sebelah mata lagi oleh orang lain. Dia harus bangkit dan memulainya dari awal lagi.


Perasaannya sedikit lebih lega saat dia berusaha mengikhlaskan Fathur untuk wanita lain. Toh mencintai juga 'kan tak mesti harus memiliki. Mungkin mereka memang ditakdirkan untuk tidak berjodoh, pikirnya.


Pagi ini Tasya ingin berangkat ke kampus. Karena ibu dan ayahnya sedang keluar, serta kedua adiknya sedang pergi ke sekolah, dia pun lalu mengunci pintu rumahnya dari luar.


Namun tiba-tiba saja sebuah mobil Tayato Alphord putih berhenti tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang sangat berkelas turun dari mobil tersebut. Dia adalah ibu Susi, mamanya Fathur.


Bu Susi melangkah memasuki pekarangan dan berjalan dengan angkuhnya ke arah Tasya yang masih berdiri mematung di teras rumahnya.


Tasya menyambutnya tanpa ekspresi. Mungkin karena sudah terlalu lama berlarut dalam kesedihan, gadis itu bahkan sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.


"Tasya, Tante mau bicara sebentar sama kamu," kata Bu Susi.


"Silahkan duduk, Tante." Tasya mempersilahkan bu Susi untuk duduk di kursi yang tersedia di teras.