How To Love You

How To Love You
Bab 64



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Di perjalanan pulang, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Tania. Ia hanya terdiam sambil mengarahkan pandangannya keluar. Ia sangat marah dan kesal atas perlakuan Radit padanya.


Sesekali Radit melirik ke arahnya. Radit juga bingung bagaimana cara menjelaskan kelancangannya tadi. Radit pun memikirkan alasan untuk meminta maaf agar Tania mau memaafkannya.


"Maaf." ucap Radit.


Tania tidak menjawab, ia hanya diam saja sambil membuang mukanya melihat ke arah jendela mobil.


"Aku minta maaf." ucap Radit lagi.


"Tania. Aku minta maaf sama kamu."


"Aku minta maaf karena sudah lancang menyentuhmu. Aku hanya bermaksud ingin melindungimu."


"Nia, aku beneran minta maaf. Aku hanya ingin melaksanakan pesan Kak Tasya yang menitipkanmu dan memintaku untuk menjagamu saat kamu sedang bersamaku."


"Nia please, ngomong dong."


"Nia."


"Tania."


Sudah hampir 1 jam Radit melajukan mobilnya, yang terdengar hanya maaf yang keluar dari bibir ranumnya. Entah mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kali Radit mengucapkan kata maaf pada Tania. Namun Tania tetap tidak menggubris permintaan maaf Radit.


Karena putus asa melihat sifat Tania yang sungguh keras kepala, Radit pun menghentikan mobilnya dipinggir jalan yang gelap, sunyi dan sepi. Tania pun terpaksa membuka suara karena ia merasa takut dan khawatir.


"Hei. Ke kenapa berhenti? Ayo jalan!" seru Tania panik.


"Aku nggak akan melajukan mobilnya kalau kamu belum memaafkanku." balas Radit.


"Kalau aku nggak mau kamu mau apa, hah?" tantang Tania. Ia semakin kesal dengan Radit yang tiba-tiba menghentikan mobilnya dijalan yang gelap dan sepi.


"Yah kita akan tetap disini. Kalau perlu kita bermalam disini kalau kamu tetap bersikukuh pada pendirianmu itu." jawab Radit santai.


"Kamu gila yah? Awas! Jangan macam-macam padaku!" seru Tania memperingati Radit.


"Siapa yang mau macam-macam? Aku hanya ingin satu macam. Aku hanya ingin kamu memaafkanku dan melupakan semua kejadian tadi." jelas Radit.


"Hei tidak semudah itu Radit. Kamu sudah berani menyentuhku. Apalagi itu didepan Kak Yuda. Kamu harus tanggung jawab." jelas Tania.


"Baik. Aku akan bertanggung jawab. Karena aku sudah menyentuhmu, jadi ... besok aku akan menyuruh orang tuaku untuk melamarmu untukku. Aku akan segera menikahimu. Oh iya, aku baru ingat kalau sekolah menengah atas sudah mengumumkan hasil kelulusan siswanya ditanggal seperti ini. Berarti kamu sudah lulus kan? Berarti boleh dong kita menikah? Aku juga tidak masalah kalau harus menikah muda denganmu." cerocos Radit enteng.


Mata Tania terbelalak kaget mendengar ucapan Radit. Sungguh, bukan itu yang ia maksud.


"Auwh ... Nia, kamu merusak gendang telingaku." kata Radit sambil menggosok-gosok telinganya. Ia mengepalkan tangannya membuat sedikit lubang ditengahnya lalu meniupnya dan menempelkan pada telinganya.


"Biarin." ucap Tania ketus.


"Lalu tanggung jawab yang seperti apa yang kamu mau?" tanya Radit.


"Kamu harus menjelaskan semuanya pada Kak Yuda. Kalau semua ucapanmu tadi itu tidak benar." jelas Tania sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


"Oh jadi karena Yuda kamu sampai semarah ini padaku? Cih." ucap Radit sambil menyeringai sinis.


"Kenapa? Kamu nggak mau?" tanya Tania.


"Kalau soal itu, aku minta maaf. Aku nggak bisa. Sudah pejamkan matamu. Kita habiskan malam indah kita disini berdua." kata Radit dengan santainya. Ia lalu mengatur kursi yang didudukinya menjadi setengah datar, setelah itu ia merebahkan tubuhnya diatas kursi kemudi.


"Hoaam ... capek juga yah lama-lama nyetir." gerutu Radit sambil menggeliatkan tubuhnya.


"Radit!" seru Tania.


Radit pura-pura tidur.


"Dit. Radit! Bangun dong. Ayo bangun!" seru Tania. Ia benar-benar ketakutan kalau harus bermalam didalam mobil berdua dengan Radit.


"Hm ... tidurlah Nia, besok pagi baru kita pulang. Nikmatilah malam ini berdua denganku." ujar Radit sambil masih memejamkan matanya.


"Hei Dit, kamu gila yah. Bagaimana kalau ada warga yang menggerebek kita disini dan mengira kita berbuat yang nggak-nggak. Kan masalahnya jadi ribet nanti." ujar Tania sambil menggoyang-goyangkan badan Radit. Ia sangat takut kalau seandainya apa yang ia khawatirkan benar-benar terjadi.


"Baguslah. Ujung-ujungnya mereka akan memintaku menikahimu." ucap Radit santai dengan mata yang masih terpejam.


"Radit. Jangan bercanda! Ayo bangun, kita pulang yah. Aku sudah memaafkanmu. Ayo kita pulang sekarang. Aku takut disini. Disini sangat gelap." rengek Tania sambil menarik-narik lengan Radit agar Radit mau bangun.


Radit membuka matanya lalu mengubah posisinya menjadi duduk dan menghadap Tania.


"Benarkah kamu sudah memaafkanku? Kamu sudah nggak marah lagi padaku?" tanya Radit sambil terus mendekatkan dirinya kearah Tania.


"I iya. A aku sudah memaafkanmu dan a aku su sudah nggak marah lagi." jawab Tania terbata karena gemetar dan takut.


"Aku sangat kecewa, karena sepertinya kamu tidak mau menghabiskan malam ini bersamaku." ucap Radit sambil terus menyondongkan badannya ke arah Tania.


Tania semakin ketakutan dibuatnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, badannya jadi gemetar dan dingin. Ia berusaha ingin kabur, tapi sayang Radit sudah mengunci pintu mobilnya. Ia takut kalau Radit berani berbuat tidak senonoh padanya.


Tania memasukkan tanggannya kedalam tas kecilnya, ia berusaha mengambil smartphone yang ada didalam tasnya itu. Ia ingin menelpon seseorang untuk ia mintai bantuan untuk menolongnya. Tapi setelah ia mengeluarkan handphonenya, tiba-tiba handphone itu terjatuh karena tangan Tania gemetaran saat memegang handphonenya.


"Dit. Jangan lakukan ini. Aku mohon. Aku akan berteriak kalau kamu ..." pinta Tania seraya menyandarkan tubuhnya dipintu mobil. Ia sudah sangat ketakutan. Ia sudah tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.


Radit semakin mendekatkan tubuhnya pada Tania, sehingga terlihat seperti menindihnya. Tania yang menyadari itu memilih menutup matanya dengan kedua tangannya. Tangisannya pun pecah saking takutnya.