How To Love You

How To Love You
Bab 92



1 Jam kemudian,


Setelah mandi 2 kali, Tuan dan Nyonya rumah itu pun akhirnya turun ke lantai bawah untuk makan siang dan menyapa tamunya yang ia tinggal selama lebih dari 2 jam lamanya.


Radit dan Tania sedang duduk di ruang keluarga. Mereka tengah menikmati cemilan yang mereka ambil di kulkas sembari menonton televisi.


"Kalian udah makan?" tanya Tasya pada Radit dan Tania.


Sekarang Hendra sudah duduk di meja makan sambil menunggu istrinya yang keluar menyapa tamunya sebentar.


"Udah kak." jawab Radit dan Tania bersamaan seraya menoleh ke arah Tasya.


"Eh, jidat kamu kenapa Dit? Perasaan tadi waktu kamu dateng, kamu baik-baik aja?" tanya Tasya yang salah fokus pada perban di jidat Radit.


"Ng, nggak apa-apa kok kak. Tadi aku kepeleset, terus jatuh. Jidat aku kebentur di pinggir meja. Jadinya begini deh." bohong Radit. Ia tidak ingin orang lain tahu kalau Tania yang sudah mendorongnya hingga jatuh dan terluka.


"Astagfirullah. Lain kali kamu hati-hati yah Dit. Oh iya, kalau gitu kakak masuk makan dulu yah." kata Tasya lalu beranjak masuk ke ruang makan dimana Hendra sudah menunggunya disana.


"Iya kak, silahkan." ujar Tania dan Radit.


"Kenapa kamu bohong Dit?" tanya Tania setelah Tasya sudah hilang dari pandangannya


"Yah nggak apa-apa. Oh iya Nia. Kenapa sih Kak Tasya panggil kita kesini? Tapi kok kesannya kita dicuekin gitu yah. Yang punya rumah malah sibuk bikinin kita ponakan." ucap Radit sembari terkekeh lalu memasukkan keripik ke dalam mulutnya.


Tania ikut tertawa mendengar ucapan Radit, "Bisa aja kamu Dit. Kak Tasya manggil kita kesini pasti ada kaitannya dengan hubungan kita." jelas Tania lalu memasukkan ice cream ke dalam mulutnya.


"Menurut kamu, Kak Tasya setuju nggak sih sama hubungan kita?" tanya Radit.


"Nggak tau. Kita liat aja nanti. Kalo menurut aku sih, mungkin Kak Tasya bakalan nyuruh kita mengakhiri hubungan ini. Soalnya dia tuh dulu nggak pernah mau pacaran. Jadi, aku pikir dia bakalan nyuruh aku ngikutin jejaknya, secara aku kan adiknya." jawab Tania santai lalu kembali memakan ice creamnya.


"Apa? Kakak ipar mau nyuruh kita putus? Sumpah, jahat banget kalo emang bener kayak gitu. Kakak ipar pasti nggak tau aja, gimana sulitnya aku buat dapetin kamu." ujar Radit yang tiba- tiba jadi galau.


Terlihat jelas kekhawatiran dan kesedihan di raut wajahnya, ia tidak rela kalau harus putus dengan gadis pujaan hatinya tersebut.


"Santai aja Dit. Aku kan tadi cuma beropini. Bener atau nggaknya, yah kita tunggu aja Kak Tasyanya keluar. Dan ... kamu jangan pasang muka begitu dong, nggak enak banget liatnya." ujar Tania mencoba menghibur Radit.


Radit terdiam, ia seperti memikirkan sesuatu. Ia lalu berpindah tempat duduk dan duduk disamping Tania.


"Nia. Kamu tau kan perasaan aku ke kamu itu gimana. Aku nggak bisa santai, aku nggak bisa tenang, pikiran aku kacau setelah aku mendengar ucapan kamu barusan. Aku mohon Nia, bantu aku berjuang mempertahankan hubungan kita. Yah, aku mohon sama kamu sayang." pinta Radit dengan wajah sayu sambil menggenggam erat tangan Tania.


"Dit, jangan pegang-pegang ah. Nanti kalau Kak Tasya liat bagaimana?" ujar Tania sambil menarik tangannya yang digenggam oleh Radit.


Radit kembali menggenggam tangan Tania yang sempat telepas tadi,


"Nia. Aku mohon. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak sanggup kehilangan kamu." pinta Radit dengan wajah memelas.


Tania juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesakdan sedih melihat Radit yang memohon-mohon seperti itu padanya. Seolah-olah ia ikut merasakan kesedihan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh Radit.


"Tetap aja Nia, aku nggak bisa tenang. Bagaimana kalo ..." Radit.


"Ehm." Hendra berdehem membuat ucapan Radit terhenti. Hendra pun lalu menghampiri mereka dan duduk diseberang meja keduanya.


"Ada apa Dit? Kenapa kamu nempel-nempel begitu, hah?" tanya Hendra galak sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.


Radit pun lalu berpindah tempat duduk ke samping Hendra. Ia mau memohon pada kakak sepupunya itu agar mau membantunya mempertahankan hubungannya dengan Tania.


"Kak, Kak Hendra. Tolong bilang sama kakak ipar. Jangan suruh kami putus yah. Aku sayang banget sama Tania kak. Please." pinta Radit pada Hendra. Hendra cuma membelalakkan matanya mendengar ucapan adik sepupunya tersebut.


"Idih, ini anak, kenapa jadi bucin begini sih?" ucap Hendra geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adik sepupunya tersebut.


"Kak, yah. Aku mohon kak. Aku sayang banget sama Tania kak. Tolong bantu aku kak. Kak Hendra." ucap Radit merengek pada Hendra.


"Memangnya yang mau nyuruh kalian putus itu siapa? Hah. Tasya cuma mau nyuruh kamu jaga Tania baik-baik, nggak nyuruh kalian putus." tegas Hendra yang tidak tahan melihat tingkah konyol Radit.


"Hah, seriusan kak? Kak Hendra nggak bohong kan?" tanya Radit memastikan.


"Iya, serius." jawab Hendra.


"Ah, kalau itu mah tanpa disuruh pun aku sudah melakukannya kak." ucap Radit yang kembali bersemangat seperti semula.


"Baguslah, aku senang kalau kamu bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Tadinya, Kakak ipar kamu memang mau nyuruh kalian putus, tapi ..." jelas Hendra menggantung.


"Tapi apa kak? Loh terus, yang kakak bilang barusan itu apa?" tanya Radit bingung.


"Iya, itu memang benar. Tapi itu setelah aku bujuk, dia pun akhirnya setuju. Dan mungkin karena dia juga sudah kenal baik dengan Om Rahmat dan Tante Risna. Makanya, dia semakin yakin untuk merestui hubungan kalian." jelas Hendra.


"Ah, makasih banyak Kak. Kak Hendra emang kakak aku yang paling the best." ucap Radit senang sambil memeluk Hendra.


"Ih, apa-apaan sih kamu Dit. Lepasin nggak, aku nggak suka tau dipeluk-peluk sama laki-laki." ucap Hendra berusaha melepas pelukan Radit darinya.


"Hehe. Maaf kak. Aku tadi cuma seneng banget." ujar Radit.


Tania hanya terkekeh melihat kelakuan kedua laki-laki didepannya.


"Tania. Kenapa sih kamu mau pacaran sama laki-laki alay kayak gini?" canda Hendra bertanya pada Tania.


"Ih, kok Kak Hendra jahat banget sih sama adik sepupu sendiri." protes Radit.


"Sebenarnya, aku cuma terpaksa kak jadi pacarnya Radit." jawab Tania seraya terkekeh.


Hendra ikut terbahak mendengar jawaban Tania. Ia pikir Tania cuma bercanda untuk menggoda Radit. Padahal, pada kenyataannya memang begitu. Radit hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan Tania yang memang apa adanya.