
Usai sarapan, Radit pergi ke toko. Sedangkan Tania memilih menyibukkan diri didapur untuk menjalani perannya sebagai seorang istri di hari pertama setelah pernikahan mereka. Ia sedang memasak makan siang untuk mereka berdua nanti.
Seperempat jam setelah kepergian Radit ke toko, ia pun kembali dengan membawa selembar kertas yang sudah ia laminating. Kertas itu bertuliskan satu buah kata dengan ukuran font yang sangat besar dan tebal.
Sebelum masuk, terlebih dahulu Radit menempelkan tulisan itu di pintu depan rumahnya menggunakan lakban bening diseluruh sudut kertas.
"Oke selesai!" ucapnya sambil tersenyum senang dan masuk kedalam rumahnya sambil bersiul-siul. Ia segera menghampiri istrinya yang masih sibuk beraktifitas di dapur.
"Ada apa, sayang? Kok kelihatannya kamu senang sekali," tanya Tania yang heran melihat tingkah suaminya sepulang dari toko.
"Nggak, nggak ada apa-apa kok, sayang." jawab Radit.
"Kamu abis ngapain di toko,"
"Cuma jalan-jalan."
"Oh."
***
Kediaman Hendra dan Tasya, Pukul 10.00
"Sayang, kamu jadi belanja kan hari ini?" tanya Hendra pada istrinya yang sedang menyisir rambutnya di depan meja riasnya.
"Iya, sayang. Sebentar, aku lagi siap-siap." jawab Tasya.
"Yah sudah, aku tunggu kamu dibawah yah,"
"Iya, sayang."
Di ruang makan, Miko dan Tantri sedang duduk sambil mengobrol bersama Bi Ani dan Bi Laila. Bi Laila adalah seorang pembantu yang baru bekerja di rumah besar itu sekitar lebih dari 1 bulan yang lalu menggantikan si Santi. Usianya kurang lebih sama dengan Bi Ani.
"Saya permisi ke belakang dulu, yah Tuan Miko, Non Tantri. Saya masih ada kerjaan dibelakang." pamit Bi Ani setelah cukup lama mengobrol.
"Iya, Bi. Silahkan!" jawab Tantri.
"Silahkan, Bi." balas Miko. Bi Ani pun segera beranjak ke belakang menyusul Bi Laila yang sudah lebih dulu kesana.
"Kak Miko!" panggil Tantri.
"Hem, apa?" sahut Miko.
"Aku udah minta ijin sama, Ayah sama Ibu,"
"Terus mereka bilang apa? Apa mereka mengijinkan?" tanya Miko penasaran. Ia sangat berharap Pak Rudi dan Bu Indah mengijinkan Tantri untuk berangkat ke Kota SKG untuk magang di restorannya.
"Iya." jawab Tantri disertai anggukan.
"Yes!" ucap Miko spontan saking senangnya.
"Berarti ke depannya kita akan lebih dekat lagi. Aku sudah tidak sabar menunggu waktu itu tiba." batin Miko.
"Loh, kok, Kak Miko kelihatannya lebih senang dari aku," ujar Tantri yang heran melihat tingkah Miko yang menurutnya sedikit berlebihan.
"Ah, mm, akuuu, akuuuu," jawab Miko sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Tidak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya. Syukur-syukur kalau Tantri juga suka sama aku. Kalau tidak, bisa kacau semuanya." batin Miko. Ditengah kebingungannya menjawab pertanyaan Tantri, untunglah Hendra datang dan menghampiri mereka.
"Nggak ngapa-ngapain kok, Kak. Cuma ngobrol aja," jawab Tantri.
"Oh." ucap Hendra lalu segera mengambil tempat duduk diseberang keduanya.
"Lo mau kemana, Hend? Tumben masih pagi Lo sudah rapi aja," tanya Miko.
"Gue mau ngantar istri Gue belanja." jawab Hendra.
"Tumben, Lo mau jalan tapi nggak ngajak-ngajak." ujar Miko.
"Kalau kalian mau ikut, yah silahkan," balas Hendra.
"Gue baru mau ikut kalo Lo yang nyetir." kata Miko.
"Yah sudah, kalian ikut saja."
"Nggak, Kak. Aku nggak usah ikut. Aku mau pulang ke rumah aja," ucap Tantri.
"Loh, kenapa?" tanya Miko.
"Aku mau pulang nyuci, kan besok sekolah." jawab Tantri.
"Oh. Kalau begitu aku juga tidak jadi ikut. Aku antar kamu pulang saja." kata Miko.
"Nggak usah, Kak. Aku nanti nebeng di mobilnya Kak Hendra aja," tolak Tantri. Ia merasa tidak enak karena sering merepotkan pria itu.
"Tidak apa-apa. Biar aku yang antar kamu pulang." ucap Miko.
"Ngg--" Tantri masih ingin menolak tapi Hendra malah memotong ucapannya.
"Tantri, biar Miko saja yang mengantar kamu pulang. Karena sebelum kami berangkat, kami mau singgah dulu di rumah, Radit dan Tania." ujar Hendra sambil menaikkan sebelah alisnya ke arah Miko. Ia tahu apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
"Yah udah deh, aku pulang di antar, Kak Miko aja." ucap Tantri. Mendengar hal itu, Miko merasa sangat senang.
Tidak lama setelah keberangkatan Miko dan Tantri, Tasya kenudian turun ke lantai bawah. Sepertinya ia sudah siap untuk berangkat. Tasya segera menghampiri Hendra yang sedang duduk di meja makan sambil main game di smartphonenya.
"Sayang! Ayo berangkat!" ajak Tasya.
"Ayo!" balas Hendra sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Mereka pun segera berjalan menuju garasi.
"Sayang, kita jadi kan mampir dirumah Radit dan Tania," tanya Tasya saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Iya, sayang." jawab Hendra sambil fokus menyetir mobilnya.
Setelah melajukan mobilnya beberapa saat, sampailah mereka di depan rumah baru si pengantin baru. Tasya dan Hendra turun dari mobilnya. Setelah itu mereka berjalan menghampiri pintu. Mereka berdua geleng-geleng kepala sekaligus merasa lucu membaca tulisan yang menempel di pintu.
"CLOSED." Tasya membaca tulisan yang tertempel di pintu.
"Radit, Radit. Dasar pengantin baru! Rumah sudah seperti toko saja, pakai acara tutup-tutup segala."
Hendra geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd adik sepupunya. Ia sudah bisa menebak kalau itu pasti kelakuan Radit.
"Ayo, sayang kita pergi belanja saja. Sepertinya mereka tidak mau diganggu sekarang. Lain kali, ayo kita mampir setelah tulisan ini sudah diganti menjadi OPEN," ajak Tasya sembari terkekeh.
"Iya, sayang. Ayo," balas Hendra.