
Note: Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
"Sayang. Apa orang tuamu tidak keberatan? Kamu kan anak tunggal, pasti mereka tidak mau jauh-jauh darimu." ujar Tasya.
"Awalnya mereka tidak setuju. Yah karena itu, seperti yang kamu bilang. Aku sudah tinggal jauh dari mereka saat aku masih kecil. Mereka menyekolahkanku di sekolah-sekolah terbaik, hingga aku lulus kuliah. Dan setelah aku kembali mereka tidak mau jauh-jauh lagi dariku. Aku mengutarakan maksudku mau membangun rumah sendiri setelah bertemu denganmu waktu itu. Mereka menolak dengan alasan, aku baru saja kembali dari Kota SKG setelah lama tinggal disana dan mereka mau bersamaku di sisa hidup mereka. Mereka tidak mau berpisah lagi. Aku merengek, dan akhirnya mereka mengijinkanku dengan syarat rumah yang aku bangun tidak jauh dari tempat mereka. Dan aku pun setuju karena itu memang tidak menjadi masalah buatku. Yang penting aku punya rumah untuk aku tempati setelah menikah denganmu." jelas Hendra panjang lebar.
"Sayang. Kalau aku boleh tahu, memangnya kamu kerja apa kok bisa bangun rumah sebesar itu? Perasaan dulu kamu cuma kerja sebagai staf TU di sekolah." tanya Tasya penasaran.
"Eits jangan salah sayang. Begini-begini aku punya Investasi loh. Aku menanam dana di salah satu instrumen investasi di Kota SKG sejak aku masih berusia 20 tahun. Selama beberapa tahun aku tidak pernah mengambil hasilnya. Aku terus menggulirnya hingga jumlah investasiku lumayan besar dan hasilnya pun semakin besar." jelas Hendra.
"Lalu?" tanya Tasya lagi ia masih penasaran. Ia tidak terlalu mengerti dengan hal-hal seperti itu.
"Lalu 4 tahun yang lalu, karena aku tahu pasti akan tinggal dan menetap disini, pertama-tama aku membeli sawah yang di tempati empang sekarang. Meskipun dulu aku berada di luar daerah, tapi aku punya paman yang menjadi orang kepercayaanku yaitu Pak Udin. Dia yang memilihkanku lokasi untuk membeli tanah disana." jelas Hendra.
"Sayang. Apa sawah-sawah disana juga milikmu?" tanya Tasya. Ia semakin penasaran dengan suaminya.
"Tepat sekali. Tapi sawah-sawah lainnya aku beli pada tahun-tahun berikutnya dengan harga yang relatif tinggi sehingga orang-orang yang punya tanah disitu mau menjualnya padaku." ujar Hendra.
"Lalu sekarang sudah berapa luas tanah yang kamu miliki disana, sayang?"
"Belum seberapa sayang, baru 25 hektar. Dan aku akan terus menambahnya sebagai aset properti kita dimasa depan. Rumah yang kita tempati sekarang itu, aku bangun dari sistem bagi hasil dengan para petani yang menggarap sawah kita. Selain memberikan lapangan pekerjaan bagi para petani kecil, kita juga cuma tinggal berleha-leha menunggu bagian kita dari hasil panen mereka." jelas Hendra pada istrinya.
"Apa? 25 Hektar dia bilang belum seberapa. Orang tuaku saja cuma punya 2 hektar sawah tapi cukup untuk menafkahi kami sekeluarga. Dan cukup pula untuk membiayai sekolah 4 orang anaknya. Aku baru tahu kalau suamiku ternyata setajir itu." batin Tasya terkejut mendengar pernyataan Hendra.
"Sayang. Aku tidak pernah menyangka kalau kamu ternyata sekaya itu." ujar Tasya.
"Bagaimana? Apa kamu tidak akan menyesal menikah denganku?" tanya Hendra sambil tersenyum.
"Sayang. Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Meskipun pada kenyataannya aku memang masih belum mencintaimu. Karena kamu suami yang sangat baik, keluargamu pun juga baik. Aku bersyukur karena mereka mau menerimaku dan keluargaku yang sederhana yang tidak selevel dengan kalian. Dan aku juga sangat bahagia mendapatkan suami seperti kamu, karena kamu tahu cara memperlakukanku dengan sangat baik. Meskipun seandainya kalau kamu miskin sekalipun, aku tidak akan peduli. Karena harta bukanlah segalanya, yang penting kenyamanan dan kebahagiaan." jelas Tasya sambil mendongakkan kepala menatap suaminya.
Hendra tersenyum mendengarkan ucapan Tasya sambil menggosok-gosok puncak kepala istrinya yang ditutupi hijab lalu berkata, "Harta memang bukan segalanya sayang. Tapi kalau aku miskin, aku pasti tidak akan pernah bisa memanjakanmu dan memberikanmu kehidupan yang layak seperti sekarang ini." katanya lalu mengecup kening istrinya.
...----------------...
Setelah kurang lebih satu jam dikamar, Hendra dan Tasya pun turun ke lantai bawah. Tasya menghampiri Bu Arini yang sedang bekerja di dapur. Kebetulan hari ini pembantu Bu Arini sedang ijin satu hari, jadi dia yang mengambil alih pekerjaan dapur pagi ini.
"Lagi masak apa ma?" tanya Tasya menghampiri ibu mertuanya.
"Oh ini, mama lagi mau masak makanan kesukaan suami kamu. Kebetulan Hendra udah lama nggak makan disini jadi mama mau masakin makanan kesukaan dia." jawab Bu Arini sambil mengupas kulit bawang.
"Memangnya kak Hendra suka makan apa ma?" tanya Tasya penasaran. Ia sangat ingin tahu makanan kesukaan suaminya.
"Dia paling suka makan ayam goreng bumbu rica-rica. Tapi yang nggak pedas-pedas amat." jawab Bu Arini.
"Oh ... masih ada nggak ma?" tanya Tasya lagi. Ia ingin tahu semua makanan yang disukai Hendra. Ia ingin berusaha jadi istri yang baik yang bisa memuaskan perut suaminya.
Bu Arini pun menjelaskan pada Tasya semua makanan-makanan yang disukai Hendra. Termasuk makanan-makanan yang tidak disukai anaknya.