
Setelah menata nasi gorengnya di piring dengan cantik dan rapi. Tasya pun lalu memeriksa kalender di ponselnya. Ia mengecek tanggal terakhir ia datang bulan. Setelah ia hitung, ternyata ia sudah hampir 3 minggu telat, tapi ia tidak menyadari hal itu. Ia semakin yakin kalau dirinya memang benar-benar hamil. Tapi untuk memastikan kebenarannya, ia harus mengetesnya sendiri menggunakan alat tes kehamilan. Bisa jadi ia telat datang bulan karena adanya gangguan hormon.
Tasya duduk disamping Tania. Ia bermaksud untuk meminta tolong pada adiknya tersebut untuk membelikannya test pack di apotek milik dokter Desi.
"Dek, kakak boleh minta tolong nggak?" tanya Tasya.
"Minta tolong apa Kak?" tanya Tania lalu memasukkan kerupuk bawang kedalam mulutnya.
"Mm, kakak mau nyuruh kamu beliiii," ucapan Tasya menggantung.
Tasya kurang yakin Tania akan mau membelikannya. Tapi ia harus berusaha untuk membujuk adiknya itu agar supaya rencananya berjalan mulus.
"Beli apa Kak?" tanya Tania.
"Mm, test pack." bisik Tasya didekat telinga Tania.
"Apa? Kak Tasya hamil?" Tania sangat kaget mendengarnya.
Bukan karena hamilnya yang membuat Tania kaget, tapi test packnya. Ia merasa malu untuk membeli alat test kehamilan tersebut.
"Hust, jangan ribut! Nanti Kak Hendra denger. Kakak juga belum yakin 100%, makanya kakak minta bantuan kamu buat beliin kakak alat itu." jelas Tasya.
"Aish Kak, aku malu. Emangnya kenapa kalo Kak Hendra denger?" tanya Tania bingung.
"Kakak mau bikin kejutan buat Kak Hendra, Dek. Kamu mau yah bantuin kakak, yah, yah. Ayolah adik kakak yang paling cantik, manis, imut, sholeha, baik hati, suka menolong dan tidak sombong," bujuk Tasya.
"Udah ah Kak." ucap Tania mulai frustasi dengan permintaan kakaknya itu.
"Kak, kalo penjaga apoteknya berpikiran yang aneh-aneh tentang aku gimana?" tanya Tania khawatir.
"Nggak Dek. Bilang aja kalo kamu beli buat kakak. Beres, kan?" jawab Tasya dengan entengnya.
"Kakak mah enak ngomongnya, tinggal beres, beres. Muka Tania ini loh, Kak. Muka Tania mau ditaro dimana? Tania, kan malu,"
"Ya ditaro dikepala lah Dek. Masa di Taro di toples. Hehehe." canda Tasya.
"Kak Tasya iiih, malah bercanda. Aku kan serius Kak." ujar Tania kesal.
"Iya, iya, kakak minta maaf," ucap Tasya.
"Bareng aja yuk, Kak ke apoteknya!" ajak Tania.
"Nggak bisa Dek, rencana kakak bikin kejutan buat Kak Hendra bisa gagal kalau kakak juga ikut," jelas Tania.
Setelah cukup lama Tasya membujuk adiknya. Tania pun terpaksa menuruti permintaan kakaknya itu.
"Mm, yah udah deh Kak, aku berangkat sekarang aja. Sini uangnya!" ujar Tania.
"Ini Dek, hati-hati yah! Kunci motornya ada di laci lemari dekat TV." seru Tasya sembari tersenyum senang.
Setelah mengambil kunci motor, Tania pun hendak melangkah keluar menuju garasi.
"Kamu mau kemana, Nia?" tanya Radit yang baru keluar dari kamar.
"Aku mau ke apotek," jawab Tania.
"Ngapain?" tanya Radit lagi.
"Mau beli ikan," canda Tania.
"Hah!" Radit bingung mendengar ucapan Tania.
"Hahaha. Diiit, Radit. Emang kamu pikir orang kalo ke apotek biasanya ngapain? Udah tau masih nanya."
"Hehehe, iya juga yah."
"Nggak, nggak boleh. Radit nggak boleh ikut. Bisa-bisa orang berpikiran yang enggak-enggak tentang aku dan Radit." batin Tania.
"Nggak usah, kamu masuk aja sana, sarapan sekaligus makan siang." balas Tania.
Tiba-tiba Radit menghampiri Tania dan menyambar kunci motor yang ada ditangan Tania. Ia lalu berlari keluar menuju garasi. Tania membelalakkan matanya melihat kelakuan Radit. Ia pun lalu berlari mengejar Radit.
"Dit, kembaliin nggak," teriak Tania.
"Nggak, pokoknya kamu harus pergi sama aku Nia."
"Nggak usah, Dit. Aku bisa pergi sendiri." tolak Tania.
"Nggak, nggak ada bantahan. Ayo naik!" seru Radit setelah menyalakan mesin motornya.
"Dit, bisa nggak kamu nggak maksa?"
"Nia sayang, bisa nggak kamu nurut aja. Biasanya kamu juga perginya bareng aku kok,"
"Dit, masalahnya bukan itu. Tapi masalahnya tuh aku ke apotek karena aku mau beli ... Test pack." jelas Tania berbisik di akhir kalimatnya.
"Hah! Tes---" Radit membelalakkan matanya kaget mendengar kata yang dibisikkan oleh Tania.
"Jangan ribut! Nanti ada yang denger," kata Tania panik sambil menutup mulut Radit dengan tangannya.
Radit merasa sangat marah, ia berpikir ada laki-laki yang sudah menodai kekasihnya itu. Ia pun lalu menurunkan tangan Tania yang sedang menutupi mulutnya.
"Bilang sama aku Nia! SIapa?! Siapa yang---" teriak Radit dengan wajah dan mata yang sudah memerah.
Rasanya Radit ingin sekali menghajar laki-laki yang ia pikir telah menghamili gadis kesayangannya itu sampai babak belur dan hanya menyisakan nyawanya saja.
Tania kembali menutup mulut Radit dengan tangannya. Ia tidak mau orang lain mendengarnya.
"Dit, kamu tenang dulu dong, pelan-pelan ngomongnya. Dengerin aku dulu. Bukan aku yang mau make. Tapi, Kak Tasya."
Mendengar penjelasan Tania, Radit pun akhirnya merasa tenang dan lega.
"Aaah, alhamdulillah." ucap Radit lega seraya memegang dadanya yang tadinya sudah hampir copot.
"Makanya, jangan suka langsung marah-marah nggak jelas gitu dong. Kalo orang ngomong, dengerin dulu baik-baik," ujar Tania.
"Hehehe. Maaf, sayang."
"Minggir sana, aku mau jalan." kata Tania.
"Yah sudah, aku antar."
"Nggak usah Dit. Aku nggak mau orang-orang berpikiran yang enggak-enggak tentang kita kalau kamu yang nganterin aku kesana." jelas Tania.
"Nggak bakalan sayang, orang-orang dikampung ini tuh kenal baik siapa kita. Nggak mungkinlah mereka berpikiran yang enggak-enggak."
"Itu kan menurut kamu, Dit."
"Ayolah, sayang. Aku akan tanggung jawab kok,"
"Maksud kamu?"
"Maksud aku, biar aku yang jelasin ke penjaga apoteknya, kalo kita mau beliin test pack buat, Kak Tasya. Begitu loh sayang." jelas Radit.
"Kirain tanggung jawab yang lain."
"Bukan. Ayo cepat naik!" ajak Radit.
Tania pun akhirnya menurut untuk pergi ke apotek diantar Radit.