
"Boleh aku bergabung?" tanya seorang pria yang membawa sebuah nampan berisi makanan.
Tantri hanya bisa melongo melihat Miko membawa menu makan siangnya ke mejanya bersama Anton.
Apa jangan-jangan kak Miko masih mengawasiku meskipun di jam istirahat? Benar-benar nggak bisa dipercaya. Batin Tantri.
Yah, gagal deh rencana makan siang berduaku dengan Tantri. Batin Anton.
"Boleh aku ikut bergabung?" ucap Miko kembali mengulangi pertanyaannya.
"Si-silakan, Pak!" jawab Tantri terbata. Ia merasa tidak percaya melihat Miko membawa makan siangnya ke meja mereka.
Mereka pun kemudian makan bersama tanpa ada yang bersuara sedikitpun. Sesekali Anton melirik ke arah Tantri di sela-sela makannya. Tanpa sengaja ia melihat ke arah Miko. Anton hampir terperanjat kaget. Ia begitu terkejut. Ternyata Miko sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Ia pun kemudian menundukkan kepalanya dan kembali fokus pada makanannya.
Waduh kenapa kak Miko menatapku seperti itu? Serem banget. Sepertinya dia mau menelanku bulat-bulat. Batin Anton.
Miko melirik Tantri yang sedang fokus dengan makanannya. Laki-laki itu tersenyum. Ia melihat ada nasi yang menempel di pipi Tantri.
"Pelan-pelan makannya," ujar Miko lalu mengambil nasi yang ada di pipi gadis itu.
"Eh, terima kasih, Pak," ucap Tantri lalu kembali fokus dengan makanannya.
Aduh, kenapa aku makannya jadi belepotan gitu? Batin tantri.
Pemandangan apa ini? Apakah aku ke sini cuma buat ngeliat mereka mesra-mesraan? Batin Anton. Anton tiba-tiba kehilangan selera makannya. Padahal tadi pagi ia hanya sarapan dengan dua lembar roti. Tapi sebisa mungkin ia mencoba menghabiskan makanannya karena ia tahu kalau makanan itu adalah makanan kesukaan Tantri. Apalagi Tantri yang mentraktirnya makan siang. Ia tidak mau gadis itu tersinggung.
Selang beberapa menit kemudian, Anton kembali tercyduk sedang menatap Tantri. Miko memberikan kode pada Anton dengan menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya laki-laki dewasa itu sedang menantang laki-laki remaja yang ada di seberang mejanya. Ia sangat tidak suka dengan cara Anton menatap calon istrinya.
Kalau masih mau hidup, jangan suka menatap wanitaku. Seperti itulah kira-kira yang ingin dikatakan oleh Miko pada Anton. Anton hanya bergidik ngeri melihat tatapan membunuh dari Miko.
Setelah mereka bertiga selesai dengan makanannya, Anton segera berpamitan pada Tantri. Sepertinya ia sudah tidak tahan lagi dengan hawa mencekam yang ada di sekitarnya.
"Tri, aku pulang dulu ya," pamit Anton.
"Loh kenapa kamu buru-buru, Ton? Bukankah jam istirahat masih ada setengah jam lagi. Tempat magangmu kan dekat. Kenapa kamu buru-buru?" tanya Tantri. Ia masih belum merelakan kepergian sahabatnya itu.
"Emm, aku harus pulang sekarang. Aku udah ada janji dengan om Agus," bohong Anton.
"Ya udah deh. Kalo begitu, kamu hati-hati yah, Ton. Tapi jangan lupa, kamu masih punya utang sama aku," ujar Tantri. Miko mengerutkan dahi mendengar kata hutang yang keluar dari mulut Tantri.
"Utang apaan?" tanya Anton juga ikutan bingung.
"Ah iya. Maaf, aku lupa," ucap Anton sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Nanti lain kali yah. Aku pasti menepati janji," Imbuh Anton.
"Oke! Aku tunggu kabar kamu secepatnya," ujar Tantri.
"Sip!" ucap Anton sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
"Kalau gitu aku balik dulu yah, Tri. Dah," Anton melangkahkan kakinya meninggalkan restoran mewah itu. Tantri hanya menatap punggung sahabatnya itu dari jauh. Ia merasa sedih karena ia belum sempat mengobrol banyak dengan Anton sebelum Anton pergi. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan Anton. Ia ingin menceritakan banyak hal tentang apa yang dialaminya selama dua bulan terakhir. Karena ia tahu Anton itu sahabat sekaligus pendengar yang baik.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau yang mau makan siang sama kamu itu laki-laki?" tanya Miko sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan melihat ke arah Tantri yang masih duduk disampingnya.
"Memangnya penting ya, Pak?" jawab Tantri balik bertanya.
"Ya penting lah. Mulai sekarang kamu tidak boleh bertemu dengannya lagi," ujar Miko.
"Loh kenapa, Pak? Anton itu kan sahabat baik saya. Kenapa Anda melarang saya bertemu dengan sahabat saya sendiri? Apa alasannya?" protes Tantri. Seketika Tantri merasa sangat jengkel dan kesal dengan bos sekaligus calon suaminya itu. Ia sangat tidak suka dengan sikap Miko yang suka melarang dan mengatur seenaknya. Apalagi Miko melarang Tantri untuk bertemu dengan sahabat baiknya sendiri. Kalau Miko melarangnya untuk tidak dekat dengan Jonathan, ia bisa terima karena memang Jonathan bukan siapa-siapanya. Tapi jika dengan Anton, ia merasa sangat keberatan.
"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh," tegas Miko.
Sumpah kak Miko nyebelin banget. Lama-lama aku nggak tahan kalau begini terus. Batin Tantri. Gadis itu pun segera meninggalkan Miko. Daripada meladeni Miko yang menyebalkan itu, lebih baik ia pergi mengambil air wudhu dan sholat zhuhur. Pikirnya.
"Tri! Tantri! Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara," teriak Miko. Semua orang yang ada didalam restoran itu menatap heran ke arah mereka secara bergantian.
"Pak Miko kenapa? Apa dia sedang bertengkar dengan anak megang itu?" tanya salah seorang pelayan wanita kepada sesama pelayan di sampingnya.
"Aku juga nggak tahu. Udah, kita nggak usah urusi urusan mereka. Mending kita beresin pekerjaan kita aja dulu," jawab pelayan yang berambut pendek.
"Tri! Tantri!" teriak Miko lagi. Namun Tantri tidak mengindahkan panggilannya. Gadis itu terus berjalan menuju ruangannya. Ia merasa sangat kesal dengan sikap Miko yang suka mengatur dan melarang seenaknya.
Karena merasa diabaikan, Miko segera menyusul Tantri ke ruangannya. Saat membuka pintu ruangannya, Miko tidak mendapati Tantri di dalam sana.
Pasti dia lagi di kamar mandi. Pikir Miko.
Laki-laki itu pun mengambil tempat duduk di sofa. Ia ingin menunggu Tantri keluar dari dalam sana. Tidak berselang lama, Tantri keluar dari kamar mandi dan dia baru saja selesai mengambil air wudhu.
"Tunggu aku," kata Miko.