
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.
...----------------...
Tasya terkejut dibuatnya, ia tidak menyangka kalau Wildan menyukainya. Ia terdiam selama beberapa saat. Ia bingung memikirkan jawaban yang tepat untuk menolak Wildan tanpa membuatnya terlalu sakit hati. Karena saat itu pula Tasya tengah dekat dengan Fathur. Bahkan waktu itu Tasya dan Fathur sudah serius menjalankan hubungan mereka tanpa embel-embel pacaran. Meskipun seandainya Tasya tidak dekat dengan Fathur waktu itu, ia akan tetap menolak cinta Wildan karena ia memang tidak mau berpacaran. Dan memang Tasya hanya menganggap Wildan tidak lebih dari seorang teman dekat.
"Tasy. Kamu mau kan?" tanya Wildan lagi dengan penuh harap diwajahnya.
"Mm ... maaf kak. Tapi aku nggak mau pacaran." jawab Tasya pelan sambil menolak bunga mawar yang diberikan oleh Wildan dengan telapak tangannya dan mendorongnya pelan kembali kearah Wildan
Ekspresi Wildan berubah total. Langit bagaikan terasa runtuh baginya. Perasaannya hancur, ia merasa sedih, kecewa, dan sakit hati sekaligus. Mengingat ia sudah lama menyukai Tasya. Apa yang ia bayangkan berbanding terbalik dengan kenyataannya. Wildan yang tadinya merasa percaya diri mengungkapkan perasaannya pada pujaan hatinya itu harus merasakan pahit dan pedihnya patah hati. Ia menjatuhkan bunga mawar itu dari genggamannya. Seketika ia merasa tidak berdaya, bahkan menggenggam setangkai mawar pun rasanya ia sudah tidak punya kekuatan lagi. Ini pertama kalinya ia menyatakan perasaannya pada seorang gadis, tapi sayang, ia harus ditolak.
"Sekali lagi maaf yah kak." ujar Tasya. Ia sebenarnya merasa tidak enak pada Wildan. Tapi mau gimana lagi. Ia tidak punya perasaan apa-apa pada Wildan. Selama ini ia hanya menganngap Wildan sebagai satu-satunya teman laki-lakinya dan tidak lebih dari itu.
"Maaf Kak Wildan. Aku harus ke kelas dulu. Sebentar lagi kelasnya mulai." pamit Tasya. Ia pun buru-buru meninggalkan Wildan yang masih duduk diam ditempatnya.
"Tasy. Apa kamu tidak mau memikirkannya lagi?" tanya Wildan ingin memastikan.
"Aku minta maaf yang sebesar-besarnya kak. Tapi aku memang benar-benar nggak mau pacaran sama sekali." jelas Tasya sambil berbalik dan menghadap ke arah Wildan.
"Baiklah. Apa kita masih bisa berteman seperti biasanya?" tanya Wildan sambil mengulas senyum paksa dibibirnya menatap Tasya yang hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Tentu saja." jawab Tasya sambil membalas senyum Wildan. Ia lalu berlari meninggalkan Wildan menuju kelasnya.
"Ck. Apa kamu sengaja mau membuatku mati secara perlahan dengan senyumanmu itu?" ucapnya lirih. Ia masih belum bergerak dari tempatnya. Dadanya terasa sesak dan ngilu. Ia merasa sangat sedih dan patah hati karena cintanya ditolak.
"Aku tidak akan menyerah, suatu saat nanti aku pasti akan mendapatkan cintamu." gumam Wildan.
Semenjak saat itu, Wildan tidak pernah lagi bertemu dengan Tasya. Karena keesokan harinya ia harus mengikuti KKN di kota ABC. Setelah KKNnya selesai, ia sibuk menyelesaikan skripsinya hingga ia tidak punya waktu untuk menemui Tasya lagi.
Flash back off
"Ternyata selama ini kamu curang yah." ujar Hendra sambil cemberut.
"Sayang. Apa kamu masih ingat? Kamu itu dulu cueknya minta ampun sama aku. Beruntung kalau kamu mau melihatku dan melemparkan senyum padaku. Untung aku ini laki-laki gentle yang pantang menyerah." ucapnya membanggakan diri sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Hahaha. Yah ampun sayang." Tasya tergelak mendengar ucapan Hendra. Ia sadar yang dikatakan Hendra memang benar adanya. Ia lalu memeluk dan mencium pipi suaminya sebagai permintaan maafnya.
Hendra sangat bahagia mendapat pelukan dan ciuman tiba-tiba dari istrinya tanpa harus ia minta. Tapi ia masih mau pura-pura mengambek karena Tasya dulu tidak cuek pada Wildan tapi pada dirinya Tasya sangat cuek bahkan bisa dibilang sangat dingin.
"Berarti si Wildan itu spesial yah. Karena dia satu-satunya teman cowok kamu." sindir Hendra.
"Apaan sih sayang? Kamu cemburu? Katanya tadi janji tidak akan marah apalagi sampai cemburu." ujar Tasya mengingatkan.
"Siapa yang cemburu?" ucap Hendra menyangkal.
"Tuh mukanya kenapa begitu?" balas Tasya.
"Tidak. Aku tidak cemburu." kata Hendra. Ia mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan isi hatinya.
Tasya tidak percaya dengan ucapan Hendra, ia lalu memegang kedua tangan Hendra dan menatap matanya dalam. Mata mereka beradu.
"Sayang. Dengarkan aku. Aku tahu kamu cemburu padanya. Kamu tidak perlu buang-buang energi untuk itu." Tasya.
Hendra hanya terdiam. Karena ia sadar yang dikatakan Tasya itu benar adanya.
"Sayang. Apa kamu lupa? Aku ini milikmu seutuhnya. Kamu berhak atas diriku seutuhnya dari ujung kepalaku hingga ujung kakiku. Bahkan mahkotaku yang paling berharga pun yang sudah aku jaga selama 21 tahun sudah aku serahkan padamu." jelas Tasya.
"Untuk apa juga kamu cemburu padanya. Jelas-jelas kamu jauh lebih tampan dan lebih gagah darinya, sayang." ucap Tasya sambil tersenyum manis dihadapan suaminya.
"Maafkan aku sayangku." ucap Hendra sambil memeluk Tasya erat.
Jujur, dari lubuk hatinya yang paling dalam. Hendra sangat bahagia mendengar semua ucapan istrinya. Yang ia tahu selama ini Tasya belum mencintainya, Tasya hanya berusaha menjalankan perannya sebagai istri yang baik dan berbakti. Tapi mendengar kata-kata Tasya tadi, bukankah ini sebuah kemajuan? Pikir Hendra.