How To Love You

How To Love You
Bab 98



Pukul 07:00 Malam, Restoran Miko


Hendra beserta seluruh anggota keluarganya baru saja sampai di restoran. Kevin juga ikut bergabung pada mereka, karena Miko juga mengajaknya tadi siang untuk bergabung. Mereka semua berjalan menuju ruangan VIP yang telah disediakan oleh manager restoran.


Restoran itu sangat luas, nyaman dan juga mewah. Selain menunya yang enak-enak, tempat tersebut sangat cocok untuk dijadikan tempat meeting, makan malam romantis, makan malam bersama keluarga, acara ulang tahun, pernikahan dan lain sebagainya. Seringkali Kevin datang bersama para kliennya untuk meeting di restoran milik sahabatnya tersebut.


Hidangan pembuka, menu utama serta hidangan penutup sudah terhidang di meja besar berbentuk bundar tersebut. Semua menu yang disuguhkan sang pemilik resto merupakan menu andalan di restoran miliknya.


Mereka pun lalu duduk dengan urutan kursi Hendra, Tasya, Bu Indah, Bu Arini, Pak Gunawan, Radit, Tania, Miko, dan Kevin. Mereka pun mulai makan malam bersama setelah Miko selesai memimpin doa sebelum makan.


"Emm ... benar-benar enak Nak Miko." puji Pak Gunawan setelah memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Iya, papa benar. Pantas aja restoran Lo selalu ramai Mik. Menunya memang benar-benar luar biasa enaknya." sambung Hendra ikut memuji makanan yang disuguhkan Miko. Yang lain setuju dengan pendapat keduanya sambil mereka menikmati makanannya masing-masing.


"Sayang. Coba ini!" seru Hendra sambil meletakkan makanan di piring istrinya.


"Iya. Makasih sayang." balas Tasya sambil tersenyum kearah suaminya.


"Kalian terlalu berlebihan." ucap Miko membalas pujian Pak Gunawan dan Hendra.


"Om dan Hendra benar Mik. Kalau bukan karena menunya yang enak, Gue pasti nggak bakalan sering-sering ngajakin klien Gue meeting disini." lanjut Kevin.


Miko hanya tersenyum menanggapi pujian mereka. Ia lalu mengambil makanan yang menurutnya paling enak diantara semua makanan yang ia suguhkan dan meletakkan dipiring Tania.


"Tania. Coba ini, aku yakin kamu pasti suka." ucap Miko setelah meletakkan potongan steak di piring Tania.


Seketika semua orang memandang ke arah mereka, lalu saling melirik satu sama lain. Tania tidak tau harus berkata apa, ia tersenyum sekilas pada Miko lalu berbalik memandang Radit yang duduk di samping kirinya. Iris mata keduanya bertemu.


Radit sudah semakin yakin dengan kecurigaannya. Ia merasa marah, kesal, geram dan cemburu pada Miko yang berusaha mendekati pacarnya.


Miko sadar kalau orang-orang memandang heran ke arahnya.


"Nggak kok, nggak. Kalian jangan salah paham. Ini nggak seperti yang kalian pikir. Kebetulan Tania duduk disamping saya, jadi saya merekomendasikan salah satu makanan terenak di resto saya ini." jelas Miko. Ia tidak mau orang lain salah paham dengannya sikapnya. Meskipun memang pada kenyataannya dia memang sedang berusaha mendekati Tania. Semua orang kembali menyantap makanan mereka kembali.


Orang-orang kembali mengarahkan pandangan mereka ke arah Radit, Tania, dan juga Miko. Seolah-olah makan malam mereka kali ini, sedang disuguhi drama cinta segitiga didepan mata mereka. Dua orang laki-laki yang sedang memperebutkan satu orang perempuan.


"Eh, i iya Dit. Makasih. Aku coba yah." ucap Tania memecah keheningan diantara mereka. Ia pun lalu memasukkan makanan yang diberikan oleh Radit terlebih dahulu kedalam mulutnya.


"Emm ... enak banget Dit." puji Tania setelah ia menelan makanan tersebut.


Miko merasa sedikit kecewa karena Tania lebih memilih mencicipi makanan yang diberikan oleh Radit ketimbang makanan yang diberikan olehnya. Padahal ia lebih dulu memberikan makanan ke piring Tania.


"Aku coba yah kak." ujar Tania pada Miko. Miko hanya mengangguk kecil menanggapinya.


"Emm ... enak bangeet kak. Emm ... benar-benar enak." ucap Tania sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Miko hanya tersenyum mendengar pujian Tania.


"Kalo nggak salah, si Radit tadi bilang sayang ke Tania. Apa jangan-jangan mereka pacaran kali yah? Mungkin itu sebabnya mereka kelihatan sangat akrab. Hm ... aku harus cari tau. Iya, harus. Karena ini sangat penting." batin Miko.


Setelah mereka selesai makan malam, mereka pun lalu menikmati hidangan penutup sambil mengobrol dan bersenda gurau. Canda dan gelak tawa menyelingi obrolan mereka.


Radit mengirim pesan ke nomor whatsapp Tania untuk mengajaknya keluar. Ia tidak mau mengajak Tania langsung karena orang-orang pasti berpikiran aneh-aneh tentang mereka. Apalagi setelah kejadian canggung yang terjadi saat makan malam tadi. Radit merasa tidak tenang satu ruangan dengan Miko. Apalagi Miko duduk bersebelahan dengan gadis pujaan hatinya.


πŸ“© Radit : Nia. Keluar yuk. Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu.


πŸ“© Tania : Mau ngomong apa Dit? Disini aja.


πŸ“© Radit : Nggak bisa Nia. Disini banyak orang.


πŸ“© Tania : Emangnya kamu mau ngomong apa sih?


πŸ“© Radit : Sesuatu hal yang sangat penting. Kamu keluar aja dulu, nanti aku nyusul.


πŸ“© Tania : πŸ‘Œ


Tania pun meminta ijin untuk keluar sebentar. Beberapa saat setelah Tania keluar, Radit pun segera menyusulnya.