How To Love You

How To Love You
Bab 136



Radit segera menghambiskan kopinya. Setelah itu, ia beranjak masuk kedalam kamar sambil membawa ponsel Tania yang sudah dua kali berdering.


Setelah berhenti berdering barulah Radit memblokir nomor Miko di ponsel milik Tania. Radit pun segera mengambil air wudhu dengan perasaan yang masih campur aduk. Hingga sholat pun ia tidak bisa khusyu', pikirannya liar kemana-mana memikirkan kekasihnya yang ingin direbut oleh laki-laki lain.


Sementara itu di restorannya, Miko sedang duduk diruang kerjanya. Ia sangat merindukan Tania setelah beberapa hari tidak berkomunikasi dengannya. Setelah melakukan panggilan video dua kali, ia baru ingat kalau waktu di tempat tinggal Tania lebih cepat 1 jam dibanding di kota tempat ia tinggal.


"Astaga! Aku lupa, mungkin sekarang Tania sedang sholat," ujar Miko seraya menepuk jidatnya sendiri.


"Nanti aku coba hubungi lagi." ucap Miko.


Miko pun kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Yaitu memeriksa tiga buah berkas laporan keuangan dari masing-masing restoran yang ia miliki.


***


Radit merasa sangat marah dan kesal, ia mengutak-atik isi whatsapp Tania. Ia menemukan chatingan Tania dan Miko beberapa hari yang lalu. Setelah selesai membaca isi pesan tersebut. Radit pun keluar kamar dan bermaksud untuk menemui Tania. Dadanya sudah dipenuhi amarah dan api cemburu.


"Tok tok tok." Radit mengetuk pintu kamar Tania beberapa kali.


Beberapa saat kemudian, Tania baru datang dan membuka pintu kamarnya. Sepertinya ia baru saja selesai sholat.


"Ada apa?" tanya Tania seraya membuka pintu kamar.


Tanpa permisi, Radit langsung menerobos masuk lalu mengunci pintunya kembali. Tania sangat kaget melihat tindakan Radit. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia takut melihat wajah Radit yang menyeramkan seperti sedang kerasukan setan. Wajah dan mata Radit merah padam. Tania tidak tahu apa yang menyebabkan Radit menjadi marah seperti itu.


"Apa-apaan ini Dit? Kenapa kamu menerobos masuk kesini?" tanya Tania dengan nada tinggi.


Bukannya menjawab Radit malah mendorong tubuh Tania hingga membentur tembok. Ia lalu mengurung Tania menggunakan tangannya. Radit terlihat sangat marah sekali, membuat Tania semakin ketakutan melihatnya.


"Ka kamu kenapa, Dit? Jangan macam-macam!" ujar Tania dengan bibir bergetar.


Tania merasa sangat ketakutan sekali. Ia tidak pernah melihat Radit semarah ini sebelumnya.


"Maaf, Nia. Kamu sendiri yang memaksaku melakukan ini. Bukannya aku sudah pernah memberikanmu peringatan sebelumnya." jelas Radit seraya menarik dan menahan tengkuk Tania, sebelah tangannya lagi memeluk pinggang Tania dengan erat.


"Cup."


Radit ******* bibir mungil milik kekasihnya itu. Tania membelalakkan matanya kaget. Ia merasa geram dan sangat marah sekali atas tindakan Radit yang semakin berani padanya. Ia berusaha melawan, tapi tidak bisa. Tenaga Radit begitu kuat, Tania sangat kesulitan melawan.


Bibir Tania yang terasa manis seolah menjadi candu untuk Radit. Membuat pemuda itu enggan untuk melepas pangutannya. Tania semakin geram dengan perlakuan Radit. Refleks Tania menendang junior Radit menggunakan lututnya. Karena merasa sangat kesakitan, mau tidak mau Radit pun akhirnya melepaskan Tania.


Radit menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia meringkuk mengaduh kesakitan disana, hampir saja ia kehilangan kesadarannya.


"Auwh, Nia ka-mu me-me-cahkan, te-lur-ku." ucap Radit mengaduh kesakitan seraya memegangi miliknya yang ia pikir sudah pecah.


"Biarin, siapa suruh kamu semakin kurang ajar sama aku." kata Tania marah sambil mengusap bibirnya yang basah yang baru saja dicium oleh Radit.


"Kamu tega, Nia. Kalau telurku benar-benar pecah, kamu sendiri nanti yang akan rugi dan menyesal," ucap Radit sambil terus meringis kesakitan.


"Bi-a-rin, mau telur kamu pecah kek, mau di ceplok kek, mau direbus kek, mau diorak-arik kek, aku nggak pe-du-li." seru Tania sembari menunjuk-nunjuk Radit di akhir kalimatnya.


Tania merasa sangat kesal dan marah pada pacarnya itu.


"Auwh sakit banget,"


Radit terus mengadu kesakitan, air matanya sudah keluar sedikit disudut matanya.


"Dit, aku tuh nggak suka yah, kalau kamu semakin kurang ajar seperti itu sama aku." jelas Tania.


"Salah sendiri, siapa suruh kamu sering kontek-kontekan sama si Miko itu. Sampai dikasih hadiah segala lagi,"


"Dari mana kamu tahu?" tanya Tania bingung.


"Radiiit, kamu ini bener-bener yah. Suka banget ngutak-atik privasi orang."


"Kamu tuh yang bener-bener, Nia. Kamu tuh tau aku sayang banget sama kamu, kamu tau aku cinta banget sama kamu. Dan, kamu juga tau kalo aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu. Makanya kamu seenaknya mainin perasaan aku gitu aja, iya?"


Hati Tania terasa nyeri mendengar pernyataan Radit. Tidak tahu kenapa, ia jadi merasa kasihan sekaligus merasa bersalah pada kekasihnya itu.


"Nggak gitu juga, Dit. Aku selalu berusaha jaga hati kamu kok, beneran." ucap Tania.


"Kalo kamu peduli sama perasaan aku, kamu nggak mungkin mau nerima hadiah dari orang itu, Nia."


"Iyaaa, aku tau aku salah, aku minta maaf, Dit. Aku emang nerima hadiah dari Kak Miko. Tapi, aku nggak mau make, rencananya aku juga mau ngembaliin kok." jelas Tania.


Hal yang ditakuti dan khawatirkan Tania akhirnya benar-benar terjadi.


"Elah, alasan. Bilang aja, kalau kamu emang sukanya sama laki-laki dewasa seperti dia, yang sukses, mapan, dan bisa memberikan kamu segalanya. Dibandingkan aku, aku masih anak kuliahan. Minta uang pun masih sering sama orang tua."


"Nggak gitu, Dit. Aku sama sekali nggak tertarik sama Kak Miko."


"Bohong!"


"Dit, aku nggak bohong."


"Tok tok tok."


Tania dan Radit saling pandang. Tania kaget setengah mati. Ia takut kepergok berduaan dengan Radit didalam kamar itu.


"Dit, sembunyi sana, cepetan." kata Tania seraya berbisik.


Tania merasa sangat panik dan ketakutan.


"Biarin aja kita kepergok disini, Nia. Biar kita cepet dikawinin sekalian." ucap Radit bermasa bodoh.


Radit memang sudah tidak sabar ingin memiliki kekasihnya itu seutuhnya. Ia tidak mau Tania didekati oleh laki-laki manapun. Apalagi sampai direbut darinya.


"Kamu jangan bercanda, Dit. Ayo cepetan, sembunyi. Kamu mau Ayahku membunuh kita berdua, kalo aku sama kamu sampai kepergok, iya?" Tania jadi frustasi mendengar ucapan Radit.


Karena takut dan masih ingin hidup, Radit pun dengan sekuat tenaga mengesot menuju kamar mandi yang jaraknya agak jauh darinya. Kamar itu lumayan luas dan kamar mandinya terletak disudut ruangan.


"Tok tok tok." ketukan pintu pun semakin sering dan kencang.


"Mam*us aku. Semua ini gara-gara si Radit bren**ek." ucap Tania seraya menggigit kukunya.


Tania semakin frustasi melihat Radit yang tidak kunjung juga sampai di kamar mandi.


"Tok tok tok."


"Tania! Buka pintunya, Dek!" teriak Tasya sambil terus mengetuk pintunya.


"Cepetan, Dit ...." Tania semakin panik.


"Iya, iya sabar. Aku juga lagi usaha kok," ucao Radit sembari terus mengesot menuju ke kamar mandi.


Sementara itu, Tasya yang sudah mengetuk pintunya dari tadi menyangka kalau adiknya sedang tertidur. Ia pun lalu beranjak mengambil kunci cadangan di dalam laci dekat Tv. Setelah mendapatkan kuncinya, Tasya pun segera menghampiri pintu kamar yang ditempati Tania. Tanpa berpikir panjang, ia pun lalu memasukkan kunci itu kedalam lubang kunci. Dan,


Klik.


Suara kunci pintu sudah terbuka.