
H-1 Resepsi, Klinik Asy-Syifa
Setelah pulang kantor, Fathur menghampiri istrinya yang sudah selesai menerima dan memeriksa pasien di klinik milik dr. Fani. Untuk sementara, sekarang Fathur menggantikan posisi ayah mertuanya. Ia menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan milik mertuanya tersebut. Karena adik laki-laki Fani yang bernama Derry Achmad yang merupakan pewaris sah perusahaan masih melanjutkan kuliahnya di luar negeri untuk mengambil S2-nya yang sisa 2 semester lagi.
"Malam honey." sapa Fathur saat memasuki ruangan istrinya.

(Visual dr. Fani \=> dr. Shindy Putri)
"Tumben kamu pulang telat. Lagi sibuk yah?" tanya Fani.
"Hmm. Lagi ada sedikit masalah di kantor." jawab Fathur lalu menghampiri istrinya dan mencium keningnya.
"Gimana? Udah beres?" tanya Fani. Fathur hanya mengangguk.
"Halo sayang. Kamu nggak nakal kan didalam sana?" tanya Fathur pada jabang bayi yang ada didalam perut Fani sambil mengelus perut istrinya yang sudah sedikit buncit, namun belum terlihat begitu jelas karena usia kandungannya masih 15 minggu.
Fani tersenyum bahagia melihat suaminya yang begitu menyayanginya semenjak ia hamil. Dan Fathur juga sangat menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya. Sangat berbeda dibulan pertama pernikahan mereka, Fathur begitu dingin dan terkesan mengacuhkan istrinya. Namun dibulan kedua pernikahan mereka, pelan-pelan Fathur mulai menerima Fani sebagai istrinya. Ia berusaha keras untuk melupakan Tasya, gadis yang sangat ia cintai namun tidak bisa bersamanya karena terhalang restu mamanya.
"Honey, besok siang kamu sibuk nggak?" tanya Fani.
"Memangnya ada apa? Hm." tanya Fathur balik.
"Besok siang, aku akan menghadiri pesta pernikahan sahabat lamaku. Aku harap kamu mau menyempatkan diri untuk menemaniku kesana. Aku ingin mengenalkanmu pada teman-teman lamaku." jelas Fani penuh harap.
"Baiklah. Aku akan mengosongkan jadwalku besok siang." balas Fathur tidak ingin mengecewakan istrinya.
"Terima kasih honey." ucap Fani senang sambil memeluk kepala suaminya yang berjongkok di samping tempat duduknya.
***
Setelah Hendra dan Tasya berkeliling melihat dekorasi tempat resepsi mereka besok di aula hotel. Mereka sangat puas setelah melihat hasilnya. Mereka berdua sangat berterima kasih pada Pak Gunawan dan Bu Arini yang menghadiahi mereka resepsi yang sangat megah, mewah dan bisa dikatakan resepsi yang sangat sempurna.
"Terima kasih banyak pa, ma. Ini adalah kado terindah yang kalian persembahkan untuk kami." ucap Hendra terharu lalu memeluk papanya bergantian dengan mamanya.
"Terima kasih ma, pa." seraya memeluk ibu mertuanya. Tasya menitikkan air mata bahagianya. Ia sendiri tidak pernah menyangka dan tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk memiliki pesta pernikahan yang semegah dan semewah ini.
"Hahaha. Ya ya ya, mama setuju. Kami ini sudah berumur nak, sudah sepantasnya kami menimang cucu. Ini bukan yang pertama kalinya kan kami mengatakan hal ini." ujar Bu Arini menimpali.
"Papa sama mama jangan khawatir, in syaa Allah, kami akan segera mengabulkan keinginan kalian. Do'akan saja semoga Allah segera menitipkan kami amanah." balas Hendra. Tasya hanya tersenyum menanggapi pembicaraan ketiga orang itu.
"Yaa Allah, semoga saja aku bisa hamil secepatnya. Aku tidak ingin mengecewakan orang-orang baik seperti mereka." batin Tasya penuh harap.
***
Kamar Tasya dan Hendra
Mereka pun kembali ke kamarnya untuk beristirahat dan mempersiapkan tenaga mereka besok. Mereka lalu berbaring di tempat tidur setelah mengganti pakaian mereka dengan pakaian tidur.
"Sayang. Apa kamu suka dengan hadiahnya tadi?" tanya Hendra. Mereka berbaring sambil memiringkan badan mereka berhadapan satu sama lain.
"Tentu saja sayang. Aku sangat senang sekaligus bahagia. Aku sangat terharu tadi. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan memiliki pesta pernikahan yang begitu mewah, megah dan sesempurna itu. Terima kasih yah, sayang." ucap Tasya sambil mencium pipi suaminya.
"Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada mereka. Aku tidak melakukan apapun disana. Semua itu papa sama mama yang mengatur." jelas Hendra.
"Kamu tahukan cara berterima kasih pada mereka?" imbuh Hendra sambil tersenyum nakal.
"Ih, kamu ini." ucap Tasya seraya mencubit hidung suaminya. Ia tau maksud perkataan suaminya yang ujung-ujungnya minta jatah.
"Hehe. Sayang. Ayo kita tidur sekarang!" ajak Hendra sambil menarik badan istrinya untuk menempelkan ke badannya. Setelah itu, ia lalu memeluk tubuh mungil istrinya.
"Tumben,?" ucap Tasya seraya mengeryitkan dahinya. Ia heran melihat tingkah suaminya yang tidak seperti biasanya. Sebelumnya Hendra tidak pernah absen untuk mengajak istrinya bercinta sebelum tidur.
"Kenapa? Kamu mau?" goda Hendra sambil menaik turunkan alisnya.
Dengan cepat Tasya menjawab, "TIDAK." Hendra terkekeh mendengar jawaban istrinya.
"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu sayang?" tanya Tasya sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya heran.
"Tidak apa-apa kok sayang. Malam ini kita libur dulu bikin dede bayinya. Kita simpan saja tenaga kita untuk acara besok." jelas Hendra.
"Tapi ... besok malam dobel." bisik Hendra sambil tersenyum nakal. Membuat wajah istrinya merona kemerahan. Mereka pun lalu tertidur sambil berpelukan seperti biasanya.