How To Love You

How To Love You
Bab 85



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.


...----------------...


Spontan ia menutup mulutnya setelah berteriak. Ia lupa kalau sekarang dirinya dan Radit sedang ada ditempat umum saking terkejutnya mendengar ucapan Radit.


"Maafkan aku Nia. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar berharap kita bisa meneruskan hubungan kita ini ke jenjang yang lebih serius. Aku sadar kok, kalau kamu masih belum mencintaiku sampai saat ini. Dan aku juga nggak pernah lupa, kalau kamu mau jadi pacarku hanya karena terpaksa. Tapi, bukankah kamu sendiri yang sudah mengatakan, kalau kita jalani saja hubungan kita ini seperti air mengalir." Cerocos Radit dengan wajah sayunya. Ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan saat ini.


"Iya. Aku tahu kamu mencintaiku Dit. Tapi bukankah ini terlalu cepat untuk mengakuinya didepan keluarga kita? Aku masih ingin menjalaninya dengan santai, aku masih ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Mengetahui segala baik dan burukmu. Mengetahui dan merasakan apakah kita ini cocok atau nggak?" jelas Tania.


"Apanya yang salah Nia? Kedua orang tuaku sudah setuju dengan hubungan kita dan tante Indah pun juga sudah setuju. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah membuka hatimu untukku dan mulai belajar mencintaiku. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Dan, maaf ... kalau aku sedikit egois." balas Radit.


"Apa maksud kamu Dit? Kamu bilang ibuku juga sudah setuju dengan hubungan kita?" tanya Tania kurang percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Radit mengangguk. Tania semakin kesal melihat jawaban Radit.


"Sejak kapan?" tanya Tania sambil mendengus kesal.


"Sejak aku jemput kamu pertama kali dirumah kamu." jawab Radit.


"Apa? Raadiiit ..." pekik Tania. Kali ini Tania tidak peduli lagi kalau pengunjung lain melihat ke arahnya.


"Ada apa sih Nia sayang. Apanya yang salah? Kenapa kamu berteriak?" tanya Radit sambil melihat ke sekeliling. Ia takut pengunjung yang lain akan merasa terganggu dengan teriakan Tania padanya.


"Kamu kenapa sih Dit, bisa berani banget kayak gitu?" tanya Tania. Ia sebenarnya belum siap mengatakannya pada keluarganya karena dia belum mencintai Radit.


"Loh, harusnya kamu seneng dong sayang, dapat pacar cowok gentle kayak aku ini. Banyak loh cewek-cewek diluar sana yang mendambakan cowok ganteng dan gentle seperti aku ini." ujar Radit membanggakan diri.


"Gentle, gentle. Kamu kelewat gentle tau nggak. Yah sudah, pacaran aja sana sama cewek-cewek yang katanya suka sama cowok kayak kamu." ucap Tania kesal sambil melipat kedua tangannya didada.


"Loh, kok ngomongnya gitu sih sayang? Aku itu serius sama kamu Nia. Aku mau nikahin kamu nanti setelah aku lulus kuliah." jelas Radit. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Emang kamu pikir aku mau nikah sama kamu?" balas Tania ketus sambil masih melipat kedua tangannya didada.


"Kenapa enggak? Mana mungkin kamu nolak lamaran aku nanti, aku aja ganteng begini. Kamu pasti akan menyesal seumur hidup kalau kamu sampai menolakku nanti." ujar Radit dengan penuh percaya diri.


"Pede banget sih kamu Dit. Kenapa bisa yah, di dunia ini ada mahluk yang narsis banget kayak kamu? Heran." tanya Tania yang tidak habis pikir dengan kenarsisan hakiki yang dimiliki oleh Radit.


"Mungkin aku begini karena aku sudah over dosis mencintai dan menyayangi kamu Nia. Aku begini sama kamu aja loh sayang. Nggak pernah sama orang lain." jelas Radit berusaha merayu Tania yang masih marah padanya.


"Ih apaan sih. Norak banget. Aku mau pulang!" tutur Tania makin kesal. Ia lalu meraih tasnya dan beranjak meninggalkan cafe tanpa menunggu Radit.


"Tunggu Nia." teriak Radit. Ia pun lalu menyusul Tania yang sudah agak jauh didepannya. Radit sedikit berlari untuk menyusul Tania.


"Ih, apaan sih? Jangan pegang-pegang." ucap Tania sambil mendorong tubuh Radit kesamping. Hampir saja Radit terjatuh.


"Kenapa dek? Lagi berantem yah sama pacarnya?" tanya seorang ibu-ibu yang berjalan tidak jauh dari mereka.


"Biasa bu." jawab Radit sambil tersenyum.


"Pacarnya minta dicium kali adek ganteng. Nanti kalo adek manisnya sudah dicium, pasti nanti langsung berhenti marahnya sama adek ganteng." canda ibu-ibu itu. Radit hanya tersenyum menanggapi ucapannya.


"Apaan sih tuh si ibu. Nggak banget deh. Siapa juga yang mau dicium?" batin Tania makin kesal mendengar ucapan ibu-ibu itu sambil terus berjalan menuju excalator.


Radit berlari kecil menghampiri Tania yang sudah berdiri tangga. Ia lalu berdiri disamping Tania.


"Nia. Jangan ngambek dong. Jangan-jangan kamu memang beneran mau dicium lagi seperti kata si ibu tadi. Oh iya, bagaimana kalo aku cium kamu beneran sayang?" goda Radit.


"Liat aja kalau kamu sampai berani. Aku dorong kamu sampai jatuh kebawah." ancam Tania sambil menunjuk lantai dasar yang masih jauh dibawah sana.


"Seriusan nih?" goda Radit sambil tersenyum menatap Tania yang cemberut.


"Coba aja kalo berani!" seru Tania sambil membuang mukanya.


Radit tersenyum misterius mendengar ancaman Tania. Entah apa yang ada dipikirannya. Hanya Radit, tuhan dan author yang tahu.


Setelah mereka sampai di lantai dasar, Radit tiba-tiba saja memeluk bahu Tania dan,


"Cup." Ciuman lembut Radit mendarat dengan cepat di pipi Tania.


Mata Tania terbelalak mendapat ciuman kilat dari Radit. Ia lalu mendorong tubuh Radit untuk menjauhi dirinya. Namun Radit tidak bergeming, ia malah mempererat rangkulannya.


"Lepasin nggak!" seru Tania. Ia semakin marah, kesal sekaligus malu. Karena Radit berani menciumnya di tempat umum. Apalagi banyak pasang mata yang melihat mereka. tadi


"Kamu minta nambah sayang?" goda Radit sambil berbisik ditelinga Tania.


"Ih apaan sih, siapa juga yang mau?" ucap Tania membela diri.


"Kamulah. Tuh pipi kamu jadi merah begitu. Apa kamu suka aku cium? Bagaimana rasanya dicium sama cowok ganteng seperti aku?" goda Radit.


Tania makin geram mendengarkan ucapan Radit. Ia memilih untuk diam karena percuma ia mengajak Radit berdebat. Radit terlalu pandai berbicara, pikir Tania.


Meskipun bibir Tania menolak, namun hatinya sebenarnya mengatakan hal sebaliknya. Ia juga tidak tahu kenapa? Hanya saja ia merasakan hangat pelukaan dari laki-laki yang mencintainya itu. Ia merasa aman, nyaman sekaligus terlindungi saat Radit memeluk bahunya.