How To Love You

How To Love You
Bab 105



Pukul 06:17, Kamar Radit


"Tok tok tok."


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Radit. Tania pun segera membukakan pintu.


"Eh, masuk kak." ucap Tania setelah melihat sosok kakak iparnya yang berdiri dibalik pintu tersebut sambil membawa sebuah kantong kresek ukuran sedang ditangannya. Hendra lalu memberikan kantongan itu pada Tania.


"Apa ini kak?" tanya Tania setelah menerima kantongan itu.


"Sarapan buat kalian berdua dan buah untuk kalian berdua." jawab Hendra seraya berjalan masuk menghampiri Radit yang sedang tertidur pulas.


"Oh, makasih banyak yah kak." ucap Tania sambil berjalan dibelakang Hendra.


"Iya sama-sama. Bagaimana keadaan Radit?" tanya Hendra sambil duduk di pinggir tempat tidur Radit.


"Katanya sih udah agak enakan kak setelah aku kerokin tadi." jawab Tania.


"Oh, makasih yah Tania. Kamu sudah mau merawat dan menjaga Radit disini." ujar Hendra.


"Kak Hendra nggak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi tugasku." balas Tania.


"Asal Kak Hendra tau, Radit bisa jadi kayak gini tuh gara-gara aku." batin Tania.


"Oh iya kak, Kak Tasya mana? Kok nggak ikut?" tanya Tania.


"Dia ada dikamar, lagi tidur." jawab Hendra.


"Tumben?" tanya Tania sambil mengernyitkan dahinya.


Tania merasa kakaknya tidak seperti biasanya. Yang Tania tahu, kakaknya selalu bangun pagi-pagi sekali. Ia tidak tahu kalau sekarang Hendra selalu membuat kakaknya begadang semalaman. Pikirannya masih polos, ia belum berpikir sampai kesana.


"Tadi dia udah bangun kok. Tapi setelah dia sarapan dia tidur lagi." jelas Hendra.


"Oh." ucap Tania.


"Mungkin karena sekarang kita sedang ada di hotel, makanya Kak Tasya nggak bangun pagi-pagi seperti biasanya. Kalo dirumah kan banyak kerjaan, kalo disini nggak ada. Iya, pasti memang karena itu." batin Tania.


"Oh iya, Tania kamu masih bisa jaga Radit kan nanti?" tanya Hendra.


"Tentu saja kak, aku akan menjaganya sampai sembuh. Memangnya kenapa?" ujar Tania balik bertanya.


"Aku sama Tasya nanti mau ke salon. Kemungkinan kami pulang mungkin sore. Kamu bisa jaga Radit kan sampai tante Risna datang?" ujar Hendra.


"Hah? Tante Risna mau datang nanti? Jam berapa kak?" tanya Tania kaget.


"Gawat. Kalo sampe tante Risna tau Radit sakit gara-gara aku, pasti aku nanti bakalan dimarahin abis-abisan." batin Tania.


"Ada apa? Kenapa kamu kaget begitu." tanya Hendra.


"Eh, nggak kok kak. Aku nggak kaget." ucap Tania menyangkal lalu mengambil tempat duduk di sofa sambil meletakan kantongan yang dibawanya diatas meja.


"Nanti tante Risna sampai, mungkin sekitar jam 1 siang." kata Hendra.


"Oh. Pasti tante Risna khawatir sama Radit." imbuh Tania.


"Ya, begitulah. Namanya juga orang tua." jawab Hendra.


"Tania. Aku boleh minta sesuatu nggak sama kamu?" tanya Hendra.


"Eh, apa itu kak?" tanya Tania.


"Iya kak. Aku tahu. Selain dia sering ngomong. Dia juga membuktikan dengan tindakannya." balas Tania sambil mengingat perlakuan Radit terhadapnya. Hendra tersenyum mendengar ucapan Tania.


"Aku mau nanya sesuatu sama kamu. Tapi kamu harus jawab dengan jujur." ujar Hendra.


"Apa itu kak?" tanya Tania pelan.


"Apa kamu juga sayang sama Radit? Apa kamu juga cinta sama Radit? Seperti Radit mencintai dan menyayangi kamu." tanya Hendra. Ia sebenarnya tidak punya hak menanyakan isi hati Tania. Tapi demi Radit, adik sepupu kesayangannya itu, ia tidak malu menanyakan hal tersebut.


Tania terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf kalau aku lancang, berani bertanya seperti itu padamu. Sekali! lagi, aku minta maaf." ucap Hendra sedikit tidak enak pada adik iparnya.


"Eh, nggak apa-apa kok kak. Aku juga sebenarnya sayang kok sama Radit." jawab Tania spontan menutup mulutnya.


Untung saja Hendra tidak melihat ke arahnya. Hendra sedang fokus menatap ke arah Radit. Ia sangat kasihan padanya.


"Oops. Ini mulut, di filter dulu napa baru ngomong. Bikin malu aja. Nanti kalo si Radit denger gimana? Bisa GR kan dia." batin Tania.


"Syukurlah kalau begitu. Aku harap kamu nggak akan membuat Radit kecewa dan sakit hati." ujar Hendra.


"I iya kak." ucap Tania malu-malu.


"Yah sudah. Kalo gitu, aku balik ke kamar dulu yah." pamit Hendra.


"Iya kak." balas Tania.


"Oh iya, jangan lupa kasih Radit obatnya nanti setelah dia sarapan." pesan Hendra.


"Iya kak, pasti. Kak Hendra nggak perlu khawatir." jawab Tania.


Setelah Hendra meninggalkan kamar Radit. Tania membangunkan Radit untuk sarapan.


"Dit ... bangun Dit." ucap Tania sambil mengguncang pelan bahu Radit


"Hm." gumam Radit sambil masih memejamkan matanya.


"Ayo bangun. Sarapan dulu baru minum obat. setelah itu kamu boleh tidur lagi." ucap Tania membujuk Radit supaya mau bangun.


Radit membuka matanya, pelan-pelan ia membalikkan badannya yang tadi tidur sambil tengkurap berubah posisi menjadi telentang.


"Ayo bangun!" seru Tania.


Radit bangun dengan pelan, lalu bersandar di kepala tempat tidur. Sedangkan Tania mengeluarkan sandwich, 2 botol susu, buah dan air mineral yang diberikan oleh Hendra tadi dari dalam kantongannya.


"Kamu tadi habis dari luar yah waktu aku lagi tidur?" tanya Radit.


"Nggak kok. Aku nggak kemana-mana tadi. Aku disini terus nemenin kamu." jelas Tania.


"Terus, semua itu darimana?" tanya Radit sambil menunjuk makanan dan minuman yang diletakkan oleh Tania di meja nakas.


"Oh ini. Ini dari kak Hendra." jawab Tania.


"Kak Hendra tadi ada disini?" tanya Radit.


"Iya. Tapi tadi dia cuma sebentar aja kok, karena kamunya lagi tidur." jawab Tania.


"Oh." ucap Radit.


"Ini, makanlah. Kamu bisa kan makan ini?" kata Tania seraya mengarahkan sandwich ke mulut Radit.