
"Belanja ke mall sepuasnya." Tantri terkekeh setelah selesai meneruskan ucapannya. Miko ikut tertawa. Tadinya ia pikir gadis itu mau meminta dibawah ke tempat yang aneh-aneh ataupun ke tempat yang jauh. Nyatanya Tantri hanya ingin dibawa ke mall seperti biasanya karena gadis itu memang doyan belanja.
"Kamu ini. Ini pasti cuma akal-akalanmu saja, kan? Iya, kan?" ucap Miko sembari mencubit pipi Tantri saking gemasnya.
"Ya sudah. Kemana Anton? Aku ingin memberikannya hadiah karena dia sudah menjagamu tadi," tanya Miko sambil mengitarkan pandangannya ke sekeliling tapi ia tidak melihat sosok yang ia cari.
"Tadi sih katanya mau ke toilet. Tapi kok lama banget." Tantri kemudian mengambil ponselnya didalam tas lalu mencoba menghubungi Anton. Anton tidak menjawab telponnya. Tiba-tiba saja ia muncul dan menghampiri mereka.
"Eh, ada Kak Miko. Udah dari tadi, Kak?" tanya Anton sambil duduk diseberang Miko dan Tantri.
"Tidak juga."
"Ton. Katanya kak Miko mau ngasih kamu hadiah karena kamu udah jagain aku," ujar Tantri.
"Oh yah! Hadiah apa emang?" tanya Anton.
"Hadiah apapun yang kamu mau," jawab Miko.
"Hadiah apapun," gumam Anton seraya berpikir.
"Beneran nih, Kak hadiah apapun?" tanya Anton lagi.
"Iya, aku serius. Memangnya kamu mau hadiah apa?" tanya Miko.
"Mm ... aku mau dibeliin sepatu yang sama persis dengan yang, Kak Miko pakai sekarang itu," jawab Anton sambil menunjuk sepatu merek Jordan berwarna merah, putih, dan hitam yang dikenakan oleh Miko saat itu.
Miko tersenyum. "Selera kamu boleh juga bocah. Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!"
Mereka bertiga pun kemudian berangkat ke mall. Miko dan Tantri naik mobil sedangkan Anton mengendarai motor sportnya.
Sesampainya di mall, mereka segera menuju toko sepatu yang menjual sepatu bermerek yang diinginkan oleh Anton. Miko menanyakan sepatu yang sama persis seperti yang ia kenakan saat itu pada penjaga toko. Namun, sayangnya barangnya sudah habis terjual.
Miko tidak mau Anton kecewa. Ia pun kemudian memilihkan sendiri sneakers untuk Anton. Pilihannya jatuh pada sneakers warna putih dengan warna hitam pada logo centangnya, serta warna merah pada alasnya.
"Ton! Coba lihat ini. Aku pikir ini sangat keren dan pasti sangat cocok denganmu."
"Iya, Kak. Aku suka yang ini," ucap Anton.
"Benarkah? Bagaimana dengan ukurannya?"
"Pas." Anton mengacungkan jempolnya pada Miko sambil tersenyum.
Setelah Anton mantap dengan sneakers yang dipilihkan oleh Miko. Mereka pun berjalan menuju kasir.
"Berapa, Mbak?" tanya Tantri pada kasir. Ia begitu penasaran dengan harga sepatu tersebut.
What? 12 juta? Sepatu kok mahal banget. Batin Tantri sambil membulatkan matanya karena ia begitu terkejut mendengar nominal harga yang disebutkan oleh kasir tersebut. Sedangkan Anton terlihat biasa-biasa saja karena ia memang sudah tahu kalau harga sneakers merek tersebut harganya memang cukup mahal. Ia hanya ingin melihat seberapa besar Miko mencintai Tantri.
Usai Miko membayar belanjaan Anton, mereka pun segera meninggalkan toko tersebut.
"Kak Miko, makasih banyak yah," ucap Anton sambil tersenyum senang.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Karena kamu sudah menjaga Tantriku yang sangat berharga ini dengan baik," ucap Miko sambil mengusap-usap kepala Tantri yang berjalan di sampingnya.
Tantri tersipu malu mendengar Miko menyebutnya dengan kata Tantriku. Rasanya ia semakin dibuat jatuh cinta oleh pria dewasa itu.
Kak Miko kelihatannya benar-benar cinta dan sayang banget sama Tantri. Batin Anton sambil tersenyum ke arah Miko dan mengangguk.
"Kamu mau belanja apa, Tri?" tanya Miko.
"Mm ... nggak jadi, Kak."
"Loh, kok tidak jadi? Kenapa? Bukankah tadi ini ide kamu," tanya Miko heran.
"Mm ... aku nggak tau mau beli apa. Baju, rok, celana, hijab, tas, sepatu, jam dan sebagainya banyak. Bahkan ada yang belum pernah ku pakai sama sekali. Jadi nggak usah," jelas Tantri.
"Mm ... bagaimana kalau kita belanja make up saja?" usul Miko.
"Make up? Aku nggak tau make up, Kak. Aku kan cuma pake bedak bayi aja. Jadi nggak usah juga."
"Begitu yah. Bagaimana kalau skincare? Kata orang-orang kebutuhan cewek jaman sekarang itu ya salah satunya adalah skincare."
"Aku juga nggak butuh pakai skincare, Kak. Aku cerahin wajah aku pakai air wudhu aja," jawab Tantri lagi.
"Terus yang kamu butuhin sekarang itu apa?" tanya Miko sambil mengernyitkan dahinya.
"Yang aku butuhkan sekarang itu cuma ...."
"Cuma apa? Bilang saja. Aku pasti akan membelikannya untukmu."
"Nggak usah dibeli kok, Kak. Karena yang aku butuhkan sekarang itu cuma ... Kak Miko seorang." jawab Tantri sambil tersenyum lalu berlari mendahului Miko dan Anton.
Sejujurnya ia juga merasa malu dan geli mengungkapkan kata-kata itu. Tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga orang lagi jatuh cinta dan lagi bucin-bucinnya.
Miko menghentikan langkahnya. Ia tersenyum bahagia mendengar ucapan gadis itu. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Sudah pintar menggombal yah rupanya. Batin Miko sambil tersenyum sendiri.
Sementara itu Anton hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang sedang dimabuk cinta itu.