
Setelah melajukan mobilnya kurang lebih 20 menit. Sampailah mereka di depan Rumah Tania. Radit mengangkat semua barang belanjaan Tania dan meletakkannya di meja dan kursi teras.
Bu Indah keluar menghampiri mereka. Bu Indah kaget saat mendapati banyak belanjaan di teras rumahnya.
"Loh, apa ini nak Radit?" tanya Bu Indah pada Radit yang baru saja meletakkan barang-barang tersebut.
"Oh, ini belanjaan Tania tante." jawab Radit.
"Belanjaan Tania? Darimana Tania dapat uang buat belanja barang sebanyak ini? Apa jangan-jangan nak Radit yang membelikannya?" tanya Bu Indah mencoba menebak.
"Ehehe. Nggak apa-apa kok tante. Saya senang melakukannya." jawab Radit.
"Tetap saja ini nggak baik nak Radit. Kamu jangan sering-sering melakukan ini untuk Tania." ujar Bu Indah.
Tania baru saja turun dari mobil Radit, ia mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan ibunya. Ia tahu bu Indah pasti akan marah padanya nanti. Tania berjalan pelan melewati jalan masuk rumahnya menghampiri Ibunya dan Radit yang sedang berdiri sambil mengobrol di teras rumah.
"Tania. Ibu nggak pernah ngajarin kamu begini yah." ucap Bu Indah memarahi Tania.
"Mm ... anu bu. Radit sendiri kok yang mau beliin semua ini untuk Tania. Iya kan Dit." bohong Tania sambil mengedipkan matanya memberi kode pada Radit agar Radit mau membelanya.
"Betul sekali tante, Radit sendiri kok yang mau tante." ujar Radit.
"Apa benar begitu nak Radit? Kamu tidak sedang berbohong kan, untuk membela Tania?" tanya Bu Indah.
"Nggak kok tante." jawab Radit.
"Nak Radit, lain kali jangan lakukan ini lagi yah." kata Bu Indah memperingati.
Sebagai ibunya Tania, Bu Indah merasa tidak enak kalau Radit menghabiskan banyak uang untuk Tania anaknya. Apalagi mereka masih baru berpacaran. Apa kata orang nanti? Bu Indah tidak mau orang lain berpikir kalau Tania cuma memoroti uang Radit.
"Mm ... tergantung sih tante." balas Radit.
Radit berpikir tidak mungkin dirinya tidak memberikan apa-apa pada gadis pujaannya itu. Ia rela memberikan apapun selama ia mampu, yang penting Tania senang.
"Boleh, ngasih sesuatu, tapi jangan kebanyakan seperti ini juga nak Radit." kata Bu Indah.
"Hehe. Iya tante. Kalau begitu, tante, Nia, saya permisi dulu yah. Mari." pamit Radit.
"Iya, hati-hati yah nak Radit. Titip salam sama papa mamamu." ucap Bu Indah saat Radit mencium tangannya.
"Iya tante. Nanti saya sampein." balas Radit.
"Makasih yah Dit." ucap Tania.
Radit mengangguk lalu memberikan isyarat telepon menggunakan tangannya. Ia pun lalu melajukan mobilnya kembali kerumahnya.
"Hm ... anak jaman sekarang. Baru aja jalan bareng, pulang-pulangnya masih mau telponan." kata Bu Indah sambil geleng-geleng kepala.
Ia pun lalu mengangkat barang-barang itu masuk ke dalam rumahnya bersama Tania.
***
Kediaman Hendra dan Tasya, p****ukul 19:00 malam
Makanan sudah tertata rapi di meja makan. Hendra, Tasya, Pak Gunawan juga Bu Arini sudah berkumpul diruang makan untuk makan malam. Seperti biasa, Hendra yang memimpin doa sebelum makan. Setelah itu, mereka mulai makan tanpa bersuara sedikitpun. Tidak ada suara yang terdengar kecuali suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Setelah mereka selesai makan, Tasya dan Bu Arini masih di dapur. Tasya mencuci piring kotor bekas mereka tadi. Sedangkan Bu Arini duduk memperhatikan menantunya yang sedang bekerja sambil mengobrol dengannya.
Diruang keluarga, Hendra dan Pak Gunawan sedang membicarakan resepsi pernikahan Hendra dan Tasya yang kurang lebih 3 minggu lagi akan di selenggarakan di Kota ABC.
"Hend. Bagaimana undangan pernikahanmu? Apakah sudah kelar?" tanya Pak Gunawan yang duduk di sofa di seberang Hendra.
"Oh, masih lumayan banyak rupanya." ujar Pak Gunawan.
"Iya pa. Tapi rencananya Radit sama adik-adik Tasya masih mau bantu nyebarin kok pa." balas Hendra.
"Oh. Baguslah kalau begitu." sambung Pak Gunawan.
Tidak lama kemudian, Tasya dan Bu Arini datang bergabung. Mereka berdua duduk disamping pasangan mereka masing-masing.
"Oh iya, papa dan mamamu tadi sudah membicarakan tentang baju yang akan kami pakai diacara resepsi pernikahan kalian. Papa mau bikin setelan jas yang sama dengan besan papa. Hahaha." ujar Pak Gunawan.
"Iya benar, mama juga mau loh, bikin kebaya yang sama dengan ibu kamu." sambung Bu Arini.
"Oh yah, pasti akan sangat kelihatan bagus ma, pa." ucap Tasya sambil tersenyum senang.
"Bagaimana kalau adik-adik kamu dan sepupu-sepupu aku yang cewek dipesankan juga baju yang samaan." usul Hendra.
"Ide bagus sayang." balas Tasya setuju dengan usulan Hendra.
Setelah cukup lama berbincang tentang pernikahan Hendra dan Tasya. Pak Gunawan dan Bu Indah pamit undur diri. Anak dan menantu mereka menahannya untuk bermalam, namun mereka menolak dengan alasan tidak ada yang menjaga rumah. Karena pembantu mereka pulang saat sore hari.
Setelah mengantar kepulangan Pak Gunawan dan Bu Arini sampai diteras rumah mereka. Mereka pun masuk kedalam rumah berjalan sambil bergandengan menuju ruang makan.
"Sayang. Kamu duduk disini dulu yah, aku mau bikin sesuatu untuk kamu." ucap Hendra sembari mendudukkan istrinya di meja makan lalu membelai pipi istrinya dengan lembut.
"Iya sayang." jawab Tasya tersenyum dan menurut pada perintah suaminya.
Hendra lalu beranjak membuka lemari dapur, ia mengambil satu box susu ibu hamil rasa coklat yang ia beli di minimarket beberapa hari yang lalu. Tasya tersenyum memandang punggung suaminya dari belakang. Ia memperhatikan suaminya yang gesit membuatkan segelas susu coklat untuk dirinya. Setelah menyeduh susu itu dengan air hangat, Hendra pun lalu membawakan segelas susu coklat yang telah ia aduk ke hadapan istrinya.
"Silahkan diminum Tuan Putri." ujar Hendra saat meletakkan gelas yang berisi susu coklat itu di meja didepan istrinya.
"Terima kasih sayang." ucap Tasya sembari tersenyum lalu segera meraih gelas itu untuk meminum isinya.
"Minum sampai habis yah sayang." titah Hendra.
Tasya mengangguk lalu segera menyesap susu coklat hangat itu sampai habis. Hendra mengambil gelas kosong bekas susu itu lalu menyimpannya di tempat cuci piring.
Hendra membungkuk sambil memeluk istrinya dari belakang. "Sayang. Ayo naik dan bersiap-siap. Pertempuran sengit akan segera dimulai." bisik Hendra ditelinga Tasya. Ia lalu mengecup pipi istrinya diiringi dengan senyum nakalnya.
Wajah Tasya bersemu merah mendengar bisikan suaminya. Ia mengerti kalau suaminya sedang meminta haknya. Mereka pun berjalan sambil bergandengan menyusuri anak tangga naik ke kamar.
Sesampainya dikamar, Tasya langsung mengambil pakaian tidur di lemari pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Hendra duduk bersandar di kepala ranjang menunggu Tasya keluar sambil bermain game di smartphonenya.
5 Menit kemudian, Tasya keluar dari kamar mandi. Ia sudah siap dengan pakaian tidur terbuka berwarna coklat pekat yang ia pilih tadi. Warna pakaian itu membuat kulitnya yang putih mulus semakin bercahaya. Ia terlihat sangat seksi dan feminim mengenakan pakaian seperti itu yang hanya bisa dinikmati oleh suaminya semata.
Tasya berjalan pelan menghampiri suaminya ditempat tidur, jantungnya sudah berdebar-debar dari tadi. Hendra yang menyadari kedatangan sang istri segera meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Ia tersenyum puas melihat penampilan istrinya malam ini. Tasya yang gugup memilih berdiri di samping tempat tidur. Ia tidak langsung naik dikarenakan ia merasa malu-malu karena 1 minggu terakhir mereka tidak pernah melakukannya. Ia merasa gugup seperti di awal-awal pernikahan mereka.
"Kenapa berdiri disitu sayang? Ayo naik kesini!" panggil Hendra sambil mengulurkan tangannya memanggil istrinya naik ke tempat tidur.
Tasya menyambut uluran tangan suaminya, perlahan ia memberanikan diri dan mulai naik ke tempat tidur. Posisinya sekarang menunggangi Hendra yang duduk selonjoran sambil bersandar di kepala tempat tidur. Tasya melingkarkan tangannya dileher suaminya sesuai tuntunan pria tersebut. Sedangkan Hendra memeluk pinggang istrinya dengan sangat erat sambil menempelkan badan bagian depan istrinya didada bidang dan perutnya yang seperti roti sobek itu. Jarak antar wajah mereka sekarang hanya sekian sentimeter saja. Hendra menatap wajah istrinya yang sudah sangat dekat didepan matanya. Ia merasa istrinya berlipat-lipat kali lebih cantik saat dilihat dari dekat.
"Kamu makin cantik aja sayang." ucap Hendra.
Ia pun mulai mencumbui istrinya hingga akhirnya "kikuk-kikuk" pun tak bisa terelakkan lagi. Mereka melakukan aktifitas malam mereka hingga dinihari. Tasya benar-benar kewalahan dibuatnya. Entah sudah berapa kali ronde, tapi Hendra benar-benar tidak memberi ampun padanya. Hingga akhirnya, mungkin karena kasihan melihat istrinya yang sudah lemas tak berdaya, ia pun memilih untuk segera mengakhiri tembakannya.
"Semoga usahaku malam ini tidak sia-sia." ucap Hendra penuh harap lalu turun dari atas tubuh istrinya dan berbaring disampingnya.
Hendra mencium puncak kepala Tasya lalu memeluk erat tubuh mungil yang sudah kelelahan akibat ulahnya tersebut.
***