How To Love You

How To Love You
Bab 68



Note : Bab ini belum direvisi ,mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


"Mana kunci mobil kamu Dit? Biar mama yang ngambilin kalau kamu masih mau melanjutkan tidurmu." ujar Bu Risna.


Sekarang Radit pura-pura marah dengan alasan tidurnya terganggu, dia tidak mau memberikan kunci mobilnya pada siapapun. Berulang kali Bu Risna mencoba membujuknya, tapi Radit masih tetap pada pendiriannya. Ia tidak mau bangun kalau bukan Tania yang membangunkannya. Bu Risna putus asa, baru kali ini ia melihat anak laki-lakinya semarah itu saat ia membangunkannya. Apalagi Radit meminta yang aneh-aneh padanya.


"Ngebet kawin kali kamu Dit. Masa kamu nyuruh mama panggil anak gadis bangunin kamu. Nanti kalau tetangga sampai tahu, nanti mama dikiranya yang enggak-enggak lagi. Dikiranya nanti mama ngejerumusin anak mama kumpul kebo sama anak gadis orang." jelas Bu Risna. Ia mencoba mengingatkan anaknya kalau hal yang diminta Radit itu bukan hal yang baik.


"Mama tenang aja ma. Aku nggak bakal macam-macam kok. Aku cuma ada urusan sedikit sama Tania." balas Radit sambil membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya tadi.


"Urusan apa sih emangnya sampai-sampai kamu nyuruh mama panggil dia masuk ke kamarmu?" tanya Bu Risna kepo.


"Yah urusan penting ma. Urusan anak muda. Mama kepo banget ih." ujar Radit kesal.


"Kalau mama nggak mau gimana?" goda Bu Risna.


Radit bangun setelah mendengar ucapan mamanya yang menolak permintaannya.


"Ayolah ma. Sekali ini ... aja, mama bantu Radit yah. Ini menyangkut masa depan Radit ma. Please ..." mohon Radit sambil mengatupkan kedua tangannya di depan mamanya.


"Allaaah, belum lulus kuliah aja udah ngomongin masa depan. Selesaiin dulu kuliah kamu kalau kamu mau minta dikawinin." ledek Bu Risna. Radit hanya tersenyum malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mama mau bantuin kamu asal kamu harus janji satu hal sama mama." imbuh Bu Risna.


"Apa itu ma?" tanya Radit.


"Kamu harus janji sama mama kalau kamu nggak bakal ngapa-ngapain si Tania. Kalau sampai mama tahu kamu ngapa-ngapain Tania, apalagi sampai ngehamilin dia. Hm ... mama akan poootong kepala burungmu itu. Mengerti." Ancam Bu Risna sambil menunjuk kearah adik Radit. Ia mencoba menekankan ucapannya agar anaknya tidak macam-macam.


"Auwh. Jangan dong ma. Kalau punya Radit buntung mana ada perempuan yang mau sama Radit ma. Mama juga yang rugi kan nggak bisa dapet cucu dari Radit." jelas Radit sambil memegangi juniornya. Ia bergidik ngeri membayangkan ucapan mamanya. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri apalagi kalau sampai benar-benar terjadi, tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Makanya jangan macam-macam sama anak gadis orang. Mama juga nggak mau kalau adik kamu Rindi diperlakukan seperti itu sama laki-laki. Mengerti kamu." tegas Bu Risna.


Bu Risna menatap anaknya, ia melihat kalau Radit memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya, Radit tidak mungkin berbohong, pikir Bu Risna. Ia pun kemudian keluar dan memanggil Tania untuk masuk. Tania pun mengikuti Bu Risna. Saat mereka sudah ada ditangga, Tania bertanya.


"Tante. Kok kita naik ke atas?" tanya Tania bingung.


"Sudah. Kamu ikut tante aja yah, anak manis." jawab Bu Risna tersenyum sambil melanjutkan langkah kakinya menyusuri anak tangga. Tania mengikutinya dari belakang.


"Ayo Masuk! Radit nggak mau bangun kalau bukan kamu yang membangunkannya." jelas Bu Risna setelah mereka sudah sampai didepan pintu kamar Radit yang sudah terbuka lebar.


"Tapi tant ..." Tania ingin protes. Sungguh ini diluar dugaannya.


"Sudah masuk saja. Tante kebawah dulu yah bikinin kamu minum." potong Bu Risna.


"Nggak. Nggak usah repot-repot tante. Saya cuma sebentar kok, cuma mau ngambil handphone yang ketinggalan aja, abis itu langsung pulang." jelas Tania sambil tersenyum canggung.


Bu Risna hanya membalas senyum Tania lalu beranjak meninggalkan Tania.


Tania masih berdiri mematung diambang pintu. Ia merasa takut untuk masuk kedalam kamar Radit. Ini pertama kalinya dia masuk ke kamar cowok selain kamar Tama kakaknya. Ia merasa sangat malu dan canggung. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Masuk nggak yah? Masuk nggak yah? Masuk, nggak, masuk, nggak, masuk, ..." ucapnya sambil menghitung manik gelangnya yang menyerupai tasbih.


"Enggak." kata terakhir yang jatuh pada hitungan terakhir pada manik gelang itu. Ia pun memutuskan untuk berteriak memanggil Radit yang menutupi dirinya dengan selimut.


"Dit. Radit. Bangun Dit." teriak Tania pelan karena ia sadar kalau sekarang ia ada dirumah orang.


Tidak ada gerakan yang ditimbulkan Radit atas teriakan Tania yang berusaha membangunkannya.


"Dit. Radit ... Radit ... Radit. Radit. Radit ... Ra ... Dit. Ra ... Dit. Dit ... Oh ... Radit ... Radit. Oh ... Radit. Assalamu'alaikum ..." teriak Tania berulang-ulang.


Sudah lebih dari 10 menit Tania berteriak-teriak memanggil nama Radit. Namun tetap tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ditunjukkan oleh Radit. Karena putus asa dan sudah menyerah karena tenggorokannya sakit berteriak terus menerus memanggil nama Radit, ia pun memutuskan untuk mendekat dan membangunkan Radit agar ia bisa cepat pulang sambil membawa handphonenya.


Tania pun masuk sambil berjalan pelan penuh keraguan menuju tempat tidur Radit. Ia melihat ke kiri dan kekanan, namun ia tidak melihat ada sesuatu yang aneh dikamar itu. Ia pun terus melangkahkan kakinya hingga sampai di dekat tempat tidur Radit. Tania melihat ada sebuah buku diatas meja nakas dekat tempat tidur. Ia mencoba menggunakan buku itu untuk mencolek Radit dan membangunkannya.