How To Love You

How To Love You
Bab 42



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


Setengah jam kemudian, Hendra terjaga dan sudah mendapati istrinya tidur disampingnya. Ia pun bangun dan duduk dengan sangat pelan takut membangunkan istrinya.


"Yah ampun istriku sayang. Kenapa kamu bisa tertidur disini sih? Kenapa kamu tidak tidur di tempat tidur sana? Apa kamu sedang menungguiku?" batinnya lalu tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.


"Ternyata kamu juga bisa romantis yah hehe." batinnya lalu menggendong istrinya naik ke tempat tidur dan meletakkannya dengan pelan. Tasya tidak terbangun sama sekali, ia tertidur dengan sangat pulas.


Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Wah hasil riasanmu sangat bagus. Bagaimana aku tidak semakin tergila-gila kalau kamu berubah jadi semakin cantik begini. Apakah tadi kamu menungguiku karena ingin menunjukkannya padaku?" batinnya.


"Sayang aku sangat mencintai dan menyayangimu. Aku berharap kamu bisa membuka hatimu untukku dan mencintaiku seperti aku mencintaimu." batin Hendra sambil mengelus-elus kepala istrinya lalu mencium keningnya.


Ia pun lalu ikut berbaring menghadap ke istrinya lalu memeluknya.


"Sayang, apakah setiap tidur kamu selucu ini? Disentuh tapi tidak terjaga, hanya menggeliat sedikit saja. Jika benar iya, berarti aku bisa memeluk, mencium dan menyentuhmu sepuasnya saat kamu sedang tertidur. Hehe." batinnya. Tanduk kecil mulai keluar dari kepalanya. (😆Jangan dianggap serius yah pemirsa.)


Tangan nakalnya pun mulai menyusuri tubuh istrinya dengan pelan, takut istrinya bangun dan menangis seperti anak kecil lagi. Seiring dengan penjelajahannya, tiba-tiba juniornya terbangun dari peristirahatannya. Yah wajar saja, dia kan lelaki normal. Lagian lelaki mana sih yang tidak tergoda melihat wanita cantik tertidur dihadapannya. Apalagi itu istrinya sendiri.


"Sabar yah, belum waktunya kamu masuk sarang. Tunggu satu minggu lagi." ujarnya pada juniornya. Ia pun melanjutkan penjelajahannya lagi sampai ia merasa cukup puas.


***


Tasya pun akhirnya terbangun setelah hampir dua jam tertidur. Tidurnya sangat pulas, hingga tidak menyadari tangan jail suaminya sudah menyusuri lekuk tubuhnya jengkal demi jengkal. Ia kaget saat bangun dirinya sudah ada di tempat tidur. Ia mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.


"Loh, bukannya tadi aku tertidur disana?" gumamnya. Ia mulai bingung sendiri. Ia memeriksa seluruh pakaiannya.


"Syukurlah, masih lengkap." ujarnya lega sambil memegang dadanya.


Ia pun beranjak dari tempat tidur menuju ke sofa. Ia sudah menemukan secarik kertas yang bertuliskan sebuah pesan dari suaminya. Ia pun membacanya.


"Sayang. Aku keluar dulu sebentar. Tunggu aku pulang dan jangan kemana-mana." ucapnya membaca pesan Hendra.


"Ahhaa!" muncul ide.


"Mumpung si Puss lagi keluar, aku mau berendam dulu ah." ujarnya dengan penuh semangat. Ia pun berlari masuk ke kamar mandi. Ia bahkan lupa mengambil pakaian ganti di lemari saking bersemangatnya.


Byur ... byur ...


"Mandi mandi busa. Ah senangnya ..." katanya sambil menyanyi-nyanyi menggosok-gosok badannya lalu menenggelamkan tubuhnya sampai ke leher.


Setelah mandi, ia baru ingat kalau ia lupa bawa pakaian ganti.


"Ampuun ... bodoh bodoh bodoh. Kenapa aku sampai lupa." mengatai dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk jidatnya.


"Semoga saja ada sesuatu yang bisa aku pakai disini." katanya sambil membuka lemari yang ada dikamar mandi.


"Hah, kenapa isinya cuma handuk seperti ini sih? Ini kan terlalu pendek untukku. Tidak adakah handuk atau jubah mandi untuk wanita disini?" ia mulai putus asa karena tidak menemukan apa yang ia harapkan.


"Tidak ada pilihan lain, terpaksa aku harus menggunakan handuk pendek ini. Semoga saja si Puss belum pulang." Ia pun melangkah keluar membuka pintu dengan sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun setelah mengenakan handuk tadi. Handuk itu menutupi dadanya hingga pahanya satu jengkal diatas lutut.


Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mendapati Hendra sedang main game di hpnya sambil bersandar di tempat tidur. Ia menutup pintu kamar mandi kembali.


"Tasya bodoh bodoh bodoh. Kenapa kamu bisa seceroboh ini sih, tidak membawa pakaian ganti saat masuk ke kamar mandi. Mana baju yang tadi sudah aku cuci lagi." Ia semakin putus asa.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ia berpikir sambil mengigit jarinya.


Setelah cukup lama berpikir namun tidak menemukan jalan keluar sedikitpun. Ia pun mencoba keluar dengan sangat pelan tanpa menimbulkan suara agar Hendra tidak menyadarinya.


"Aduh lemari, kenapa kamu jauh sekali sih. Tidak bisa kah kamu mendekat ke arahku. Ayo sini mendekatlah, mendekatlah wahai lemari. Aku berjanji tidak akan memukulmu kalau kamu menolongku kali ini." batinnya.


"Yang benar saja, lemari kan benda mati. Mana bisa membantuku. Kalau pun aku memukulnya pasti tanganku juga yang sakit." batinnya mencoba berpikir waras.


"Baiklah. Aku akan berjalan kesana tanpa menghiraukan si Puss. Sekarang dia sedang serius main game di handphonenya. Semoga saja dia tidak melirikku." batinnya lalu berlari pelan sambil menjinjit-jinjitkan kakinya seperti pencuri.


"Jangan berbalik, jangan berbalik aku mohon jangan lihat aku. Wahai handphone tolong bantu aku, buat dia fokus hanya padamu. Jangan biarkan dia melihatku dengan penampilan seperti ini." batinnya sambil terus berlari pelan.


"Semakin dekat, semakin dekat. Oh lemariku sayang aku mencintaimu. Wahai handphone, aku sangat berterima kasih padamu, muah." batinnya. Ia sekarang berjarak kurang dari satu meter dari lemari pakaiannya.


"Sayang. Kenapa kamu lama sekali?" kata Hendra sambil meletakkan hpnya di kasur.


Dduar.


"Ah em ... itu. Masa sih sayang?" Suara Hendra membuatnya berhenti sejenak. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku harus mengambil pakaianku secepatnya." batinnya buru-buru membuka lemarinya.


"Yang mana yah? Yang mana yah." batinnya. Ia tidak bisa berpikir jernih karena perasaan was-was.


Tiba-tiba Hendra memeluknya dari belakang.