How To Love You

How To Love You
Bab 79



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.


...----------------...


Sementara itu Radit didalam mobilnya sedang memikirkan ucapan Liana tadi yang menyuruhnya mencium Tania untuk membangunkannya.


"Cium nggak yah? Kalau aku cium, nanti Nia marah lagi sama aku. Ah nggak nggak, nggak boleh." batin Radit.


Setelah berpikir beberapa saat.


"Ah ... nggak ada pilihan lain. Maaf Nia. Aku terpaksa melakukan ini. Aku nggak tau sampai kapan kita berada disini kalau aku nggak membangunkan kamu sekarang juga." batin Radit.


"Cup." Radit mencium pipi Tania dengan cepat dan lembut. Radit merasa sangat senang dan bahagia karena berhasil mencium pipi gadis pujaannya. Hatinya terasa berbunga-bunga saking bahagianya.


Tania menepuk pipinya lalu menggaruk-garuknya. Pelan-pelan ia membuka matanya. Ia tidak sadar kalau Radit sudah mencium pipinya tadi. Ia mengira tadi yang hinggap dipipinya adalah lalat makanya ia menepuknya. Ia lupa kalau sekarang dirinya sedang tidur didalam mobil, mana mungkin ada lalat.


Radit senyam-senyum menatap Tania yang sudah terjaga dari tidurnya.


"Ternyata cara yang diajarkan si Liana itu benar-benar manjur juga yah. Hehe. Lain kali wajib dicoba." batin Radit senang sambil masih senyam-senyum.


"Kamu kenapa senyum-senyum? Kesambet yah?" tanya Tania heran melihat tingkah Radit.


"Nggak kok. Aku cuma seneng aja liat pacarku yang cantik bangun tidur." jawab Radit sambil menatap lekat wajah Tania.


"Gombal." balas Tania. Pipinya merona karena malu.


Tania pun membuka tasnya dan mencoba mengecek layar ponselnya. Matanya terbelalak melihat jam di hpnya. Pukul 15:30.


"Radit ... kenapa nggak bangunin aku?" pekik Tania.


"Aduh ... biasa aja dong Nia sayang." ucap Radit sambil mengusap-usap telinganya.


"Kenapa nggak bangunin aku?" tanya Tania lagi. Kali ini nada suaranya sudah kembali normal seperti biasanya.


"Yah karena aku takut diomelin lagi sama kamu kayak tadi." jawab Radit polos.


"Yah ampun. Dit ... Dit." ucap Tania sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayo keluar! Aku kebelet pipis nih." ajak Tania.


Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam mall. Tania buru-buru berjalan menuju toilet ia sudah tidak tahan lagi. Radit hanya mensejajarkan langkahnya dengan Tania. Setelah jarak toilet sudah cukup dekat. Tania berhenti lalu berkata pada Radit,


"Dit. Kamu tunggu dulu disini yah." ujar Tania pada Radit.


"Oke sayang." jawab Radit seraya mengangguk.


"Liana. Kamu bikin kaget aja." ucap Radit setelah melihat Liana yang ada dibelakangnya.


"Dit. Itu pacar kamu yah? Apa dia gadis yang kamu ceritakan tadi malam?" tanya Liana penasaran.


"Iya. Dia orangnya. Memangnya kenapa?" tanya Radit balik.


"Tadi dia mau ke toilet?" tanya Liana ingin memastikan.


"Iya, dia mau ke toilet. Ada apa sih emangnya?" ucap Radit balik bertanya lagi.


"Kebetulan sekali Dit. Si Yuda masuk kedalam toilet bersama cewek seksi tadi. Sepertinya kita tidak perlu repot-repot menjebak si Yuda brengs*k itu." jelas Liana memberi tahu Radit.


"Apa? Kamu serius? Maksud kamu Yuda masuk toilet wanita?" tanya Radit. Ia kaget sekaligus senang karena ia tidak perlu capek-capek turun tangan untuk menunjukkan kebusukan Yuda pada Tania.


"Iya. Aku liat dengan mata kepala aku sendiri." jawab Liana meyakinkan Radit.


"Bener-bener gila tuh si Yuda. Apa dia nggak takut apa ditangkap sama petugas keamanan? Lagian, emang nggak ada tempat lain, masa mau gituan di toilet umum." ucap Radit geleng-geleng kepala dengan kelakuan si Yuda.


"Pasti dia udah nggak bisa ngendaliin hawa nafsunya. Makanya dia ngajak cewek itu main di toilet." jelas Liana terkekeh.


"Ayo kita kesana Dit!" seru Liana mengajak Radit pergi ke toilet menyusul Tania.


Mereka pun berjalan cepat menuju toilet.


Sementara itu diwaktu yang sama, didalam toilet. Tania mendengar suara yang aneh di toilet sebelahnya. Samar-samar ia seperti mendengar suara laki-laki dan perempuan. Tapi ia tidak tahu apa yang dibicarakan dan dilakukan kedua orang itu disana.


"Loh, ini kan toilet cewek. Kenapa disebelah kayak ada suara laki-laki yah? Apa jangan-jangan mereka sedang begituan di toilet? Ih gila yah. Aku harus cepat-cepat keluar dari sini." batin Tania.


Tania pun cepat-cepat menyelesaikan aktifitasnya dan segera keluar dari tempat itu secepat mungkin.


Pada saat yang bersamaan, Tania dan laki-laki yang ada di toilet sebelahnya itu keluar secara bersamaan. Tania tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sangat kaget setengah mati melihat sosok lelaki yang ada didepannya. Laki-laki itu ternyata Yuda.


Hatinya terasa sakit dan ngilu. Ia merasa sedih dan kecewa melihat orang yang ia sukai selama ini ternyata laki-laki bejat. Namun Tania berhasil menguasai dirinya, ia sadar kalau dia bukan siapa-siapanya Yuda. Ia tidak berhak marah apalagi sampai mengata-ngatainya. Selama ini mereka memang cukup dekat dan akrab tapi status mereka hanyalah sebatas teman biasa, tidak lebih. Jadi, Tania merasa tidak sepantasnya ia marah pada Yuda.


Begitu pula dengan Yuda, Yuda juga sangat kaget melihat Tania ada didalam toilet itu. Ia bingung dan tidak meyangka, kenapa bisa ada orang lain masuk ke tempat itu. Mengingat ia sudah membayar petugas penjaga toilet yang ada di luar agar tidak membiarkan pengunjung lain masuk. Tapi karena tadi Tania sudah sangat kebelet dan memohon-mohon pada petugas penjaga itu, petugas penjaga itu pun merasa kasihan lalu mengijinkan Tania masuk.


Mereka saling menatap dan diam mematung beberapa saat. Tania tidak tahu harus berkata apa, begitupula dengan Yuda. Sampai akhirnya cewek yang bersama Yuda itu pun keluar dari tempat pergerumulannya tadi.


"Ada apa Bab?" tanya Rossa dengan tidak tahu malunya keluar dari tempat itu sambil merapikan pakaian dan rambutnya.


"Loh. Kok bisa ada orang lain masuk?" tanya Rossa yang tidak kalah terkejut dan bingungnya.


"Maaf. Saya nggak liat kok." Ucap Tania lalu segera berlari hendak keluar meninggalkan toilet itu secepatnya. Tapi Yuda mengejar dan menarik tangannya.