How To Love You

How To Love You
Bab 104



Kamar Radit


Tania duduk di pinggir tempat tidur Radit. Ia memandang wajah tampan yang sedang tertidur, di hiasi dengan selembar sapu tangan yang menempel di jidat pemuda tampan tersebut.


"Dit. Maafin aku yah." ucap Tania lirih sambil menggenggam tangan Radit dan mengelusnya menggunakan ibu jarinya.


"Aku tau, kamu begini gara-gara aku."


"Aku minta maaf."


"Seharusnya, aku membujuk kamu tadi bagaimana pun caranya sampai kamu mau ikut masuk denganku."


"Maafin aku yah. Sebagai permintaan maafku, aku akan merawat kamu sampai kamu sembuh."


"Cepat sembuh yah, sayang." ucapnya lirih lalu memindahkan tangannya mengelus puncak kepala Radit dengan lembut.


Tania hendak beranjak ke sofa tempat ia beristirahat malam ini. Tiba-tiba Radit menarik tangan Tania. Sebenarnya ia tidak tidur, ia mendengar semua yang dikatakan oleh Tania barusan. Tania berbalik kaget karena Radit menarik tangannya


"Eh, kenapa kamu bangun Dit. Apa kamu butuh sesuatu. Bilang aja, biar aku ambilkan." ucap Tania berbalik ke arah Radit.


"Kamu bilang apa tadi. Coba ulangi sekali lagi." Radit ingin mendengar lagi kata sayang seperti yang diucapkan oleh Tania barusan.


"Hm? Maksudnya? Apa?" tanya Tania. Ia berpura-pura tidak tahu. Ia merasa sangat malu pada Radit. Untung saja Radit tidak melihat wajah Tania yang sudah bersemu merah karena hanya lampu tidur saja yang menyala.


"Kamu bilang apa tadi? Kata terakhir kamu sebelum kamu beranjak. Aku mau mendengarnya sekali lagi." jelas Radit. Ia sangat ingin mendengar sebuah kata yang mampu menjadi mood booster baginya.


"Yang mana? Mm ... oh, tadi aku bilang kamu kenapa bangun." ucap Tania pura-pura lupa. Ia sebenarnya tahu apa yang dimaksud oleh Radit. Tapi ia merasa sangat malu kalau harus mengatakannya lagi.


"Bukan. Yang satunya lagi." kata Radit. Mencoba mengingatkan Tania.


"Yang mana yah Dit? Mm ... aku bilang apa tadi yah? Kok aku bisa lupa yah? Oh aku ingat, aku bilang, aku minta maaf." ucap Tania sambil pura-pura berpikir.


"Ck. Kamu ini." Radit berdecak kesal. Memang sangat sulit mengingatkan orang yang pura-pura lupa.


"Sudah larut Dit, kamu tidur aja lagi yah. Aku juga udah ngantuk banget nih. Hoaam." ucap Tania seraya melepaskan tangannya dari genggaman Radit.


Tania pun naik di sofa lalu berbaring sambil mengenakan selimut.


"Apa kamu nggak apa-apa tidur disitu Nia?" tanya Radit. Ia sebenarnya kasihan melihat gadis pujaannya tidur di sofa. Sementara ia sendiri tidur dikasur yang besar dan empuk.


"Nggak apa-apa kok. Kamu tidur lagi yah Dit. Selamat malam." ucapnya sambil tersenyum melihat ke arah Radit lalu memejamkan matanya.


Keesokan Harinya, Pukul 04:25


Tania terjaga dari tidurnya, pelan-pelan ia bangun dan duduk sambil mengucek-ngucek matanya. Betapa bingungnya saat ia melihat dirinya dan Radit bertukar tempat tidur. Radit tidur di sofa sedangkan dirinya tidur di tempat tidur.


"Mungkinkah aku sedang bermimpi?" gumam Tania sambil mengucek-ngucek matanya.


"Loh, kok beneran sih?" tanya Tania bicara sendiri.


"Tapi kok, aku nggak ingat apa-apa sih? Kok aku bisa ada disini." Bingung.


"Hm ... pasti Radit yang mindahin aku kesini. Nggak salah lagi."


Tapi sebelum Tania kembali ke kamarnya, ia menghampiri Radit untuk membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke tempat tidur. Sekaligus untuk memeriksa suhu badannya.


"Dit ... Dit ... bangun." Tania membangunkan Radit untuk menyuruhnya pindah ke tempat tidur.


"Ja jangan ... jangan ..." Radit mengigau.


"Dit ... Radit. Ayo bangun. Kamu ngigau yah." Tania menggoyangkan badan Radit supaya bisa terbangun dari mimpinya.


"Nia. Jangan pergi." ucap Radit lagi sambil masih belum terbangun dari tidurnya.


"Hah? Kamu mimpiin aku yah? Ayo bangun Dit." ucapnya sambil menepuk pelan pipi Radit.


Radit pun akhirnya membuka matanya saat merasakan sentuhan Tania di pipinya.


"Kamu mimpi apa sih Dit, sampai keringatan gini? Yah ampun badan kamu juga masih panas." tanya Tania sambil menyeka butiran keringat yang ada di jidat Radit.


"Aku mimpi buruk Nia." jawab Radit.


"Mimpi buruk?" tanya Tania. Radit hanya mengangguk.


"Yah udah. Kamu bangun dulu yah Dit. Terus pindah ke tempat tidur. Aku bantuin kamu bangun yah." ucap Tania dengan lembut. Radit mengangguk setuju.


Tania membantu Radit bangun pelan-pelan lalu memapahnya sampai duduk di pinggir tempat tidur.


"Nia. Kepalaku pusing." ucap Radit sambil memegangi kepalanya.


"Aku kayaknya mau ... uweek ..." Radit menutup kedua mulutnya lalu dengan cepat berlari masuk kedalam kamar mandi, ia hendak muntah.


"Yah ampun Dit. Kamu mau muntah." ucap Tania sambil mengikutinya dari belakang.


"Uweek ... uweek." Radit muntah.


"Yah ampun Dit." ucap Tania sambil memijit tengkuk Radit.


Setelah selesai muntah, Tania membawa Radit kembali ke tempat tidurnya lalu membaringkannya di tempat tidur.


"Kamu baring dulu yah Dit. Aku mau balik kekamar dulu." ucap Tania sembari membaringkan Radit.


"Kamu mau ngapain. Jangan ninggalin aku sendirian Nia." ucap Radit seraya menggenggam erat tangan Tania.


"Nggak Dit. Aku cuma mau balik ke kamar ambil pakaian ganti doang. Terus aku juga mau nyari koin buat kerokin kamu nanti." ujar Tania.


"Tapi jangan lama-lama yah." ucap Radit seperti anak kecil yang takut ditinggal oleh ibunya. Tania tersenyum sambil mengangguk.


"Kamu tenang aja. Aku nggak bakalan lama kok. Aku juga nggak mungkin kan ninggalin kamu lama-lama disini sendiri. Aku juga khawatir tau sama kamu, Dit." ucap Tania sambil mencubit pipi Radit lembut. Radit hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Yah udah. Kamu istirahat dulu yah. Aku tinggal sebentar." ujar Tania seraya memakaikan selimut pada Radit sampai ke dada.


Setelah itu, Tania pun keluar dari kamar Radit menuju ke kamarnya.


"Nia. Andai sakit itu enak. Aku mau sakit aja terus biar kamu terus perhatian seperti ini ke aku." ucap Radit lirih.