
Tibalah waktunya makan malam, barulah Miko bisa melihat Tania. Tania sekarang sudah duduk di samping Radit. Radit sudah mengatur tempat duduknya agar Miko tidak sampai duduk di samping Tania.
Makan malam berjalan lancar, mereka semua makan tanpa bersuara. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Hanya Radit yang tidak terlalu menikmati makan malamnya malam itu. Ia kesal karena Miko selalu mencuri pandang ke arah kekasihnya. Sedangkan Tania hanya fokus pada makanannya. Dan sesekali Tania melayani Radit, memberikan lauk ataupun nasi saat Radit memerlukannya.
Miko terkesima melihat perlakuan Tania pada Radit. Ia membayangkan dirinya yang mendapat perlakuan seperti itu dari Tania. Sungguh gadis yang sangat manis, pikir Miko.
Setelah semua selesai makan malam, Tania membantu meringankan beban pekerjaan Bi Ani. Tania menyuruh wanita paru baya itu untuk beristirahat dikamarnya, biar ia sendiri yang membereskan piring kotor bekas mereka barusan. Bi Ani menurut, karena ia memang sudah merasa cukup lelah. Ia pun lalu beranjak masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Radit sudah seperti body guard untuk Tania. Radit tidak mau meninggalkan Tania sendirian disana. Ia tidak mau orang lain mengambil kesempatan untuk mendekati gadis kesayangannya saat dirinya tidak ada disana.
Setelah pekerjaannya selesai, Tania pun lalu beranjak naik ke kamar atas. Setelah memastikan Tania sudah masuk ke kamarnya, Radit pun juga masuk ke kamar yang biasa di tempati oleh Tania. Karena kamar yang biasa di tempati oleh Radit, sekarang di tempati oleh Miko.
Hendra dan Miko masih duduk diruang tengah. Mereka berdua masih betah mengobrol disana. Hingga akhirnya mereka pun sama-sama mengantuk dan masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Keesokan Harinya, Pukul 05.05
Usai sholat subuh, Tania berniat untuk turun membantu Bi Ani membuat sarapan. Saat ia keluar dan menuruni anak tangga, ia melihat wanita paru baya itu sedang mengepel di ruang tengah. Ia pun memutuskan untuk menyapanya sebentar.
"Selamat pagi Bi!" sapa Tania.
"Pagi, non. Pagi bener bangunnya," ujar Bi Ani.
"Kan abis sholat subuh Bi." jawab Tania.
"Iya juga yah." ucap Bi Ani.
Setelah mengobrol sebentar dengan Bi Ani, Tania pun beranjak menuju dapur. Ia ingin membuat sarapan untuk seluruh penghuni rumah itu. Saat ia sedang mencari bahan-bahan makanan di kulkas, ia dikejutkan oleh suara seaeorang.
"Lagi ngapain?" tanya Pria itu.
"Astagfirullah hal adzim." ucap Tania tersentak kaget sambil memegangi dadanya.
"Kenapa kamu kaget begitu?" tanya Pria itu.
"Ih, Kak Miko yang ngagetin. Lagian ngapain bangun jam segini?" tanya Tania.
"Memangnya ada undang-undang yang melarang laki-laki untuk bangun lebih pagi?" tanya Miko.
Sebenarnya Miko buru-buru bangun karena samar-samar ia mendengar suara Tania sedang berbicara dengan Bi Ani tadi.
"Nggak ada sih Kak," jawab Tania.
"Itu kamu lagi ngapain?" ucap Miko mengulang kembali pertanyaannya.
"Oh, ini, aku lagi nyari bahan buat sarapan Kak." jawab Tania.
"Memangnya kamu mau masak apa?" tanya Miko lagi.
"Belum tau Kak, ini aku baru nyari bahan makanan." jawab Tania.
"Yah udah, sini, biar aku yang pilih," ucap Miko.
"Kamu suka nasi goreng?" tanya Miko.
"Suka." jawab Tania seraya mengangguk.
Miko pun membawa semua bahan yang ia perlukan ke dapur.
"Ayo, sini aku ajarin cara masak nasi goreng spesial ala restoran." ujar Miko.
Tania pun lalu berjalan ke arah Miko. Miko pun lalu mulai mengajari Tania cara membuat nasi goreng spesial. Miko tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Tania dengan caranya sendiri. Sesekali Miko menyelingi kegiatan mereka dengan kalimat lelucon, membuat gadis itu terus-terusan saja tertawa.
Menurut Miko, Tania yang sekarang jauh berbeda dengan Tania yang ia temui beberapa waktu lalu. Tania yang ia kenal sekarang ternyata sosok gadis yang ceria, asyik dan nyambung jika diajak mengobrol. Karena sebelumnya Tania sangat cuek padanya. Mungkin karena waktu itu mereka baru saling mengenal, pikir Miko.
Beberapa saat kemudian, nasi gorengnya pun sudah matang. Miko menata nasi goreng itu secantik dan semenarik mungkin. Persis seperti nasi goreng yang disajikan di restoran-restoran mewah. Setelah selesai menatanya, Miko lalu mengambil satu sendok kemudian mengarahkan ke mulut Tania.
"Ayo, buka mulutmu!" seru Miko.
Tania diam mematung melihat perlakuan Miko padanya. Ia merasa sedikit ragu untuk membuka mulutnya.
"Kenapa? Ayo buka mulut!" ujar Miko lagi sambil memamerkan senyum mautnya.
Tania seperti terhipnotis melihat senyuman manis milik Miko. Sepertinya ada sesuatu yang memaksanya untuk membuka mulutnya. Ia pun kemudian disuapi oleh Miko.
"Cantik-cantik kok makannya belepotan." ucap Miko seraya mengusap bibir Tania menggunakan ibu jarinya.
Tania menunduk malu saat mendapat perlakuan seperti itu dari Miko. Sebenarnya tidak ada nasi yang menempel dibibir Tania. Hanya saja Miko begitu tergoda melihat bibir imut dan mungil milik gadis itu. Miko tidak mungkin berani mencium Tania. Karena ia tahu, pasti Tania akan marah padanya dan mengecapnya dengan sebutan cowok bre***ek.
Miko mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat ia menyaksikan pertengkaran Radit dan Tania. Ia melihat Radit mencium Tania waktu itu dan spontan Radit mendapatkan tamparan keras dipipinya akibat kelancangannya. Miko tidak mau Tania membencinya.
Nasi goreng itu mulai menari-nari diatas indera pengecap milik Tania. Ia merasakan cita rasa yang begitu luar biasa dari nasi goreng buatan Miko. Tania benar-benar terkagum-kagum dengan keahlian memasak yang dimiliki oleh pria itu. Ini pertama kalinya ia memakan nasi goreng yang luar bisa enaknya. Mungkin karena Miko memasaknya dengan penuh cinta. Makanya nasi goreng buatannya itu bisa seenak itu. Di tambah lagi, ia memang seorang Chef yang handal.
"Bagaimana?" tanya Miko.
"Enak banget Kak. Ini pertama kalinya aku makan nasi goreng seenak ini. Kak Miko memang hebat." puji Tania sembari tersenyum lalu mengacungkan kedua jari jempolnya ke arah Miko.
Miko tersenyum puas saat Tania memuji nasi goreng buatannya. Sekarang ia ingin meminta Tania untuk menyuapinya.
"Ini, sekarang giliran kamu. Suapi aku. Aa ..." kata Miko. Ia memberikan sendok pada Tania lalu ia membuka mulutnya minta disuapi.
Tania merasa ada yang tidak beres dengan Miko. Ia merasa perlakuan pria itu sedikit berlebihan. Seperti ada maksud tersembunyi di balik sikap baiknya selama ini.
Jangan-jangan, yang dikatakan Radit selama ini benar. Ah, tidak mungkin! Mungkin akunya aja yang kegeeran. Mana mungkin Kak Miko suka sama aku. Kalo Kak Miko mau, dia bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari aku. Aku nggak boleh berprasangka buruk pada Kak Miko. Batin Tania.
Tania pun mengambil satu sendok nasi goreng kemudian mengarahkan ke mulut Miko yang sudah menganga dari tadi.
"Nia!"
Suara panggilan yang begitu akrab menggelegar memenuhi ruangan. Spontan Tania menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah asal suara.