
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.
...----------------...
Hendra dan Tasya sudah sampai di depan kelas.
"Sayang. Aku ikut masuk yah. Aku masih mau sama kamu." kata Hendra sambil menggenggam erat tangan Tasya.
"Boleh sayang tapi jangan lama-lama yah. Bentar lagi dosennya masuk." jelas Tasya.
"Iya sayang. Cuma 3 Menit aja kok." ujar Hendra.
Tasya mengangguk sambil tersenyum. Mereka pun masuk bersama. Tasya duduk di bangkunya sedangkan Hendra duduk di bangku samping kiri Tasya. Kebetulan yang punya bangku belum datang, jadi Hendra memilih duduk disitu.
Teman-teman dekat Tasya yang ada di dalam kelas itu sudah saling berbisik-bisik dari tadi. Mereka mengira kalau Tasya dan Hendra berpacaran. Mereka tidak tahu kalau Tasya sudah menikah dengan Hendra minggu lalu.
Setelah 3 Menit kemudian. Hendra pun meninggalkan ruang kelas itu. Teman-teman Tasya seperti biasanya yang kepo dengan urusan orang lain segera menyerbu Tasya dengan pertanyaan mereka masing-masing.
"Tasy. Dari mana aja kamu seminggu ini nggak masuk kampus?" tanya Yuni.
"Iya bener tuh. Apa jangan-jangan kamu sibuk pacaran yah sama si kakak ganteng tadi?" tuduh Delly.
"Eh, ngomong-ngomong seminggu nggak nongol kamu kelihatan makin cantik aja. Apa rahasianya? Kasih tau dong." tanya Jusnhy penasaran.
"Ak ..." Baru saja Tasya mau menjawab ucapannya sudah di potong Darshy.
"Aku tahu, pasti kamu abis liburan kan sama Kak Hendra makanya kamu nggak ke kampus akhir-akhir ini. Pulang-pulang muka kamu jadi cerah deh." tuduh Darshy.
"Ak ..." ucapan Tasya dipotong Icha.
"Eh eh Tasy. Ngomong-ngomong kapan kalian jadian?" tanya Icha.
"Aku ... " Kali ini Tasya ingin menjelaskannya lagi tapi lagi-lagi ucapannya di potong oleh Jusmhy.
"Tasy Tasy. Cincin kamu bagus yah kayak cincin kawin. Apa pacar kamu yang ngasih?" lanjut Jusmhy.
"Iya, aku emang su... " Kali ini ucapan Tasya dipotong oleh Yuni. Tasya mulai kesal pada teman- temannya yang rempong dan kepo itu.
"Eh iya bener. Apa jangan-jangan kamu udah nikah yah tapi nggak ngundang-undang kita-kita pada." ujar Yuni curiga.
"Bisa nggak kalian nanyanya satu-satu. Ujiannya belum mulai aja aku udah pusing tau nggak gara-gara kalian." ucap Tasya dengan nada tinggi.
Tasya kesal dengan teman-temannya yang tidak memberikannya kesempatan untuk menjawab dan meluruskan kesalah pahaman mereka. Malahan mereka memberikan pertanyaan pada Tasya secara bertubi-tubi.
Semua teman-teman Tasya diam. Mereka menciut melihat Tasya kesal karena kelakuan mereka. Tasya pun mulai menjelaskan pada teman-temannya.
"Sebenarnya minggu lalu aku nggak masuk karena, aku ... " penjelasan Tasya terpotong lagi karena sapaan dosen yang masuk ke dalam kelas.
Semua teman-teman Tasya pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing karena sebentar lagi ujiannya akan dimulai. Mereka kembali dengan rasa penasaran yang hinggap dipikiran mereka masing-masing.
"Huft." Tasya mendengus kesal karena lagi-lagi ucapannya terpotong. Ia jadi gagal lagi menjelaskan pada teman-temannya.
***
Rumah Pak Rahmat
Tania menuruni anak tangga setengah berlari dengan perasaan kesal dihatinya. Ia ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Tania sangat kesal dan marah pada Radit yang telah memaksanya jadi pacarnya.
"Tania. Ayo sini bergabung." panggil Bu Risna yang sedang duduk di meja makan bersama Pak Rahmat.
"Tidak. Terima kasih tante. Saya buru-buru." tolak Tania sambil masih berdiri di anak tangga. Langkahnya tadi terhenti karena panggilan Bu Risna.
"Mari, sini bergabung bersama kami. Pasti kamu juga belum sarapan kan." ajak Pak Rahmat. Ia ingat kalau Tania tadi datang ke rumah mereka pagi-pagi sekali.
"Tidak. Makasih om. Saya buru-buru mau pulang." tolak Tania.
"Ayolah sayang. Katanya tadi kamu laper belum makan dan minum apapun sebelum kesini." ucap Radit. Tiba-tiba ia muncul dan sudah ada ditangga tidak jauh dari Tania.
"Radit gila. Berani sekali kamu memanggilku seperti itu didepan orang tuamu. Bagaimana kalau mereka salah paham, hah. Semoga aja mereka marah dan tidak merestui hubungan aku sama kamu." batin Tania kesal.
Pak Rahmat dan Bu Risna saling melirik mendengar ucapan anaknya yang memanggil Tania dengan panggilan sayang. Mereka hanya tersenyum. Bu Risna segera menghampiri Tania yang masih berdiri di anak tangga.
"Ayo! Sini bergabung bersama kami. Tidak usah malu-malu." ajak Bu Risna tersenyum sambil menarik tangan Tania berjalan menuju meja makan.
"Tapi tante saya ..." Tania.
"Ayo duduk! Tidak usah malu-malu." ucap Pak Rahmat ramah.
Sekarang Tania sulit untuk menolak. Ia merasa tidak enak kalau harus menolak ajakan Pak Rahmat dan Bu Risna untuk bergabung sarapan bersama mereka. Radit tersenyum senang sekaligus bahagia melihat perlakuan orang tuanya pada Tania. Tania pun duduk di meja makan bergabung bersama ketiga penghuni rumah itu. Rindi adik Radit sudah berangkat tadi pagi-pagi ke sekolah.
Bu Risna memberikan roti yang sudah diolesi dengan selai coklat dan 2 gelas susu pada Tania dan Radit. Radit duduk disamping Tania. Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka. Sesekali Radit melirik Tania sambil senyam-senyum. Tania tidak menghiraukan Radit, ia fokus ingin menghabiskan rotinya secepatnya. Bu Risna yang memperhatikan kelakuan anaknya cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Kalian pacaran?" tanya Bu Risna memecah keheningan.
Tania berhenti mengunyah, hampir saja ia tersedak. Tania melihat ke arah Radit. Radit hanya tersenyum ke arah Tania.
"Menurut mama?" tanya Radit meminta pendapat mamanya.
"Mama harap sih begitu. Karena baru kali ini kamu kedatangan tamu seorang gadis. Dulu-dulunya mana pernah. Yang ada cuma si Romi, si Angga, si Reno dan si Aldi. Nggak ada yang lain." jelas Bu Risna.
"Apa maksud tante Risna dengan kata 'harap' itu? Apa tante Risna memang berharap aku jadi pacar anaknya? Kalau memang benar, pupus sudah harapanku. Tadinya aku berharap mereka akan marah dan tidak merestui hubungan kami." batin Tania kecewa.