How To Love You

How To Love You
Bab 206



Setelah selesai berbelanja tanpa melewatkan satu barang pun yang telah ia tulis di catatannya. Mereka segera menuju food court yang ada di mall itu. Disana mereka melihat Radit dan Tania sedang makan juga di tempat itu. Tasya segera menghampiri keduanya, sedangkan Hendra pergi membeli makanan.


"Kalian berdua pacaran mulu kerjaannya. Kapan kalian berdua berencana punya anak?" tanya Tasya sambil duduk diseberang meja Radit dan Tania. Ia mengingat ucapan Bu Risna yang memintanya untuk membujuk adiknya agar tidak menunda-nunda memiliki momongan.


"Kalau aku sih semuanya tergantung Nia, Kak." jawab Radit setelah menyesap jus alpukatnya.


"Kak Tasya udah kayak Mama Risna aja. Pertanyaannya itu mulu. Kapan kamu hamil? Kapan kalian punya anak? Kapan kalian ngasih Mama cucu? Mama udah nggak sabar pengen nimang cucu juga. Ayo cepat produksi sebelum Mama keburu tua! Mama Risna lebay juga yah ternyata," ucap Tania sambil meniru gaya bicara mama mertuanya.


Tasya dan Radit hanya terkekeh mendengar ocehan Tania. Mereka berdua juga tahu betul kalau wanita paruh baya itu memang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar kehamilan anak menantunya. Bahkan Bu Risna sudah berkali-kali membujuk anaknya untuk segera membuat menantu satu-satunya itu hamil dalam waktu dekat. Tapi Radit tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu betul bagaimana sifat keras kepala istri tercintanya itu.


Saat Radit mengungkapkan keinginan mamanya pada Tania, Tania selalu saja berkata kalau dirinya belum siap punya anak karena usianya masih 19 tahun. Menurutnya, ia masih terlalu muda untuk menyandang gelar sebagai seorang ibu.


"Dek, kamu nggak kasian apa sama mama mertuamu. Lagian kalian udah hampir setengah tahun loh menikah. Masa kalian nggak ada puas-puasnya pacaran," ujar Tasya.


"Bukan itu masalahnya, Kak. Aku takut nanti aku nggak bisa ngerawat anak aku dengan baik kalau aku melahirkan di usia muda." jelas Tania.


"Kalau soal itu kamu nggak usah khawatir. Kan ada Ibu, ada Mama Risna juga yang bakalan bantu kamu merawat bayi kamu nanti," bujuk Tasya.


"Ibu kan bantuin, Kak Tasya juga ngerawat bayi Kakak nanti. Apalagi sekarang Kak Dewi juga sedang hamil. Kalau aku juga hamil, Ibu kan bisa pusing harus merawat cucunya yang mana," ujar Tania beralasan.


"Kamu nggak usah mikirin itu, Dek. Kakak kan masih ada Mama Arini yang ngebantuin. Lagian, Kakak juga mau belajar merawat bayi Kakak sendiri nanti setelah bayi Kakak lahir. Dan Kak Dewi kan juga ada Tante Wulan yang bantu merawat bayinya nanti."


"Tau ah, Kak. Aku masih bingung soalnya. Aku benar-benar masih belum siap." jelas Tania.


"Oh iya, aku ke toilet dulu sebentar," pamit Tania.


"Lama-lama aku bisa stress kalo begini. Kenapa sih semua orang nggak ada yang mau ngertiin aku?" batin Tania. Ia memutuskan untuk menenangkan diri di toilet karena kepalanya begitu pusing kalau harus mendengarkan ocehan orang lain yang selalu menceramahinya perihal momongan.


Tidak lama setelah Tania pamit ke toilet, Hendra datang sambil membawa nampan yang berisi 2 porsi makanan untuknya dan juga untuk istrinya.


"Kalian sedang membahas apa? Aku lihat Tania berjalan kesana dengan wajah cemberut. Sepertinya dia terlihat sangat kesal," ujar Hendra sambil mengambil tempat duduk disamping istrinya. Tasya dan Radit saling lirik. Persis seperti dugaan mereka. Tania pasti memilih menghindar karena tidak mau diceramahi perihal anak lagi.


"Jadi Tania begitu kalau lagi marah, Dit," tanya Tasya.


"Iya, Kak. Makanya aku nggak pernah menyinggung-nyinggung masalah kehamilan atau masalah anak lagi didepan dia. Aku kapok, Kak," Hendra dan Tasya kembali terkekeh mendengar penuturan jujur dari Radit.


"Kamu yang sabar yah, Dit. Tania memang begitu orangnya. Dia memang suka ambekan dari kecil," jelas Tasya.


"Iya, Kak. Sepertinya memang nggak ada pilihan lain selain bersabar kalau harus menghadapi Tania," ucap Radit pasrah.


"Oh iya, Dit. Apa istrimu menggunakan alat kontrasepsi?" tanya Hendra.


"Nggak, Kak. Aku aja yang pakai pengaman kalau lagi begituan," jawab Radit.


"Gampang sekali kalau kamu mau membuat istrimu hamil. Kamu tidak perlu memakai alat itu," ujar Hendra.


"Nggak ah, Kak. Nanti Nia marah lagi. Aku juga nggak mau maksa kalau dia belum siap,"


"Yah sudah, itu terserah kalian berdua saja. Sebaiknya kami juga tidak boleh terlalu ikut campur dengan rumah tangga kalian." ujar Hendra.


"Tapi, sayang. Bagaimana dengan Tante Risna? Dia sudah tidak sabar ingin menimang cucu. Dia bahkan sampai menyuruhku membujuk Tania agar tidak menunda-nunda kehamilannya," jelas Tasya.


"Benarkah? Bagaimana denganmu, Dit? Apa mamamu juga menyuruhmu melakukan hal yang sama?"


"Nah, gara-gara itu Tania marah dan mendiamkanku selama 2 hari 2 malam, Kak." jawab Radit.


"Kamu tenang saja, Dit. Mengenai Mamamu, biar aku nanti yang bicara padanya. Sebenarnya Tante Risna tidak boleh terlalu mengekang istrimu perihal kehamilan. Karena dia sendiri tau kalau menantunya itu masih sangat muda. Jadi wajarlah kalau Tania belum siap untuk hamil."


"Dan sebaiknya Mamamu tidak terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Karena lama kelamaan pasti akan berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga kalian berdua." tambah Hendra lagi. Tasya dan Radit terdiam. Mereka sadar kalau ucapan Hendra ada benarnya juga. Terbukti saat Tania mengacuhkan suaminya selama 2 hari 2 malam hanya gara-gara Radit membujuknya untuk tidak menunda-nunda kehamilannya lagi.