
"Siapa?" tanya Dewi pada Tasya.
"Masuk aja, Kak! Pintunya gak dikunci!" teriak Tasya.
"Itu kakak kandungku, namanya Kak Tama," imbuhnya menjawab pertanyaan Dewi.
Tidak lama kemudian, muncullah sesosok laki-laki berbadan tinggi dan tegap dari balik pintu.
"Eh ada orang rupanya," ucap Tama lalu melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di samping kanan adiknya karena Dewi duduk disamping kiri Tasya.
Wah, kak Tama cakep juga. Batin Dewi.
"Ada apa, Kak?" tanya Tasya pada Tama.
Tama tersenyum. "Tidak, tidak ada apa-apa. Kakak hanya ingin mengobrol sebentar dengan adik Kakak."
"Oh, gimana pekerjaan Kak Tama di sana?" tanya Tasya.
"Alhamdulillah lancar," jawab Tama.
Dewi hanya duduk diam mendengarkan percakapan kedua saudara yang lama tidak bertemu itu.
"Apa Kak Tama sudah punya pacar di sana?" tanya Tasya.
"Tidak ada, Kakak tidak punya pacar. Kamu 'kan tahu sendiri kalau Kakak sangat sibuk, Dek, mana punya cukup waktu untuk mencari pacar."
"Jangan sibuk terus, Kak. Gimana aku bisa punya kakak ipar kalau Kak Tama sibuk terus."
Keduanya tertawa.
"Kamu saja yang mencarikan Kakak calon istri, karena Kakak tidak punya waktu untuk mencarinya sendiri. Pasti kamu punya banyak teman cewek 'kan?" ujar Tama.
"Beneran nih, Kak? Beneran, ya?" tanya Tasya ingin memastikan kalau kakaknya itu benar-benar serius dengan ucapannya.
"Iya, Kakak serius. Mana mungkin Kakak bercanda soal yang satu itu, Dek," ucap Tama.
Mendengar ucapan Tama, Tasya jadi yakin kalau kakaknya itu benar-benar serius ingin dicarikan jodoh.
Tasya lalu melirik kedua orang yang ada di samping kiri dan kanannya secara bergantian.
"Mm ... gimana kalau ... Kak Tama sama Dewi aja. Kalian berdua keliatannya serasi. Dari segi sifat, aku sudah mengenal kalian berdua dengan baik, aku yakin, kalian berdua pasti bisa saling melengkapi," kata Tasya.
Calon pengantin itu terlihat sangat bersemangat ketika menjadi mak comblang antara kakak dan sahabatnya.
Tama dan Dewi terkejut mendengar usulan Tasya. Seketika suasana malu dan canggung di antara keduanya menjadi tidak bisa terelakkan.
"Aku?" Dewi menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya bersemu merah karena malu-malu pada Tama.
"Ah, emm ...." Tama tidak kalah malunya juga. Pemuda tampan berusia 25 tahun itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia juga tidak kuasa menolak usulan adiknya.
Kesan pertama saat dirinya melihat Dewi tadi adalah, Dewi adalah gadis yang cantik dan juga cukup menarik. Begitu pula dengan Dewi, gadis itu sudah memiliki rasa ketertarikan pada Tama saat pertama kali melihatnya.
"Eh, kenalan dulu dong," kata Tasya, sambil tertawa kecil.
Tasya merasa sangat lucu melihat ekspresi malu-malu Dewi dan Tama.
Tama dan Dewi pun bersalaman dengan malu-malu kucing.
"Tama."
"Dewi."
"Cie ... cie ... sekarang, kalian berdua tukaran nomor whatsapp. Sini hp kalian."
Tasya menengadahkan kedua tangannya meminta ponsel keduanya.
Keduanya dengan malu-malu menyerahkan ponsel mereka masing-masing. Tasya pun menyimpan nomor whatsapp Dewi di ponsel kakaknya dengan nama 'DEWI❤' sedangakan 'TAMA❤' di ponsel Dewi. Setelah selesai, Tasya pun mengembalikan ponsel mereka kepada empunya masing-masing.
Semakin lama suasana yang dirasakan oleh Tama dan Dewi semakin canggung, Tama pun memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut.
"Iya kak."
"Dek, setelah kamu menikah, kamu jadi istri yang baik, ya. Yang berbakti pada suami."
Sebelum Tama keluar, dia sempat berpesan pada adiknya.
"Iya, Kak. Aamiin."
Tama berdiri dari duduknya, lalu menatap Dewi yang masih setia duduk di samping Tasya.
"Dewi, aku keluar dulu ya," katanya sambil tersenyum pada gadis itu. Dewi hanya menanggapinya dengan senyuman dan anggukan kecil. Takut suaranya terdengar bergetar jika menjawab.
Bagaimana suaranya tidak bergetar, detak jantungnya saja sudah meronta tidak karuan, kedua telapak tangannya juga sudah berubah dingin.
"Jangan lupa." Tama menggoyang-goyangkan layar ponselnya ke arah Dewi sebagai isyarat.
Kali ini Dewi kembali menanggapi ucapan tama dengan senyuman malu-malu disertai anggukan kecil. Wajahnya yang sedari tadi sudah merona kini semakin memerah.
"Ehem ehem. Cie ..." goda Tasya pada keduanya.
Setelah Tama berlalu, Dewi langsung membenamkan wajahnya di kasur. Sedari tadi dia sudah menahan rasa malu yang teramat sangat.
Meski pun Dewi merasa malu, tapi dia juga merasa sangat senang dan bahagia sekaligus. Apalagi jika kembali mengingat wajah Tama yang tampan rupawan.
"Kamu kenapa sih, Wi?" goda Tasya sambil terkekeh.
Dari gelagat Dewi, Tasya sangat yakin kalau sahabatnya itu pasti sedang malu.
Mendengar godaan Tasya, Dewi segera bangun dari posisinya.
"Kamu ini ya, bikin aku malu setengah mati tau." Dewi mencubit lengan Tasya saking gemasnya.
"Auwh, aduh, sakit tau. Hehe." Meski pun merasa sedikit kesakitan, namun Tasya kembali tertawa.
Sejujurnya, dia merasa sangat bahagia bisa menjodohkan kakaknya dengan sahabat terbaiknya tersebut. Tasya sangat berharap keduanya bisa cocok agar mereka bisa menjalin hubungan ke jenjang yang serius.
"Biarin."
Dewi pura-pura mengambek sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jangan gitu dong, Wi.Kakakku lumayan ganteng kok. Kamu juga cantik, jadi aku rasa kalian pasti bakalan serasi babget kalau disandingkan. Jadi aku pikir apa salahnya kalau kalian ...."
Tasya tidak berani meneruskan ucapannya melihat ekspresi kekesalan Dewi.
"Wi, jangan gitu dong. Apa salahnya sih kalau kamu jadi kakak ipar aku? Lagian kalau kamu menikah dengan kakakku, pasti akan sangat menyenangkan punya kakak ipar sahabat sendiri. Kamu mau ya, Wi. Mau ya." Tasya berusaha membujuk Dewi sambil memeluk lengan gadis itu.
"Lepaskan tangan aku. Memangnya yang bilang gak mau itu siapa? Tadi itu aku cuma malu banget tau sama Kak Tama," jelas Dewi.
"Ah, yang bener!"
Tasya merasa sangat senang, secara spontan dia langsung memeluk Dewi.
"Lepas, aku gak bisa napas."
Tasya tertawa sambil melepaskan pelukannya. "Eh maaf, maaf. Tadi aku senang banget."
"Kamu ini ya, sudah mau menikah tapi kelakuan masih seperti anak-anak," omel Dewi.
"Maaf ...."
"Maaf, maaf. Simpan pelukanmu itu untuk malam pertama kalian nanti. Hahaha!"
Telak. ucapan Dewi langsung membuat Tasya mati kutu. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal itu.
Malam pertama? Apa aku boleh menolak? Aku masih belum siap untuk hal itu.