How To Love You

How To Love You
Bab 139



Perlahan-lahan Radit mengangkat kepalanya untuk semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Tania. Sepertinya ia lupa alasan kenapa ia berpura-pura pingsan. Rasa cemburu dan rasa ingin memiliki yang teramat besar membuat Radit seakan buta tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Ia terbuai dengan kenikmatan yang ada didepan matanya. Rasa manis dan lembut yang disuguhkan oleh bibir mungil itu seolah menjadi candu untuk Radit. Ia ingin merasakannya sekali lagi. Tidak, bukan sekali lagi, tapi, lagi dan lagi. Ia tidak sadar keinginannya itu tidaklah benar. Ia tidak memikirkan akibat dari perbuatannya itu


"Dit, lepasin nggak!" seru Tania.


"Sekali ini aja, sayang." pinta Radit.


Seolah mengerti apa yang diinginkan oleh Radit, Tania dengan cepat memalingkan wajahnya. Bibir Radit mendarat dengan lembut di pipi Tania. Mata Tania terbelalak, ia tidak meyangka kalau malah pipi mulusnya lah yang akan menjadi sasaran empuk untuk bibir Radit.


"Dit, kamu ini apa-apaan sih? Jangan kurang ajar, yah! Cepat lepasin aku!" seru Tania seraya berusaha memberontak untuk melepaskan diri.


Radit semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak mau melepaskan Tania begitu saja. Naluri kelelakiannya menuntutnya untuk harus mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Sekaliii ini aja, sayang. Yah." bujuk Radit.


"Enggak, lepasiiiin, lepasin nggak!" tolak Tania sambil terus berusaha memberontak.


Namun Radit tidak mempedulikan penolakan Tania. Selagi ada kesempatan, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi tengkuk milik Tania.


"Cup."


Ciuman lembut sekali lagi sukses mendarat di bibir imut milik Tania. Sebenarnya Tania ingin sekali melawan, tapi apalah daya, tangannya juga ikut terkunci oleh dekapan Radit yang begitu erat. Membuat gadis itu merasakan sedikit sesak didadanya.


Seperti sedang kerasukan, hasrat kelelakian Radit menuntutnya untuk mendapatkan lebih dari sekedar h**apan dan lu**tan lembut saja pada bibir gadis kesayangannya itu. Ia menggigit bibir bawah Tania, membuat gadis itu terkejut dan spontan membuka sedikit mulutnya. Radit mengambil kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya mengabsen satu per satu gigi milik kekasihnya itu.


Tania semakin tidak tahan dengan perlakuan Radit. Ia merasa perlakuan Radit sudah berlebihan. Ditambah lagi ia merasakan ada sesuatu yang aneh yang mengganjal perutnya. Ia tidak tahu apa itu. Ia hanya merasa benda itu tiba-tiba saja muncul dibawah sana. Hanya saja Tania merasa perutnya agak sedikit geli dan merasakan benda itu sedikit hangat. Ia merasakan benda keras tersebut seperti sesuatu yang bernyawa.


Ibaratkan seekor hewan pemangsa yang kelaparan, Radit tidak mau melepaskan mangsanya begitu saja. Radit semakin dikuasai oleh syahwatnya. Ia sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia mulai menggerakkan tangannya naik turun bergerilya diatas punggung Tania. Sesekali ia merem*s lengan milik Tania. Secara perlahan Radit mulai merubah posisi mereka menjadi sebaliknya.


Tania merasa ada aura-aura menakutkan yang ditimbulkan oleh Radit. Ia merasa perlakuan Radit sudah semakin keterlaluan. Tania takut Radit sampai khilaf dan berani berbuat tidak senonoh padanya. Ia pun lalu memikirkan cara untuk secepatnya lolos dari cengkraman Radit. Ia mengingat kalau Radit pernah menggigit bibirnya tadi. Ia pun memutuskan untuk membalas Radit dengan hal yang serupa. Hanya itu yang bisa Tania lakukan untuk melindungi dirinya saat itu, tidak ada cara lain.


"Krek." Tania menggigit bibir bawah Radit hingga berdarah.


"Auwh, aahhh, sakit!" keluh Radit sambil memegangi bibirnya yang kesakitan.


Tania pun lalu mendorong tubuh Radit yang sudah setengah menindihnya. Dengan cepat ia bangun dan memukuli Radit dengan bantal berkali-kali. Ia merasa sangat marah, kesal, kecewa, benci, geram sekaligus malu. Ia merasa Radit telah melecehkannya.


"Rasakan ini, dasar cowok bren**ek! Ba**ngan! Kurang ajar,"


"Auwh, ampun sayang. Ampuuun." kata Radit sembari menyilangkan kedua tangannya dan menjadikannya sebagai tameng.


"Dasar nyebelin! Tukang ambil kesempatan. Keterlaluan kamu, Dit. Kamu pikir aku ini cewek apaan? Hah!"


"Ampun sayang. Nggak," ucap Radit seraya menangkap bantal yang dipakai Tania untuk memukulinya lalu ia berusaha bangkit dari posisinya.


Tania terlihat sangat marah sekali pada Radit. Ia masih terus memukuli Radit. Ia sudah tidak peduli lagi dengan darah segar yang mengalir di bibir bagian bawah pemuda itu akibat ulahnya.


"Aku minta maaf sayang, aku minta maaf," ujar Radit mencoba menenangkan Tania.


Radit menangkap kedua tangan Tania lalu memeluknya.


"Lepasin! Kurang ajar, jangan sentuh aku! Ternyata kamu sama bre***eknya dengan Yuda." kata Tania seraya mendorong Radit yang tengah memeluknya.


"Nia, Nia, kamu tenang dulu sayang, yah."


"Nggak, aku benci sama kamu. Aku kecewa sama kamu. Keluar!" ucap Tania dengan nada tinggi sambil menunjuk ke arah pintu.


"Tapi sayang,"


"Keluar! Aku bilang keluaaar. Aku nggak mau liat muka kamu lagi, cepat pergi dari sini!"


"Nia, aku beneran minta maaf. Aku khilaf, sayang. Aku khilaf,"


"Aku bilang keluar. Aku muak sama kamu, Dit."


"Nia, aku mohon maafin aku sayang."


"Pokoknya nggak. Sana keluar! Pergi!"


"Nia, Nia,"


"Dit, aku tuh nggak suka kamu memperlakukan aku semau kamu."


"Aku minta maaf sayang. Aku khilaf,"


"Mulai sekarang, kita nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku benci cowok bre***ek seperti kamu. Pergiiii!"


"Tapi sayang, aku nggak mau pisah sama kamu,"


"Aku nggak peduli. Pokoknya sekarang kita putus!"


Tangisan Tania seketika pecah. Ia selalu menepis tangan Radit yang selalu mencoba berusaha untuk menenangkannya. ia tidak menyangka kalau Radit, laki-laki yang ia cintai itu tega berbuat kurang ajar padanya.


"Sayang, jangan nangis! Aku minta maaf. Dan aku nggak mau pisah sama kamu sampai kapan pun." ucap Radit lirih.


Radit dirundung rasa bersalah, ia merasa sangat sedih dan teramat sangat menyesal atas perbuatannya yang telah menuruti hawa nafsunya. Hampir saja ia lepas kontrol dan menodai gadis yang sangat ia cintai itu. Akibat dari kesalahannya sendiri, Tania malah memilih memutuskan hubungan dengannya.