How To Love You

How To Love You
Bab 227



Bukankah aku sudah memperingatinya. Tapi kenapa dia belum menyerah juga mengejar calon istriku? Apakah Jonathan berpikir kalau waktu itu aku hanya mengada-ngada? Batin Miko heran. Tapi ia ingin membiarkan Jonathan bicara dulu.


"Waktu itu Anda pernah bilang pada saya untuk berhenti mendekati Tantri. Tapi saya rasa ... Pak Miko mengatakan semua itu karena, Pak Miko tidak mau saya menyakiti hati Tantri. Saya berjanji, Pak. Saya tidak akan menyakiti hati adik sepupu Anda. Saya serius ingin menjalin hubungan dengannya. Jadi mohon ijinkan saya untuk mengambil hatinya. Jika suatu saat nanti saya dan Tantri menjadi pasangan. Seandainya kelak saya menyakiti hatinya, silahkan Anda memukul saya sampai babak belur, Pak. Saya tidak akan keberatan dan tidak akan melawan sedikitpun," ujar Jonathan panjang lebar.


Tidak perlu menunggu kamu menyakitinya. Rasanya saat ini aku ingin membuatmu babak belur karena tidak mengindahkan peringatanku dan tidak mempercayai ucapanku. Dan parahnya kamu juga masih mau mendekati calon istriku. Tapi untunglah, aku bisa mengendalikan diri. Karena kalau tidak, aku berani jamin, saat kamu keluar dari tempat ini, kamu pasti sudah bonyok-bonyok dan pangangguran. Batin Miko.


Tok tok tok.


"Masuk!" teriak Miko dan Jonathan secara bersamaan.


Pintu ruangan Jonathan terbuka. Tidak lama kemudian, muncullah Tantri dari balik sana. Miko tersenyum. Sedangkan Jonathan terlihat salah tingkah bahkan sempat GR.


Pak Miko pengertian sekali. Dia tau kalau aku mau serius dengan adik sepupunya. Pasti pak Miko yang sengaja memanggil Tantri ke ruanganku agar aku bisa segera jadian dengannya. Anda tenang saja pak Miko. Saya pasti akan menjaga Tantri dengan sangat baik. Batin Jonathan sambil senyum-senyum sendiri melihat gadis yang ia sukai masuk ke dalam ruangannya.


"Ada apa, Pak Miko memanggil saya?" tanya Tantri sambil masih bediri tidak jauh dari pintu.


"Kemarilah dan duduk disini!" titah Miko sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya. Tantri pun kemudian duduk di samping Miko. Tapi ia sedikit menjauh dan tidak menempel dengan laki-laki itu.


"Kenapa jauh sekali? Sini dong, sayang!"


Sayang? Batin Jonathan. Perasaannya sudah mulai tidak enak.


"Ayo sini!" perintah Miko sambil menepuk kembali sofa disampingnya tapi Tantri hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak mau.


"Baiklah. Kalau kamu tidak mau, biar aku yang mendekat," ucap Miko sambil mengangkat pantatnya lalu mendekatkan dirinya pada Tantri. Saat itu mereka berdua sudah duduk sambil berdempetan.


"Apaan sih, Kak? Malu sama pak Jo," ucap Tantri.


"Kenapa harus malu, sayang? Hem," tanya Miko sambil tersenyum dan menatap Tantri yang duduk disampingnya dengan intens.


"Ya malu lah, Kak. Minggir sana jangan nempel-nempel," bisik Tantri sambil mendorong tubuh Miko.


Cup. Tiba-tiba Miko mengecup pipi Tantri. Gadis itu hanya bisa membelalakkan matanya kesal dengan perlakuan Miko yang menurutnya tidak tau malu karena Miko menciumnya didepan Jonathan.


Miko sengaja melakukannya di depan manajernya itu karena ia merasa kesal dengan Jonathan yang tidak mempercayai ucapannya kalau Tantri itu adalah calon istrinya.


Apa-apaan ini? Astaga! Apa jangan-jangan yang dikatakan pak Miko waktu itu benar? Mamp*s aku. Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaanku kalau begini. Ya ampun. Kenapa aku bodoh sekali? Kalau sudah begini, cinta tak dapat pekerjaan pun melayang. Batin Jonatahan. Wajahnya tiba-tiba berubah pias. Ia sangat takut Miko memecatnya mengingat dirinya adalah tulang punggung keluarga. Akan sulit ia menemukan pekerjaan sebagus pekerjaannya sekarang. Apalagi Miko memberinya gaji yang cukup tinggi.


"Kak Miko, ih. Nyebelin banget. Malu-maluin tau nggak," ucap Tantri sambil mencubit pinggang Miko. Miko hanya terkekeh geli mendapat cubitan dari wanitanya.


"KAK MIKO!" pekik Tantri. Sontak saja gadis itu berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya yang tadinya sudah memerah kini semakin memerah. Ia merasa sangat kesal pada Miko sekaligus sangat malu dilihat oleh Jonathan.


Miko menarik sebelah tangan Tantri dan membuat gadis itu kembali duduk di tempatnya semula. Tantri memberontak. Ia ingin segera keluar dari ruangan itu. Tapi Miko mencegahnya dengan melingkarkan tangannya memeluk gadis kesayangannya itu.


Dasar pasangan nggak ada akhlak! Kalian itu berdosa banget tau nggak bikin jiwa jomblo aku meronta-ronta. Hiks. Batin Jonathan sambil membuang pandangannya ke arah samping. Rasanya ia tidak sanggup melihat kemesraan bosnya dengan gadis yang ia sukai. Sudah patah hati, disuguhi adegan mesra pula. Inikah balasan karena dirinya sudah menyukai calon istri orang? Pikirnya.


"Kak Miko, ih. Apa-apaan sih? Lepasin nggak! Aku malu tau, Kak." Tantri berusaha melepaskan diri dari pelukan Miko. Miko pun melepas pelukannya. Tanggannya kemudian beralih menggenggam erat tangan Tantri. Ia tidak mau gadis itu meninggalkan ruangan Jonathan sebelum waktunya.


"Jangan keluar dulu, sayang! Aku masih ingin bicara sesuatu dengan Jonathan."


"Terus apa hubungannya denganku?" tanya Tantri.


"Jelas ada. Karena dia menyukai kamu," jawab Miko.


"Hah?!" Tantri hanya melongo tidak percaya.


"Jo!" panggil Miko.


"I-iya, Pak." sahut Jonathan terbata. Jantungnya sudah berdegup sangat kencang. Entah apa yang akan Miko katakan padanya nanti.


"Apa kamu masih berpikir kalau aku mengada-ngada?" tanya Miko. Spontan saja Jonathan berdiri dari tempat duduknya.


"Sa-saya minta maaf, Pak. Saya minta maaf. Saya berjanji tidak akan mengganggu calon istri Anda lagi. Saya juga akan mengubur perasaan saya dalam-dalam," jawab Jonathan sambil menunduk. Ia merasa sangat menyesal tidak mempercayai ucapan Miko waktu itu.


Apa? Jadi ternyata pak Jo benar-benar menyukaiku. Pantas saja kak Miko melarangku dekat-dekat dengannya. Apa karena itu juga kak Miko sengaja mencium dan memelukku di depannya? Batin Tantri.


"Baik. Aku pegang ucapan kamu. Kalau aku masih melihat kamu mendekatinya lagi. Aku berani jamin kalau kamu pasti akan kehilangan pekerjaan kamu," tegas Miko.


"Tidak, Pak tidak. Saya berjanji tidak akan mendekatinya lagi."


"Bagus."


"Sayang, ayo keluar!" ajak Miko pada Tantri. Mereka berdua pun keluar dari ruangan Jonathan sambil bergandengan tangan.


Jonathan menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya setelah melihat Miko dan Tantri keluar dari ruangannya. Ia bernapas lega dan bersyukur karena Miko masih berbaik hati dan tidak memecatnya.