
Setelah memarkirkan mobilnya. Miko pun berjalan menghampiri pintu. Cukup lama ia berdiri didepan sana. Ada sedikit perasaan ragu saat ia ingin memasuki rumah tempat ia dulu dibesarkan hingga ia beranjak remaja. Beberapa kali ia ingin mencoba menekan bel rumah besar itu tapi ia urungkan. Setelah cukup lama berdiri, ia pun akhirnya memberanikan diri untuk menekan bel yang ada disamping pintu.
Ting Tong.
"Tantri, demi kamu. Aku harus berani." batin Miko.
Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu untuknya. Wanita itu terkejut sekaligus senang melihat anak majikannya akhirnya kembali setelah bertahun-tahun minggat dari rumah.
"Selamat datang, Den Miko!" seru Bi Lastri salah satu pembantu rumah tangga dirumah besar itu.
"Terima kasih, Bi."
"Sini kopernya, Den saya bantu bawa ke kamar."
"Tidak usah, Bi. Biar saya saja."
"Kalau begitu saya permisi masuk duluan, Den. Saya masih ada kerjaan,"
"Silahkan, Bi!"
Bi Lastri pun kemudian melangkahkan kakinya berjalan masuk mendahului Miko. Baru beberapa meter ia melangkah, tiba-tiba Miko memanggilnya.
"Bi Lastri! Apa Mama sama Papa sudah tidur?"
"Bibi juga kurang tahu Den. Tapi biasanya kalau jam segini mereka sudah naik ke kamar."
"Oh. Terima kasih, Bi."
"Syukurlah kalau sekarang mereka sudah ada dikamar. Karena saat ini aku belum sepenuhnya siap untuk berhadapan langsung dengan Papa. Sebelum kesini, aku belum mempersiapkan diri untuk menghadapi beliau." batin Miko sedikit lega.
Miko pun kemudian berjalan santai menuju tangga. Ia ingin naik ke kamarnya di lantai atas. Saat Miko ingin menapakkan kakinya menaiki anak tangga pertama, ia dikejutkan oleh suara seorang laki-laki paruh baya yang sedang berdiri diatas tangga.
"Apa gerangan yang mampu membawamu pulang kemari?" tanya Pak Afdal penasaran. Ia heran dengan anak bungsunya itu. Berkali-kali Bu Melda mencoba membujuk anak mereka untuk kembali ke rumah, tapi Miko selalu menolak. Tapi kenapa sekarang Miko kembali tanpa ada yang mengajak? Sungguh aneh, pasti ada sesuatu. Pikir Pak Afdal menaruh curiga pada anaknya itu.
"Aduh, aku harus menjawab apa? Tidak mungkin kan aku menjawab kalau aku pulang karena, Tantri ada disini." batin Miko.
"Papa kok sepertinya tidak suka kalau Miko kembali ke rumah." jawab Miko mengalihkan topik pembicaraan. Ia tidak mau papanya tahu kalau ia pergi gara-gara perempuan dan kembali gara-gara seorang perempuan juga.
"Mana mungkin Papa tidak senang kalau anak kesayangan Papa pulang ke rumah." ujar Pak Afdal lalu memeluk anaknya yang sudah sangat lama ia rindukan.
"Maafin Miko yah, Pa."
Keduanya meneteskan air mata haru. Pasalnya, setelah Miko minggat dari rumah. Ia tidak pernah sekalipun berbicara pada papanya. Miko hanya sering bertemu dengan Bu Melda. Itu pun karena Bu Melda sendiri lah yang sering mendatangi anaknya di restoran maupun di apartemen.
Setelah mengobrol cukup lama meluapkan segala kerinduan. Miko pun akhirnya pamit pada papanya untuk naik beristirahat dikamarnya. Saat ia memutar gagang pintu kamarnya, pintu kamarnya terkunci.
"Terkunci? Apa selama aku tidak ada kamar ini selalu di kunci?" batin Miko. Ia pun kemudian mencari kunci cadangan yang biasanya tersimpan di laci lemari yang tidak jauh dari kamarnya.
"Untung saja kuncinya ada disini." gumam Miko setelah mendapatkan kunci serep pintu kamarnya. Ia pun kemudian membuka pintu kamarnya menggunakan kunci tersebut.
"Kamar ini masih sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Masih sama seperti saat terakhir aku tinggal." batin Miko sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia pun melangkahkan kakinya masuk setelah mengunci pintu kamarnya kembali. Karena sudah teramat lelah dan mengantuk, ia pun kemudian beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia segera membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur usai mematikan semua lampu yang ada dikamarnya kecuali lampu tidur yang ada diatas meja nakas disampingnya.
Miko tidak sadar kalau gadis pujaannya sedang tertidur pulas diatas tempat tidur yang sama dengannya. Hanya saja gadis itu bersembunyi dibalik selimut jadi ia tidak menyadarinya. Tidak sampai setengah jam, Miko sudah masuk ke alam mimpinya.
Didalam mimpinya, Miko melihat gadis itu berbaring disampingnya sambil mengulas senyuman termanis di bibir mungilnya.
"Baru sebentar saja aku tidak melihatmu, aku sudah bermimpi tidur bersamamu. Aku baru sadar ternyata aku begitu menggilaimu, Tri." ucap Miko dalam mimpinya.
"Tri, kamu itu ibarat magnet, sedangkan aku adalah besinya. Rasanya kamu itu memiliki kekuatan besar yang selalu mampu menarikku dengan kuat dan membuatku ingin selalu menempel padamu. Aku ingin selalu berada didekatmu kemana pun kamu pergi."