
Tiba-tiba Radit jadi bersemangat mendengar kata terakhir yang diucapkan oleh Tania. Padahal sebelumnya dia lemas dan cemberut.
"Apa, kamu bilang apa tadi? Aku nggak denger, coba ulangi sekali lagi." tanya Radit pura-pura tidak dengar.
"Nggak ada siaran ulang. Ayo turun! Kita udah sampe." lanjut Tania seraya membuka pintu mobil dan turun dari mobil tersebut.
"Yaaahh. Pak, kok cepet banget sih sampenya?" tanya Radit pada sopir taxinya.
"Yah sudah, kalo adek masih belum mau turun, saya bawa adek keliling-keliling dulu baru dibawa lagi kesini," jawab si sopir bercanda.
"Nggak, Pak. Nggak usah, makasih." tolak Radit.
Setelah Radit membayar ongkos taxi, ia pun lalu ikut turun menyusul Tania.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berkumpul diruang VIP restoran. Kali ini lebih ramai dari sebelumnya. Karena sekarang ada, Pak Rudi, Tantri, Pak Rahmat, Bu Risna, Rindi, Dewi, dan juga Tama. Kali ini yang kurang ada tiga orang yaitu Tasya, Hendra, dan Kevin. Kevin sedang sibuk dan lembur dikantornya. Jadi, dia tidak bisa ikut bergabung.
Makan malam kali ini Radit tidak akan membiarkan Miko duduk disamping Tania seperti sebelumnya. Tania sekarang duduk diapit oleh Radit dan Tantri. Sedangkan Miko duduk disamping Pak Rudi dan Tama. Miko sengaja mendekati anggota-anggota keluarga Tania karena ia merasa agak sulit mendekati gadis itu. Karena gadis itu lumayan cuek padanya.
Miko suka dengan gadis cuek seperti Tania, karena menurutnya orang yang bersifat seperti itu orangnya setia.
Makan malam berjalan dengan lancar, tidak ada adegan seperti sebelumnya. Setelah semuanya selesai makan malam, Radit mengajak Tania untuk pamit pulang duluan. Seperti kesepakatan mereka sebelumnya, Radit dan Tania ingin pergi ke taman untuk yang terakhir kalinya. Karena besok malam adalah jadwal penernbangan mereka untuk kembali ke kampung.
***
Keesokan harinya, Hendra mengajak istrinya beserta seluruh keluarganya belanja di mall terdekat. Sebelum ia dan Tasya berangkat ke Turki, ia ingin mengajak istrinya belanja beberapa pakaian yang sesuai untuk dikenakan disana selama mereka liburan di negara yang memiliki julukan Transkontinental tersebut.
Tidak terasa mereka sudah berkeliling belanja selama beberapa jam. Dan mereka sudah memiliki barang belanjaan mereka masing-masing. Yang lainnya memutuskan untuk kembali ke hotel duluan. Karena mereka sudah merasa cukup puas berbelanja. Mereka juga ingin mengemas barang-barang mereka karena pukul 14:30 nanti mereka berangkat.
Hanya tinggal mereka berempat disana yang belum pulang. Yaitu Tasya, Hendra, Radit dan juga Tania. Mereka berempat masih mau belanja sesuatu. Entah apa lagi yang mereka cari.
Tiba-tiba, Tasya merasa kepalanya sangat pusing. Penglihatannya kabur dan perlahan-lahan mulai gelap. Telinganya juga ikut berdengung hingga akhirnya ia mulai tidak sadarkan diri.
"Bruk." Tasya terjatuh dan tergeletak disamping Hendra. Hendra yang menyadari istrinya pingsan segera menghentikan aktifitasnya memilih-milih pakaian.
"Yaa Allah, sayang! Bangun! Kamu kenapa?" ujar Hendra panik seraya menepuk-nepuk pelan pipi istrinya yang ada dipangkuannya.
"Astagfirullah, Kak Tasya, Dit! Kak Tasya pingsan." ujar Tania tidak kalah paniknya lalu segera menghampiri Tasya dan Hendra.
"Apa, pingsan?" ucap Radit lalu ikut berlari dibelakang Tania.
"Kak Hendra! Kak Tasya kenapa?" tanya Tania khawatir lalu duduk bersimpuh disamping kakaknya yang sudah lemas tak berdaya.
"Aku juga tidak tau. Tiba-tiba, dia pingsan begitu aja. Dia juga tidak bilang apa-apa tadi." jawab Hendra masih panik.
"Sayang, bangun, sayang!" ucap Hendra seraya memeluk tubuh istrinya.
"Nia, kamu punya minyak kayu putih nggak di tas kamu?" tanya Radit.
"Eh, kayaknya ada deh." jawab Tania seraya membuka tasnya lalu mengambil botol hijau bening berukuran kecil itu didalam tasnya.
Tania lalu mengoleskan sedikit cairan minyak kayu putih didekat lubang hidung kakaknya. Pelan-pelan Tasya mulai membuka matanya setelah mencium aroma menyengat dari minyak kayu putih tersebut.
"Alhamdulillah, sayang. Kamu sudah sadar," ucap Hendra senang seraya mencium kepala istrinya yang ditutupi hijab.
"Kakak ipar nggak apa-apa, kan?" tanya Radit.
Tasya hanya menggelengkan kepalanya sembari berusaha untuk bangun. Ia masih merasakan pusing dikepalanya.
"Kita dimana?" tanya Tasya masih sedikit bingung.
"Kita masih di mall, Kak. Kakak pingsan tadi." jawab Tania.
"Gimana perasaan kamu, sayang?" tanya Hendra.
"Pusing." jawab Tasya.
"Yah sudah, kita pulang, yah!" ujar Hendra.
Tasya hanya mengangguk pertanda setuju. Hendra pun lalu membantu istrinya berdiri.
"Kamu masih kuat jalan atau mau aku gendong?" tanya Hendra.
"Aku masih kuat kok, sayang." jawab Tasya.
"Radit, Tania! Tolong bawain barang belanjaan kami!" seru Hendra.
"Siap, Kak!" balas Radit dan Tania bersamaan.
Hendra memapah istrinya keluar dari mall. Sedangkan Radit dan Tania membawa barang belanjaan mereka beserta barang belanjaan mereka masing-masing.
"Mereka beli apa sih, Nia? Banyak banget, berat lagi." kata Radit.
"Udah, bawa aja. Nggak usah protes." ujar Tania.
15 Menit Kemudian, Kamar Tasya dan Hendra
Hendra membaringkan tubuh istrinya pelan ditempat tidur. Ia lalu duduk disamping Tasya sambil menggenggam erat tangan istrinya. Ia masih khawatir dengan kesehatan istrinya.
"Aku panggilin dokter yah, sayang," ujar Hendra.
"Nggak usah, sayang. Aku udah enakan kok," balas Tasya.
"Apa sebaiknya bulan madunya kita tunda dulu? Kita tunggu sampai kamu bener-bener sehat," usul Hendra.
"Jangan, sayang. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma kecapekan aja tadi." tolak Tasya.
Tasya berusaha bangun dan duduk. Ia ingin memperlihatkan pada suaminya kalau ia sedang baik-baik saja. Sebenarnya Tasya sudah sangat bersemangat untuk pergi ke luar negeri. Sangat disayangkan kalau ia tidak jadi berangkat. Apalagi ia dan Hendra sudah belanja banyak sekali baju, jaket tebal, sepatu, kaos tangan dan sebagainya. Mereka menyiapkan semua itu untuk mereka pakai disana.
"Beneran nih, kamu yakin?" tanya Hendra mencoba meyakinkan.
"Iya, sayang. Beneran, aku nggak apa-apa kok. Lihat! Aku sudah sehat, kan?" jawab Tasya bersemangat.
"Yah sudah, kamu makan dulu yah, sayang. Aku suapin," ujar Hendra seraya mengambil makanan yang ada diatas meja yang belikan oleh Radit dan Tania tadi selama mereka dalam perjalanan pulang.
Tasya membalasnya dengan anggukan disertai senyuman. Hendra pun lalu menyuapi istrinya hingga makanan habis tak bersisa. Hendra merasa sangat senang karena Tasya makan dengan lahap.