
"Apa? Mau apa dia datang kemari?" tanya Radit bingung. Tania hanya mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu.
Tiba-tiba ponsel Tania berdering. Sebuah panggilan dari nomor asing masuk di ponselnya.
"Siapa yah?" gumam Tania sambil menatap layar benda pipih tersebut.
"Udah. Angkat aja, siapa tau penting." ujar Radit.
Tania pun menggeser tombol hijau yang ada pada layar smartphonenya tersebut lalu berkata, "Halo."
"Halo, Tania kamu ada didalam?" tanya laki-laki yang ada diseberang telepon.
"Di dalam? Maksudnya?" tanya Tania bingung.
"Siapa Nia?" tanya Radit.
"Nggak Tau." jawab Tania pada Radit.
"Ini aku, Miko. Itu suara Radit kan? Aku tau kamu ada didalam sana." ujar Miko.
"Ka kak Miko." ucap Tania terbata sambil melihat kearah Radit. Radit hanya membelalakkan matanya mengetahui kalau orang yang sedang berbicara di telpon dengan Tania adala Miko, yang tidak lain adalah rivalnya sendiri.
"Iya. Tolong buka pintunya. Aku sedang berdiri di depan pintu kamar Radit sekarang." titah Miko lalu menutup teleponnya.
"Tapi kak," Tania.
Tut tut tut.
"Halo. Halo. Halo. Kak Miko." ucap Tania.
"Ih, kok dimatiin sih." kata Tania kesal.
"Gimana ini Dit?" tanya Tania meminta persetujuan Radit.
Dengan berat hati Radit pun berkata, "Udah buka aja sana." ucapnya ketus.
"Kamu marah Dit?" tanya Tania.
"Nggak." ucap Radit masih dengan nada yang sama sambil membaringkan tubuhnya membelakangi Tania.
"Dit. Kalau kamu marah, aku nggak usah bukain pintunya." ujar Tania mencoba membujuk Radit yang sedang mengambek.
"Nggak. Aku nggak marah kok. Cepetan sana bukain pintunya." perintah Radit.
"Dit." panggil Tania mencoba masih mencoba membujuk Radit.
"Udah sana, bukain pintunya. Cepetan." perintah Radit.
"Dit. Aku nggak bakal bukain pintunya kalo kamu marah." jelas Tania.
Radit pun memutuskan bangun dari posisinya. Ia sadar kalau Tania mulai mempedulikan perasaannya dan ia senang akan hal itu.
"Iya, aku juga janji Dit." janji Tania sambil mengangguk dan mengerti keinginan kekasihnya itu. Ia pun lalu beranjak dan membukakan pintu untuk Miko yang sudah berdiri didepan sana sedari tadi.

"Kenapa lama sekali? Apa yang sedang kalian lakukan berduaan didalam sana? Hah?" tanya Miko seolah-olah ingin menginterogasi Tania.
"Ng nggak, nggak kok kak. Kak Miko jangan salah paham. Kami nggak ngapa-ngapain kok. Aku cuma, aku cuma nemenin Radit yang lagi sakit aja, nggak lebih." jelas Tania sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya didepan dadanya. Ia tidak mau Miko berpikiran yang tidak-tidak tentangnya dan Radit.
"Beneran nih nggak ngapa-ngapain?" tanya Miko menyelidik.
"Iya kak. Beneran. Demi Allah." ucap Tania bersumpah sambil mengacungkan jari tengah dan telunjuknya. Saking ia tidak mau Miko salah paham pada mereka berdua.
"Tapi kenapa lama sekali buka pintunya?" tanya Miko lagi.
"Oh, mm ... itu tadi, aku lagi di kamar mandi kak. Makanya lama." bohong Tania.
"Yah udah. Aku boleh masuk nggak nih?" tanya Miko.
"Eh, iya kak silahkan." jawab Tania seraya menggeser tubuhnya bersandar di dinding sambil menarik gagang pintu untuk memberi jalan pada Miko.
Setelah Miko masuk dan duduk di sofa, Tania menyusulnya setelah menutup rapat pintu kamar Radit. Sedangkan Radit hanya menatap tajam ke arah Miko seakan ingin mencincang-cincangnya. Tapi Miko tidak mempedulikan tatapan tajam Radit tersebut terhadapnya.
"Ini, aku membawa makan siang untuk kalian berdua." ujar Miko sambil menyerahkan barang bawaannya pada Tania.
"Makasih banyak yah kak, Kak Miko baik sekali. Kebetulan kami memang belum makan siang." ucap Tania seraya menerima pemberian Miko.
"Kalian berdua makanlah dulu, pasti kalian lapar." ucap Miko.
"Makan bareng yuk kak." ajak Tania.
"Nggak. Nggak usah, aku sudah makan tadi di resto. Kalian aja yang makan." tolak Miko.
"Oh, iya kak." ucap Tania mengangguk lalu menghampiri Radit dan duduk disampinya sambil membawa kotak berisi makanan tersebut.
"Oh iya Radit, Gue denger Lo lagi sakit. Gimana keadaan Lo sekarang?" tanya Miko basa basi.
Sebenarnya Miko datang ke hotel hanya untuk melihat Tania, bukan untuk menjenguk Radit. Sekalian ia membawa beberapa kotak makanan untuk seluruh anggota keluarga Hendra.
"Baik." jawab Radit dengan nada datar. Sebenarnya ia malas menjawab pertanyaan dari Miko tersebut. Tapi karena Miko sudah berbaik hati membawakan mereka makan siang, akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak terlalu dingin pada Miko. Lagi pula ia juga belum punya bukti yang nyata kalau Miko memang benar-benar ingin merebut kekasihnya.
"Syukurlah." ucap Miko.
"Kamu makan yah Dit." kata Tania sambil melettakkan satu buah kotak makanan tersebut diatas meja nakas dan yang satunya lagi ditangannya.
"Suapin." ucap Radit. Tania hanya mengangguk setuju dengan permintaan Radit. Tania pun lalu menyuapi Radit dengan penuh kasih sayang.
"Cih, sudah jelas Lo kalah jauh sama Gue Radit. Elo bener-bener nggak bisa disaingin sama gue. Elo tuh manja banget, anak mami, makan aja minta disuapin segala sama Tania. Elo cuma bisa ngerepotin Tania doang. Dasar. Liat aja nanti, cepat atau lambat, Gue bakalan ngerebut Tania dari Elo." batin Miko percaya diri sambil menyeringai sinis.
Miko sebenarnya merasa sangat iri melihat keromantisan kedua insan tersebut. Tidak butuh waktu lama untuk ia pamit undur diri meninggalkan kamar Radit. Karena ia sudah kegerahan melihat Radit yang begitu manja pada Tania.