How To Love You

How To Love You
Bab 86



Sesampainya di parkiran, Radit membukakan pintu mobilnya untuk Tania. Setelah Tania masuk, ia pun berjalan mengitari mobilnya lalu ikut masuk dan duduk di kursi kemudi.


Tania membuang pandangannya kearah luar. Radit melirik Tania sambil tersenyum bahagia mengingat kejadian tadi. Ia lalu fokus mengemudikan mobilnya menyusuri arah jalan pulang.


Setelah melajukan mobil kurang lebih 20 menit. Radit membelokkan mobilnya dan memarkirkannya di depan sebuah mini market.


"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Tania.


"Aku mau beliin kamu ice cream supaya kamu nggak ngambek lagi sama aku." jawab Radit sambil tersenyum lalu mematikan mesin mobilnya.


"Hah, ice cream. Itu makanan kesukaan aku. Siap-siap kamu Dit aku kerjain. Hahaha." batin Tania. Ia memikirkan cara untuk balas dendam pada Radit.


"Ayo masuk!" ajak Radit.


Mereka pun lalu masuk bersama ke dalam mini market.


"Ayo sayang. Pilih apapun yang kamu suka. Biar aku yang bayar." ujar Radit pada Tania.


Tania tersenyum misterius. Ia pun lalu memulai aksinya.


"Kena kamu Dit. Siap-siap aku habisin uang kamu." batin Tania. Ia lalu mengambil sebuah troli dan mulai berbelanja.


Tania berjalan sambil mendorong trolinya. Ia memasukkan berbagai macam barang ke dalam troli perbelanjaan tersebut secara asal. Ia memasukkan banyak cemilan, minuman, ramyun dan beberapa kotak ice cream ukuran 500 gr, ice cream stik, ice cream cup dan sebagainya sampai trolinya penuh.


Radit mengekori Tania kemanapun Tania pergi, ia tersenyum melihat Tania yang begitu bersemangat berbelanja. Sesampainya didepan kasir, Tania mengambil banyak coklat dan menambahkan pada belanjaannya.


Kasir mulai menghitung nominal belanjaan Tania sambil memasukkannya kedalam beberapa kantongan plastik ukuran besar.


"Semuanya Rp 1. 247.900,-" ucap kasir itu.


"Rasain kamu Dit. Emang enak dikerjain. Jangan bilang, uang kamu nggak cukup buat bayar semua ini. Hahaha." batin Tania sambil tersenyum penuh kemenangan. Ia pikir, kali ini Radit pasti akan sangat kesal padanya.


Radit menyerahkan kartu debitnya pada kasir. Ia terlihat santai-santai saja mendengar jumlah nominal yang harus ia bayar. Setelah semua barang sudah masuk kedalam mobil. Radit pun melajukan mobilnya kembali.


"Bagaimana? Apa kamu senang?" tanya Radit sambil tersenyum sekilas ke arah Tania. Ia lalu kembali fokus menyetir.


"Hem." gumam Tania. Ia kecewa karena ia merasa, kali ini ia gagal lagi mengerjai Radit karena Radit terlihat santai-santai saja dan malahan terlihat semakin senang dari sebelumnya.


"Loh kok, jawabnya cuma hem? Apa kamu belum puas belanjanya? Kalau belum, ayo kita kembali lagi. Bagaimana kalau kamu beli baju, tas, sepatu, ataupun yang lainnya. Terserah kamu sayang mau beli apa aja." usul Radit.


"Nggak. Nggak usah. Ini aja udah banyak banget. Makasih karena kamu udah mau bayar semua belanjaanku." tolak Tania dengan suara lemas. Ia hilang semangat karena rencananya mengerjai Radit gagal.


"Loh, kok Radit bisa sesantai itu sih? Padahal yang aku tau dia kan nggak kerja, dia masih kuliah sekarang. Malah pake acara ngajak shoping-shoping segala lagi. Mau dapat uang darimana coba? Apa jangan-jangan, dia cuma ngabisin uang orang tuanya aja yah? Secara, orang tuanya kan tajir." batin Tania.


"Loh kok kamu lemes begitu sih sayang? Kamu laper yah? Kalau kamu laper, ayo kita cari tempat makan dulu." ajak Radit.


"Tapi kok kamu kenapa bisa lemes begitu sih?" tanya Radit.


"Nggak. Nggak apa-apa kok." jawab Tania.


Hening.


"Nia. Tolong dong, bukain pocky rasa coklat, itu yang bungkusnya warna merah. Aku lagi pengen ngemil itu." perintah Radit memecah keheningan diantara mereka.


Tania lalu mengambilkan cemilan yang Radit maksud. Tania mengeluarkan kemasan dari boxnya lalu ia merobek sisi atas kemasan pocky tersebut kemudian menyerahkannya pada Radit.


"Loh, suapin dong sayang. Aku kan lagi nyetir." perintah Radit.


"Ih manja banget sih, kayak anak kecil aja." omel Tania.


"Biarin, kan ada kamu yang manjain." balas Radit tersenyum penuh kemenangan.


Tania pun lalu menyuapi Radit. Radit terlihat sangat senang. Kedua sudut bibirnya terus melengkung ke atas seiring Tania menyuapinya sampai beberapa bungkus sudah habis dimakannya.


"Yummi. Enak banget. Makan pocky rasa cinta." ucap Radit sambil tersenyum melihat ke arah Tania. Ia memegang pergelangan tangan Tania yang sedang menyuapinya.


"Apaan sih, suka banget pegang-pegang." ucap Tania lalu menarik tangannya yang dipegang Radit.


"Kan cuma pegang tangan doang sayang. Nggak macam-macam kok. Masa gitu aja kamu marah sih." ujar Radit.


"Cuma pegang tangan doang kamu bilang? Jadi yang di mall itu tadi apa? Hah!" sewot Tania.


"Itu karena kamunya yang suka ngambek. Makanya aku cium. Lagian kalau kamu mau marah, jangan ke aku dong Nia. Marahnya ke ibu-ibu tadi. Kan dia yang mengguruiku tadi." ucap Radit membela diri.


"Terus kalau ibu-ibu tadi nyuruh kamu loncat ke lantai 1, kamu bakalan loncat gitu." ujar Tania.


"Yah enggak juga. Siapa juga yang mau mati konyol? Aku nggak mau mati sebelum ..." ucap Radit menggantung sambil tersenyum ke arah Tania.


Tania yang melihat senyum aneh dibibir


Radit pun bertanya, "Sebelum apa?" tanya Tania dengan nada tinggi. Ia bisa menebak kalau Radit pasti memikirkan sesuatu yang aneh.


"Aku nggak mau mati sebelum ... aku menua bersamamu, memiliki banyak anak, dan cucu yang lucu-lucu." jawab Radit seraya tersenyum.


"Hah! Tinggi sekali khayalan Anda Tuan Raditya Rahmat." balas Tania tidak habis pikir dengan ucapan Radit.


"Eh, nggak apa-apa kan Nyonya Radit. Siapa tau tadi ada malaikat yang lewat, terus dicatet, eh tau-taunya kesampaian beneran deh." tutur Radit santai sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.


"Apa? Nyonya Radit? Bener-bener kamu yah, Dit. Aku pusing tau nggak ngomong sama kamu." ucap Tania geleng-geleng kepala sambil memijit pangkal hidungnya. Ia merasa pusing menghadapi Radit yang begitu tergila-gila padanya.