How To Love You

How To Love You
Lamaran Tiba-tiba



"A-ada di dalam, Om. Mari silahkan masuk, Om," kata Tasya, dengan sopan.


Pak Gunawan dan Hendra pun melangkah masuk. Hendra senyum-senyum sendiri menatap Tasya, sedangkan gadis itu hanya menunduk lalu menutup pintu rumahnya kembali.


"Silahkan duduk. Sebentar saya panggilkan ayah saya."


Tasya pun segera melangkah masuk begitu melihat tamunya duduk di kursi ruang tamu.


Apa maunya sih tuh orang? Katanya mau balas dendam, tapi kok pake bawa-bawa papanya segala. Cih, dasar anak papi.


Tidak lama kemudian pak Rudi dan bu Indah pun keluar menyambut kedatangan tamunya. Setelah cukup lama mereka mengobrol basa basi, pak Gunawan pun akhirnya mengutarakan maksud kedatangan mereka bertamu malam-malam.


"Begini, Pak, Bu. Maksud kedatangan kami kemari untuk melamar putri Bapak dan Ibu untuk putra kami satu-satu-satunya, yaitu Hendra."


Hendra hanya tersenyum sambil mengangguk sopan dan malu-malu pada calon mertuanya.


Pak Rudi dan Bu Indah saling tatap, keduanya terlihat sangat senang sekali mendengarnya.


"Suatu kehormatan bagi keluarga kami bisa berbesan dengan keluarga Bapak. Kami sangat senang mendengarnya, Pak, " kata Pak Rudi sambil tersenyum lebar.


"Tapi kami punya 3 orang anak gadis, yang mana yang Anda maksud?" tanya Pak Rudi serius.


"Tasya, Om," jawab Hendra malu-malu.


"Tapi sekarang Tasya masih kuliah, Nak Hendra. Apakah tidak jadi masalah untuk, Nak Hendra?" tanya Pak Rudi.


"Tidak jadi masalah, Om. Saya sanggup kok Om membiayai sampai kuliah Tasya sampai selesai."


Pak Rudi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah."


"Apakah Pak Rudi sudah setuju dengan lamaran kami?" tanya Pak Gunawan, ingin memastikan.


"Tentu saja Pak Gunawan, kami sangat setuju. Iyakan, Bu?" tanya pak Rudi, sambil menoleh pada istrinya.


"Tentu saja kami setuju, Pak. Bagi orang biasa seperti kami, bisa berbesan dengan keluarga Bapak merupakan suatu keberuntungan, kehormatan, dan kesempatan langka," jawab bu Indah.


"Tidakkah sebaiknya Bapak dan Ibu tanyakan dulu pada yang bersangkutan?" ujar Pak Gunawan.


"Tidak perlu, Pak. Tasya anak yang penurut, dia tidak pernah membantah kata-kata saya sekali pun," ucap Pak Rudi. Dia telihat begitu yakin.


Pak Gunawan mengangguk pertanda mengerti.


"Jadi, apa bisa kita tetapkan waktu pernikahannya sekarang?" tanya Pak Gunawan.


Wajah Hendra terlihat berseri-seri sejak tadi. Dia merasa sangat bahagia sekali melebihi apa pun. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu sejak lama sebentar lagi terwujud, yaitu mempersunting gadis pujaan hatinya.


Sementara itu, Tasya duduk selonjoran sambil bersandar di tembok. Dia merasa tidak bertenaga, badannya terasa lemas, dan jantungnya berdebar sangat kencang, serta tangannya juga gemetar. Ternyata sedari tadi dia menguping pembicaraan orang-orang yang ada di ruang tamu sana. Gadis itu tidak pernah menyangka jika Hendra akan bertindak sejauh ini dalam waktu singkat.


Apa ini yang dia maksud dengan balas dendamnya tadi sore? Tapi kenapa dia cepat sekali melamarku? Ya, aku tau dia udah lama suka sama aku, tapi aku gak punya perasaan apa-apa sama dia. Padahal udah sekian lama kami gak pernah bertemu, baru tadi pagi dan tadi sore. Kenapa dia cepat sekali mengambil tindakan? Dia bahkan gak pernah menanyakan perasaan aku sama dia. Memangnya dia gak takut apa menikahi perempuan yang gak cinta sama dia sama sekali?


Tiba- tiba Tasya teringat kata-kata Hendra waktu itu.


Aku mau kamu tahu satu hal. Jika suatu saat nanti dia menyakitimu ataupun mencampakkanmu. Aku tidak akan melepaskanmu bagaimana pun caranya. Aku juga tidak mau peduli kamu mau menerimaku atau tidak. Yang jelas satu-satunya hal yang aku lakukan adalah, mengajarimu cara mencintaiku. (Hendra)


Dia benar-benar membuktikan perkataannya waktu itu. Dia benar-benar gak boleh dianggap enteng.


Jadi ternyata ini yang dia maksud gak mau melepaskan aku gak peduli aku mau menerimanya atau pun tidak. Cih, mengerikan sekali, ternyata di dunia ini emang ada orang yang seperti itu. Aku pikir cuma ada di dalam cerita novel atau pun komik.


Lalu gimana nanti dengan aku? Apa aku bakalan bahagia setelah menikah dengan dia? Dia bilang akan mengajariku cara mencintainya, cih, emang dia pikir semudah itu membuat orang jatuh cinta.


Apa yang harus aku lakukan? Ayah dan ibu menyetujui lamaran mereka gitu aja tanpa meminta persetujuan dari aku. Aku harus gimana? Aku juga gak mungkin membantah keputusan ayah dan ibu. Aku gak mau jadi anak durhaka.


Setelah sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri. Tasya pun berusaha bangkit dengan sekuat tenaga mencoba melangkah masuk ke dalam kamarnya sebelum nanti ada yang memergokinya menguping. Tania dan Tantri sedang sibuk belajar di kamar mereka masing-masing. Tania sedang sibuk belajar untuk kelulusannya di SMA. Sedangkan Tantri besok ulangan mid-semester.


Apakah nanti setelah aku menikah dengan dia, aku masih bisa bebas melakukan apa pun yang aku suka seperti sekarang ini? Apa aku masih bisa menjalankan bisnis makananku? Lalu gimana nanti kalau dia melarangku melakukan banyak hal? Apa yang harus aku lakukan? Apakah setelah dia melarangku mengerjakan semua hal yang aku sukai, dia bakalan nyuruh aku untuk melayaninya di dapur dan di kas ....


Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Pikirannya seketika kacau dan dipenuhi begitu banyak pertanyaan saat tahu Hendra tiba-tiba melamarnya


"Aah!!!" Tasya berteriak sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Namun seketika gadis itu terperanjat kaget saat merasakan ada yang mengelus kepalanya. Seketika itu juga teriakannya ikut terhenti.


"Ibu," ucap Tasya saat mendongakkan kepalanya.


"Nak, Ibu mau bicara dengan kamu sebentar." Ibu Indah duduk di pinggir tempat tidur sambil mengelus kepala putrinya.


Tasya pun bangun dan duduk.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Tasya, dia berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Nak, tadi pak Gunawan dan nak Hendra datang kemari bermaksud untuk melamar kamu," jelas bu Indah sambil menatap lekat wajah putri tertuanya itu.


Tasya tau bu, ayah dan ibu menerima lamaran mereka tanpa bertanya dulu padaku, 'kan?


"Lalu?" tanya Tasya.


"Kami menerima lamaran mereka, Nak. Ayah dan Ibu hanya ingin kamu bahagia, dan memberikan yang terbaik untuk kamu. Hendra anak yang baik, tampan, serta dari keluarga baik-baik dan terpandang. Ibu dan ayah yakin, Hendra pasti bisa membimbing kamu kelak. Kalian juga sudah saling mengenal, 'kan? Jadi menurut Ibu dan ayah tidak ada salahnya kami menerima lamaran mereka. Ibu dan ayah yakin, kelak suamimu pasti bisa membahagiakan kamu, Nak," jelas bu Indah.


Tasya memilih untuk diam saja. Dia takut membantah apa pun keputusan kedua orang tuanya.


Iya, Tasya tau bu, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.


"Dan, 2 minggu lagi, akad nikahmu akan dilangsungkan, Nak." Bu Indah menjelaskan dengan pelan takut putrinya shock.


"Apa, Bu?! Kenapa cepat sekali ...?" Tasya terbelalak kaget mendengarnya. Dia tidak menyangka akan menikah secepat itu.


"Sebenarnya ini permintaan mereka, Nak. Memang tidak bagus 'kan menunda-nunda hal-hal yang baik.


Lebih cepat 'kan lebih baik," jelas bu Indah.


Gak sabaran banget sih jadi laki-laki. Kenapa gak sekalian malam ini aja kita nikah? Huh, dasar menyebalkan.


"Untuk resepsi pernikahan kalian, mungkin baru akan diselenggarakan setelah satu atau dua bulan kemudian. Tergantung dari keputusan suami dan mertuamu nanti."


Tasya masih saja terdiam.


"Untuk sementara, kamu tidak usah jualan dulu ya, Nak. Tunggu sampai kamu sudah menikah. Ya itu pun nanti kalau suamimu mengijinkan."


"Kenapa sih, Bu harus pakai ijin segala?" Tasya tidak sengaja kelepasan bicara.


"Suamimu nanti berhak atas dirimu, Nak. Selama dia tidak menyuruhmu melakukan maksiat, kamu wajib menuruti semua perintahnya."


"Nak ... ridho Allah tergantung ridho suamimu kepadamu. Jika suamimu ridho kepadamu, maka Allah pun akan ridho pula terhadapmu. Menikah itu ibadah, Nak, kamu harus tahu itu." Bu Indah memberikan wejangan pada putrinya.


"Iya, Bu, Tasya mengerti."


"Oh iya, satu lagi, besok nak Hendra ingin mengajakmu memilih cincin kawin."


"Tapi 'kan besok Tasya kuliah, Bu."


"Iya, ibu tahu, Nak. Besok pagi, kalian berangkatlah lebih awal. Mallnya kan tidak jauh dari kampusmu. Kalian bisa kembali sebelum jam pelajaran dimulai." ujar Bu Indah.


"Terserah lah, Bu. Tasya mau tidur, ngantuk." Tasya segera berbaring kembali di tempat tidurnya. Dia ingin segera menyudahi pembicaraannya dengan ibunya secepat mungkin.


"Yah sudah, istirahatlah. Ibu keluar dulu." Bu Indah pun meninggalkan kamar putrinya.


Malam ini Tasya tidak bisa tidur. Sepanjang malam dia merasa sangat gelisah. Terlalu banyak yang gadis itu pikirkan, sehingga mengakibatkan dia terjaga hingga lewat waktu tengah malam.