
Ditengah perjalanan
"Kamu mau singgah makan dulu atau tidak?" tanya Miko sembari fokus menyetir.
"Mm, nggak usah deh, Kak. Kita langsung pulang aja, bentar lagi malam," jawab Tantri setelah berpikir sejenak.
"Yah sudah."
Saat Miko tengah fokus melajukan mobilnya, tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Sherina tadi yang mengatainya Om-Om.
"Tantri!" panggil Miko.
"Iya Kak, ada apa?" sahut Tantri.
"Mm, apa aku setua itu?" Tanya Miko ingin memastikan ucapan Sherina.
Tantri tahu betul maksud ucapan Miko.
"Astaga Kak, ngapain Kak Miko mikirin ucapannya si Sherina? Dia tuh emang kayak gitu orangnnya. Kalo ngomong mulutnya nggak bisa dijaga." jelas Tantri.
"Aku bukannya kepikikiran bagaimana juga. Aku hanya ingin memastikan, apakah aku terlihat setua itu kalo jalan sama kamu? Maksud aku begitu tadi." ucap Miko balik menjelaskan.
"Oh, emangnya Kak Miko umur berapa sih?" tanya Tantri.
"27." jawab Miko singkat.
"What?" pekik Tantri sambil membelalakkan matanya tidak percaya.
"Ih kenapa, kenapa ekspresimu seperti itu? Berarti memang benar, aku memang terlihat seperti Om-Om." ujar Miko.
"Nggak Kak, bukannya gitu. Aku cuma nggak nyangka aja ternyata umur Kak Miko udah segitu. Padahal tadinya aku pikir Kak Miko masih umur 23 atau 24 tahun." jelas Tantri.
"Ah, kamu bisa aja." ucap Miko malu-malu. Pipinya jadi bersemu merah.
"Seriusan Kak. Kak Miko emang keliatan awet muda banget," ucapan Tantri sukses membuat pipi Miko semakin memerah. Miko tersenyum malu-malu dikatai awet muda oleh Tantri.
"Oh iya, diusia segitu, kenapa Kak Miko belum menikah? Padahal kan Kak Miko sudah dewasa, mapan dan juga sukses." tanya Tantri.
"Mm, aku juga tidak tau. Mungkin karena belum ketemu jodoh," jawab Miko.
"Memangnya Kak Miko nggak punya pacar buat dinikahin gitu?" tanya Tantri penasaran.
"Tidak ada. Aku sudah lama tidak pacaran," jawab Miko.
"Kenapa?" tanya Tantri semakin penasaran.
"Aku pernah pacaran sama seseorang. Kami pacaran selama 2 tahun dan dia selingkuh dibelakang aku," jawab Miko sembari mengingat kenangan masa lalunya bersama Lyvia.
"Oh, maaf yah Kak. Aku nggak bermaksud membuat Kak Miko mengingat kembali kenangan pahit yang pernah Kak Miko alami," ujar Tantri mencoba menghibur Miko.
"Cie elah, kayak aku pernah aja." ucap Tantri lagi.
"Kamu belum pernah pacaran?" tanya Miko sembari tersenyum disertai rasa penasaran.
"Yah enggaklah Kak, aku kan masih kecil mana boleh pacar-pacaran." jawab Tantri.
"Memangnya umur kamu berapa sekarang?" tanya Miko.
"16 Tahun." jawab Tantri.
"Bentar lagi sih Kak, hari minggu nanti aku ulang tahun," ujar Tantri.
"Oh yah, kamu serius?" tanya Miko ingin memastikan kalau Tantri sedang tidak bercanda.
"Iya Kak seriusan, ngapain juga aku berbohong." jawab Tantri meyakinkan.
"Kalau begitu, kamu mau dikasih kado apa?" tanya Miko.
"Aku nggak tau Kak, aku juga bingung." jawab Tantri.
"Mm, begini saja, hari minggu nanti, ayo kita jalan-jalan lagi untuk merayakan ulang tahunmu." ajak Miko.
"Ide bagus tuh, Kak. Aku emang suka jalan-jalan," balas Tantri.
"Oh iya, ngomong-ngomong, apa kamu ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Miko.
"Mm, kemana yah?" jawab Tantri sembari berpikir
"Ke mall aja deh Kak. Ayo kita nonton!" putus Tantri kemudian.
"Mm, oke terserah kamu saja."
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka didepan rumah Pak Rudi. Mereka sampai sebelum adzan maghrib berkumandang karena Miko melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Makasih yah Kak," ucap Tantri sembari tersenyum dan mengangkat paper bagnya.
"Oke sama-sama." balas Miko.
"Nggak mampir dulu Kak?" tanya Tantri.
"Tidak usah. Nanti lain kali saja." jawab Miko.
"Oh yah udah, aku masuk dulu yah Kak. Dah." ucap Tantri lalu beranjak masuk ke rumahnya.
"Dah." balas Miko.
Setelah Tantri masuk dan hilang di telan pintu, barulah Miko melajukan mobilnya.
"Asyik juga yah jalan sama anak ini." ucap Miko sembari menyunggingkan senyum bibirnya.
Tidak tahu kenapa Miko merasa ada yang berbeda saat ia jalan dengan Tantri. Ia pernah bersama dengan Tania waktu itu saat ia mengajari Tania memasak. Tapi ia merasa sangat berbeda saat bersama dengan Tantri. Ia merasa saat bersama dengan Tantri lebih seru, lebih nyaman dan lebih menyenangkan. Sedangkan saat ia bersama dengan Tania, ia harus memutar otak untuk membuat lelucon agar gadis itu mau tertawa.
Saat bersama dengan Tania, Miko berusaha menjadi sosok yang sesempurna mungkin tanpa cela. Namun saat bersama dengan Tantri, ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri dan ia merasa nyaman dengan gadis yang terpaut usia 10 tahun itu dengannya.
"Apa aku pindah haluan saja, yah? Lagian si Tania juga tidak memberikan sinyal apapun. Dia sepertinya sangat mencintai anak ingusan itu," batin Miko.
Miko sedang berpikir untuk berhenti mengejar Tania yang memang jelas-jelas kekasih orang lain. Sedangkan Tantri bukan milik siapa-siapa, kecuali milik ayah dan ibunya. Sudah 2 kali ia jalan dengan gadis itu dan ia merasa sangat nyaman.
"Ah baiklah, aku coba saja PDKT sama si Tantri. Siapa tau anak itu juga tertarik padaku kalau aku sering mengajaknya jalan berdua."
"Walau usiaku lebih tua 10 tahun, tapi tidak masalah karena Tantri bilang kalau aku terlihat awet muda." batin Miko sembari cekikikan.
Entah mengapa saat mengingat Tantri, ia selalu menyunggingkan senyum dibibirnya. Ia juga suka dengan perlakuan gadis itu padanya. Ia selalu merasa nyaman, tentram dan damai saat bersama dengan Tantri.
"Tidak mungkin kan aku sudah jatuh cinta sama anak itu. Masa secepat ini? Ah, tidak masuk akal! Mungkin yang aku rasakan hanya sebatas perasaan nyaman saja. Iya, pasti begitu."
Setelah sibuk bergelut dengan pikirannya mengenai calon pasangannya, akhirnya Miko sampai juga di kediaman Hendra dan Tasya.