How To Love You

How To Love You
Penjual Makanan Online



3 Bulan kemudian


Tasya terlihat lebih menikmati hidupnya sekarang. Sepertinya dia sudah kembali ceria dan bersemangat seperti dulu. Dia sudah mengikhlaskan Fathur, meskipun sebenarnya masih belum bisa melupakan pemuda itu sepenuhnya. Sekarang Tasya lebih menikmati kehidupannya dan mencintai profesinya sebagai penjual makanan online sekaligus sebagai kurirnya.


Tasya kuliah dari hari senin sampai hari jum'at. Biasanya, pada hari minggu dia tidak menerima orderan karena dia ingin beristirahat sekali seminggu.


Tapi karena hari ini ada seorang pelanggan baru yang memesan 25 kotak makanan, dia pun dengan senang hati menerima orderan tersebut. Lumayan untuk menambah pemasukannya minggu ini.


Pelanggan tersebut meminta diantarkan pada pukul 10 pagi, jadi Tasya tidak perlu bangun sebelum masuk waktu shalat subuh untuk memasak pesanan tersebut.


Jam sudah menunjuk angka pukul 09:40, gadis itu pun segera bersiap-siap untuk mengantar makanan tersebut kepada pemiliknya. Kebetulan alamat pelanggan baru tersebut terletak di dusun sebelah jadi tidak butuh waktu lama untuk bisa sampai kesana.


Sesampainya di depan pintu gerbang rumah pelanggan tersebut, gadis itu pun segera mencocokkannya dengan alamat yang tertulis pada pesan di Whatsapp-nya.


Iya betul, emang benar ini rumahnya. Wah, ternyata ada rumah besar di lorong ini. Kok aku baru tahu, ya? Mungkin karena aku udah bertahun-tahun gak pernah masuk di lorong ini. Batinnya lalu menjinjing dua buah kardus yang berisi makanan di tangan kanan dan kirinya.


Sesampainya di depan pintu rumah besar tersebut, Tasya langsung memencet bel yang tersedia tepat di samping kiri pintu.


Ting tong! Ting tong!


Tasya memencet bel sebanyak beberapa kali. Tidak lama kemudian, keluarlah seorang wanita paruh baya dari balik pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum, Bu." Tasya menyapa wanita paruh baya tersebut dengan ramah dan lembut.


"Wa'alaikum salam," jawabnya.


"Permisi, Bu. Saya ke sini karena mengantarkan pesanan makanan atas nama saudara Ani."


"Iya, saya sendiri."


Tasya tersenyum. "Kalau begitu-"


"Tuan sudah menunggu Anda di dalam, Nona. Mari silahkan masuk. Barang-barangnya biar saya bantu bawa ke dalam. Mari, silahkan ikut saya." Wanita paruh baya bernama Ani tersebut memotong ucapan Tasya.


Tasya mengernyitkan keningnya kebingungan. Baru kali ini ada pelanggan yang mengajaknya masuk ke dalam rumah. Biasanya langsung dibayar di depan pintu.


"Eh, tidak usah, Bu. Saya sedang buru-buru," tolak Tasya.


"Tapi ini perintah pemilik rumah ini, Nona. Mari masuk. Biar sebagian makanannya saya bantu bawa."


Wanita paruh baya itu mengambil alih 1 kardus dari tangan Tasya kemudian membawanya ke dalam. Mau tidak mau Tasya terpaksa menuruti.


Ah, mungkin karena pemilik rumah ini sedang mengadakan acara di rumahnya, makanya dia memesan banyak makanan sama aku. Dan mungkin aja pemilik rumah ini menyuruhku masuk ke dalam rumahnya karena dia mau mengajak aku untuk bergabung bersama mereka. Ah, baik sekali ya, ternyata masih ada orang kaya yang gak sombong.


Begitu memasuki rumah, Tasya celingukan ke sana ke mari melihat ke sekeliling ruangan. Dia takjub melihat isinya yang serba putih dengan nuansa scandinavian. Benar-benar rumah impian yang sangat nyaman untuk dihuni.


Wah, dekorasi rumah ini bagus banget. Terlihat sangat bersih dan nyaman dihuni. Kapan ya aku bisa tinggal di rumah sebagus ini? Batinnya lagi.


Setelah sampai di ruang makan. Tasya tidak melihat sekumpulan orang yang sedang mengadakan acara seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Melainkan hanya ada dua orang, yaitu seorang pembantu yang tadi membukakan pintu untuknya dan yang satunya lagi seseorang yang tidak asing baginya. Tapi dia tidak tahu persis, apakah orang yang sedang duduk di meja makan itu seorang tamu ataukah pemilik rumah tersebut.


Orang itu memamerkan senyum mautnya ke arah Tasya. Tasya sangat terkejut, sampai-sampai dia tidak sengaja menjatuhkan kardus berisi makanan yang ada di tangannya sekarang ini ke lantai.


Melihat wajah orang itu kembali setelah sekian lama, ingatan tentang ucapan orang itu beberapa bulan yang lalu langsung terputar di dalam memori otak Tasya. Mengingatnya saja sudah membuatnya merinding, apalagi jika orang itu benar-benar membuktikan perkataannya. Pasti akan sangat ... sangat ... ah, entahlah? Author juga tidak tahu.


Mampoos aku kali ini. Kenapa gak ada orang di sini sih? Aku pikir tadi di dalam sini ada acara dan banyak orang, makanya aku ikutan masuk. Andai aku tau orang itu juga ada di sini, aku pasti gak bakalan masuk, dan pastinya aku juga udah kabur setelah mendapatkan bayaranku.


Jantung Tasya berdegup sangat kencang saat kembali bertemu dengan Hendra.


"Hai! Lama tidak bertemu. Apa kamu merindukanku?" Hendra menyapa Tasya sambil tersenyum sumringah.


Mendengar ucapan Hendra, Tasya akhirnya tersadar kalau dia menjatuhkan kardus yang berisi makanan tadi ke lantai.


Siapa juga yang rindu? Kepedean amat.


"Eh, maaf maaf, Kak. Kok gak ada orang sih di sini? Tadinya saya pikir di sini banyak orang dan pemilik rumah ini sedang mengadakan sebuah acara. Makanya memesan banyak makanan sama saya." Tasya mencoba mengalihkan pembicaraan agar dia tidak terlihat canggung bertemu kembali dengan pemuda itu.


Hendra tersenyum. "Simpan saja makanan itu di atas meja."


Tasya pun meletakkan kardus berisi makanan tersebut di atas meja makan, tidak jauh di depan Hendra.


"Disini tidak ada siapa-siapa, hanya ada aku dan seorang pembantu," imbuh Hendra.


Apa? Gak ada siapa-siapa. Apakah rumah besar ini rumahnya? Ah, pasti bukan. Bukannya rumah orang tuanya ada di perempatan sana? Gak mungkin 'kan rumah ini adalah rumahnya juga. Pasti rumah ini punya temannya atau mungkin punya saudaranya.


"Duduklah," kata Hendra.


"Gak usah, Kak. Saya buru-buru," tolak Tasya.


"Mm ... maaf kalau boleh tau, yang punya rumah ini ke mana, ya? Kemarin dia memesan banyak makanan sama saya," tanya Tasya.


Hendra kembali tersenyum. "Duduk lah dulu."


"Gak usah, Kak. Makasih. Sekarang saya cuma menunggu bayaran saya setelah itu saya mau pulang."


"Ayolah, duduk dulu. Kenapa mesti terburu-buru? Kita sudah hampir satu tahun tidak bertemu. Apakah kamu tidak mau mengobrol denganku sebentar saja sebelum kamu pulang?" tanya Hendra.


"Mm, ya udah deh. tapi bentar aja, kan?" Tasya lalu menarik kursi yang ada di depannya lalu duduk.


"Kamu mencari pemilik rumah ini?" Hendra bertanya sambil mengulum senyumnya. Tasya pun menjawabnya dengan anggukan.


"Ini rumahku, aku pemilik rumah ini," kata Hendra.


Tasya terkejut dan merasa tidak percaya. "I-ini rumah Kak Hendra? Bukankah rumah Kak Hendra ada di perempatan sana?"


"Iya benar, aku serius. Rumah ini memang rumahku. Kalau rumah yang di perempatan sana itu rumah orang tuaku," jelas Hendra.


"Jaj-jadi Kak Hendra yang memesan semua makanan ini?" tanya Tasya ingin memastikan.


Lagi-lagi Hendra kembali tersenyum. "Bi Ani, tolong ambilkan kami piring."


"Baik, Tuan," jawab Bi Ani.


Tidak lama kemudian bi Ani membawa 2 buah piring beserta sendok dan garpu lalu meletakkannya di meja.


"Pindahkan makanannya ke piring," kata Hendra pada asisten rumah tangganya tersebut.


Bi Ani pun memindahkan makanan itu ke dalam piring lalu memberikan satu piring untuk Hendra dan satu piring lagi untuk Tasya.


"Gak usah, Bi. Saya masih kenyang." Tasya menolak tapi bi Ani tetap meletakkan makanan itu di hadapannya.


"Makanlah. Ayo kita makan bersama, kita 'kan sudah sangat lama tidak makan bersama. Terakhir kali di sawah waktu itu, 'kan?" ucap Hendra.


"Tapi saya masih kenyang, Kak."


"Ayolah, temani aku makan. Aku ingin sekali makan bersamamu. Aku selalu merindukan saat-saat seperti waktu itu."


Apa-apaan ini? Kenapa dia malah memaksaku untuk makan. Itu lagi, buat apa juga dia merindukan saat-saat seperti itu bersamaku? Memangnya aku siapanya?


"Mm ... tapi ini 'kan jualan say-" Belum selesai ucapan Tasya tapi Hendra sudah memotongnya.


"Tidak apa-apa. Ayolah, tidak baik menolak rejeki." Dari nada bicaranya saja terdengar memaksa.


Tasya pun akhirnya menurut. Dia tidak punya pilihan lain.


Sebaiknya aku makan aja, setelah itu mungkin aku bisa pergi dari tempat ini secepatnya. Batin Tasya, lalu segera menyantap makanan yang ada di hadapannya.


"Em ... masakanmu memang selalu enak," puji Hendra.


"Makasih, Kak."


"Bagaimana dengan kuliahmu sekarang?" tanya Hendra setelah menelan makanannya.


"Alhamdulillah lancar-lancar aja, Kak."


"Oh syukurlah. Oh iya, apa aku boleh meminta pendapatmu?" tanya Hendra.


"Pendapat tentang apa, Kak?"


"Bagaimana pendapatmu dengan rumah ini?"


"Mm ... rumahnya besar, bagus, bersih. Dekorasinya juga keliatan cantik, rapi. Begitu masuk rasanya nyaman banget. Hunian impianlah pokoknya."


Hendra tersenyum lalu meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya. "Kira-kira ... menurut kamu nanti istriku akan betah tidak ya tinggal di rumah ini?"


"Tentu aja. Siapa yang gak senang dan betah tinggal di rumah sebagus dan senyuman ini." Tasya menjawab dengan santai karena dia tidak mau disangka GR.


Hendra tersenyum senang. "Kira-kira ... kalau kamu yang tinggal disini, kamu bisa betah tidak?"


Tasya tidak menggubris ucapan Hendra, dia memilih untuk pura-pura tidak mendengar ucapan Hendra barusan dan fokus menghabiskan makanannya dengan cepat.


"Oh iya, ngomong-ngomong, apa kamu sudah tahu kalau sekarang Fathur tinggal di kota Kartaja?" Hendra sengaja menanyakan tentang Fathur pada Tasya karena dia ingin melihat seperti apa reaksi gadis itu jika membahas mengenai pria dari masa lalunya.


"Uhuk-uhuk!" Tasya langsung tersedak. Gadis itu langsung meraih gelas air minum yang memang sudah disediakan oleh bi Ani tadi.


"Pelan-pelan makannya," kata Hendra.


"Ehem ehem. Maaf, itu gak ada hubungannya sama saya. Jadi tolong jangan pernah menyebut nama itu lagi di depan saya. Permisi."


Karena kesal, Tasya langsung beranjak dari tempat duduknya.


"Hei! Kamu mau ke mana? Aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan menyebutnya lagi."


Sebenarnya Hendra merasa sangat puas melihat ekspresi dan mendengar jawaban dari Tasya. Karena sesungguhnya memang itu yang dia harapkan.


Tasya tidak mempedulikan ucapan Hendra. Gadis itu terus berlari keluar dari rumah itu.


Hendra berlari mengejarnya. "Tasya tunggu! Kamu belum mengambil uangmu!"


Tapi sayangnya saat Hendra keluar dari pintu utama, dia sudah melihat Tasya melaju dengan motornya.


Hendra kembali tersenyum misterius. "Sesensitif itukah dia mendengar nama Fathur? Bagus. Sekarang waktunya aku menjalankan misi berikutnya."