
Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu ya.
...----------------...
Radit dan Tania sedang fokus dengan film bergenre komedi yang mereka tonton. Gelak tawa mereka berdua beserta seluruh penonton yang ada dalam gedung bioskop itu kerap kali terdengar. Seringkali ada adegan yang mengocok perut, membuat penontonnya tertawa sampai air matanya keluar. Radit sangat bahagia melihat Tania yang bisa tertawa lepas disampingnya.
Pelan-pelan Radit menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Tania. Tapi begitu tangannya semakin dekat, adegan lucu difilm itu kembali terjadi, Tania mengangkat tangannya saat tertawa untuk menutupi mulutnya yang terbuka.
Radit punya ide, ia meletakkan tangannya ditempat Tania sering meletakkan tangannya tadi. Radit menengadahkan tangan kirinya disitu. Tania meletakkan tangannya kembali di pinggir kursi. Ia terkejut saat ia merasakan tangannya menyentuh sesuatu. Ia segera mengarahkan pandangannya ke arah dimana tangannya berada. Betapa kaget dan malunya Tania saat mengetahui dirinya menyentuh tangan Radit dengan tidak sengaja.
Radit segera menggenggam tangan Tania sebelum Tania menarik tangannya. Tania melirik ke arah Radit, Radit tersenyum padanya. Mereka berpandangan beberapa saat. Tania merasakan jantungnya berdebar, tapi ia tidak tahu perasaan apa itu. Tania segera menarik tangannya saat ia sadar bahwa dirinya lah yang telah menyentuh tangan Radit duluan. Ia meletakkan tangannya diatas pahanya.
Tidak terasa filmnya sudah selesai, Radit dan Tania keluar meninggalkan bioskop sambil berjalan berdampingan. Tania berjalan sambil membuang pandangannya ke samping. Ia merasa malu dan canggung pada Radit karena kejadian tadi. Radit hanya tersenyum melihat Tania. Ia merasakan ada perubahan sikap pada gadis itu.
"Pasti Nia malu padaku karena kejadian tadi. Padahal aku sendiri yang sengaja menaruh tanganku disitu. Ck." batin Radit senang.
Radit kembali menggenggam tangan Tania. Tania diam mematung melihat tangannya sudah ada digenggaman Radit. Ia lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Radit. Radit tersenyum manis padanya.
"Sial. Kenapa dia bisa jadi ganteng begini sih? Ini lagi, kenapa senyumnya manis banget. Kok aku baru sadar yah." batin Tania. Ia merasakan jantungnya kembali berdegup kencang seperti tadi.
"Ayo jalan Nia. Kenapa melamun?" kata Radit menyadarkan Tania dari lamunannya.
"Eh, ayo!" balas Tania.
Mereka pun berjalan sambil berpegangan tangan, seperti orang yang hendak menyeberang. Mereka tidak tahu kalau ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dari belakang.
"Sayang. Coba lihat deh dua sejoli di depan kita itu." ujar Tasya sambil menunjuk ke arah Radit dan Tania yang berjalan tidak jauh di depan mereka.
"Yang mana sayang?" tanya Hendra.
"Itu tuh tuh. Yang cowok pakai kemeja hitam terus yang cewek pakai baju hitam jilbab coklat." jelas Tasya sambil menunjuk dua orang yang dia maksud.
"Oh yang itu." ucap Hendra sambil menunjuk ke arah Radit dan Tania yang berjalan sambil berpegangan tangan.
"Iya sayang yang itu." balas Tasya.
"Loh kok mirip sama Radit sama Tania yah?" ujar Hendra bingung.
"Aku juga merasa seperti itu sayang. Bagaimana kalau kita samperin aja. Siapa tahu, itu benar-benar mereka." usul Tasya. Mereka pun berjalan cepat ke arah Radit dan Tania. Setelah jarak mereka kurang lebih tiga meter. Hendra dan Tasya pun berteriak memanggil orang di depannya.
"Tania." panggil Tasya.
Radit dan Tania menoleh. Tania sangat kaget saat ia sadar yang memanggil mereka itu kakak dan kakak iparnya. Ia segera menarik paksa tangannya dari gengaman Radit.

"Kak Tasya. Kak Hendra." ucap Tania lirih. Ia merasa takut kalau Tasya akan memarahinya karena ketahuan pacaran dengan Radit.
"Eh, Kak Hendra. Kak Tasya. Kalian juga ada disini rupanya!" seru Radit. Ekspresinya sangat berbanding terbalik dengan Tania. Ia tersenyum tanpa beban sedikitpun.
Hendra tidak terkejut melihat Radit bersama dengan Tania. Sebelumnya ia memang sudah curiga dengan kedua anak itu. Ia pun segera mengajak Tasya, Tania dan Radit untuk mampir disalah satu cafe di mall itu. Ia ingin mengajak Radit dan Tania mengobrol. Hendra ingin mengorek informasi tentang hubungan adik sepupu dan adik iparnya itu. Setelah memesan minuman untuk mereka berempat, Hendra mulai membuka pembicaraan.
"Kalian datang kesini berdua?" tanya Hendra mulai menginterogasi keduanya.
"I iya kak." jawab Tania gugup.
"Iya kak. Kami datang kesini buat nonton." jawab Radit santai.
Tania melirik ke arah Tasya, Ia lalu menunduk saat Tasya menatapnya terus-menerus.
"Kalau sampai ketahuan, pasti Kak Tasya nanti akan marah padaku. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyembunyikan statusku dengan Radit." batin Tania.
"Begini, langsung to the point saja. Aku ingin bertanya sesuatu pada kalian berdua." ujar Hendra pada Radit dan Tania yang duduk berdampingan diseberang meja.
Tasya menatap Hendra, ia juga bingung dengan pernyataan suaminya. Radit dan Tania saling menatap. Tania seperti menangkap maksud pertanyaan kakak iparnya. Tania sedikit menggelengkan kepalanya pada Radit.
"Please Dit, jangan katakan apa-apa pada Kak Hendra dan Kak Tasya tentang hubungan kita. Aku mohon, tolong sembunyikan dari mereka." batin Tania memohon pada Radit lewat sorot matanya.
Radit membalas Tania dengan tersenyum. Ia menggenggam tangan Tania erat dibawah meja tanpa sepengetahuan dua orang diseberang mejanya. Seolah-olah ia mengerti kekhawatiran Tania.
"Tenang aja sayang. Aku pasti bisa mengatasi semuanya." batin Radit.
"Sebenarnya ada hubungan apa diantara kalian berdua? Apa kalian pacaran?" tanya Hendra ingin memastikan kecurigaannya.
"Nggak ..." jawab Tania cepat.
"Iya kak. Kami memang pacaran." jawab Radit mantap.
Mendengar pengakuan Radit, Tania makin menundukkan pandangannya. Ia merasa takut bercampur kesal pada Radit. Ia ingin menyembunyikan hubungan mereka, tapi Radit malah mengakuinya didepan kakak dan kakak iparnya.
"Radit ... kenapa kamu melakukan semua ini padaku? Apa kamu lupa kenapa aku mau menjadi pacarmu, hah?" batin Tania kesal sambil memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.