
Radit menepikan mobil di pinggir Jalan Tani sesuai arahan Hendra. Terlihat Pak Udin sedang berjalan menyusuri pematang sawah sambil membawa sebuah kardus berukuran sedang ditangannya berjalan menuju ke arah mobil yang mereka tumpangi.
"Makasih yah Pak!" ucap Hendra saat menerima kardus itu dari Pak Udin.
"Iya, Nak Hendra sama-sama." balas Pak Udin.
"Mari Pak!" ajak Hendra.
"Iya Nak, kenapa tidak mampir dulu?" tanya Pak Udin.
"Lain kali aja Pak, saya pasti akan ke tempat Bapak nanti. Rencananya, mungkin hari minggu nanti saya akan mengajak keluarga saya ke tempat bapak." jawab Hendra.
"Wah, bagus itu Nak Hendra. Pasti akan lebih seru dan menyenangkan kalau ramai." ujar Pak Udin sembari tersenyum senang.
"Pak! Main ke rumah, yah sama Bu Sarina," teriak Tasya dari dalam mobil.
"Iya Nak, in sha Allah, kalau ada waktu." jawab Pak Udin.
Mobil yang mereka tumpangi pun kembali melaju menyusuri Jalan Tani menuju jalan raya. Sekarang mereka meluncur mencari martabak durian yang katanya ada di belakang Pasar Mini. Waktu tempuh yang dibutuhkan kesana kira-kira 1 setengah jam menggunakan mobil.
"Kardus itu isinya apaan Kak?" tanya Radit.
"Mangga muda." jawab Hendra.
"Isinya mangga muda semua?" tanya Radit lagi.
"Mungkin. Tunggu aku cek dulu apa saja isinya," jawab Hendra.
Hendra pun membuka lakban kardus tersebut. Ternyata isinya mangga muda, kedondong, dan jambu air. Sepertinya Pak Udin dan Bu Sarina sengaja memberikan buah-buahan yang rasanya kecut-kecut. Membayangkannya saja membuat air liur Author meleleh. Eh🙊
"Wah, isinya banyak banget. Alhamdulillah, rejeki anak sholeh dan sholeha," ujar Hendra sembari tertawa senang.
"Apa saja isinya sayang? Sini aku juga ingin lihat!" tanya Tasya yang penasaran dengan isi kardus tersebut.
"Isinya mangga muda, kedondong, sama jambu air." jawab Hendra.
"Bagi dong Kak." kata Tania sembari menoleh kebelakang.
Radit mencuri-curi pandang ke arah Tania yang sudah menampakkan wajahnya. Karena dari tadi Tania selalu memunggungi Radit.
"Cantik, tapi sayang, ambekan. Hehe." batin Radit sembari mengulas senyum tipis dibibirnya.
"Jambu airnya satu Kak," ucap Tania sembari menengadahkan sebelah tangannya ke arah Hendra dan Tasya.
"Kakak nggak tau ini udah dicuci apa belum Dek. Kamu mau?" tanya Tasya pada Tania.
"Entar aja deh Kak. Eh, gimana kalo nanti kita bikin rujak setelah sampai dirumah?" usul Tania.
"Setuju." ujar Tasya
"Iya, aku suka banget makan rujak." ujar Radit sambil tersenyum lebar ke arah Tania.
Tania tidak menggubris ucapan Radit. Ia pura-pura tidak dengar dan tidak peduli pada Radit.
"Tidak, aku tidak mau makan rujak sayang. Kalian saja yang makan," ujar Hendra.
"Terus kamu mau makan apa sayang? Kan kamu yang minta mangga muda sama Pak Udin. Kita-kita ini cuma ikut-ikutan." kata Tasya.
"Iya sayang, memang aku yang mau makan mangga muda. Tapi aku maunya makan mangga sama masako, bukan rujak." jelas Hendra.
Tasya terkekeh mendengar keinginan suaminya. Ia merasa lucu mengingat kejadian bagaimana Hendra bisa membawanya ke tempat Pak Udin 1 tahun yang lalu. Disanalah pertama kali ia membuat Hendra mencoba makanan itu.
"Eh, malah ketawa lagi. Apanya yang lucu sayang? Bukannya kamu dulu yang mengajariku makan mangga muda pakai masako campur cabe waktu itu di tempatnya Pak Udin." protes Hendra.
"Iya, sayang iya. Aku ingat kok." balas Tasya sambil masih tertawa.
Tasya tidak bisa berhenti tertawa jika mengingat bagaimana Hendra memaksa dan mengancamnya menggunakan ancaman tidak masuk akal agar ia mau ikut jalan bersama dengan suaminya itu.
***
Pasar Mini terkenal sebagai tempat berburu jajanan kuliner. Disana tersedia beraneka ragam jenis makanan, ada ratusan jenis makanan yang tersedia. Setiap orang bisa mencari makanan apa saja yang mereka sukai disana.
Setelah beberapa menit mengelilingi lokasi Pasar Mini, akhirnya mereka pun menemukan penjual martabak yang menjual martabak durian. Banyak sekali penjual martabak disana, tapi yang menjual martabak durian hanya satu orang saja.
"Yah ampun, antriannya panjang banget." ucap Tasya.
"Dilihat dari antriannya, aku bisa tebak pasti martabaknya enak." kata Hendra.
"Iya sayang, aku juga berpikir seperti itu." lanjut Tasya.
"Ayo turun, jangan sampai kita kehabisan! Karena aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan apa yang aku mau." ajak Hendra.
Hendra dan Tasya pun kemudian turun dari mobil. Kini tinggallah hanya Radit dan Tania berdua didalam mobil itu.
Beberapa saat setelah pasangan suami istri itu turun, Tania pun berniat untuk ikut turun juga. Ia merasa tidak nyaman berduaan dengan Radit didalam mobil. Apalagi ia masih marah pada Radit. Ia pun mencoba untuk membuka pintu mobilnya. Tapi sayang, Radit sudah terlanjur mengunci pintu dan kaca mobil tersebut. Tania merasa semakin kesal dan geram pada Radit.
Tania sudah cukup mengenal sifat Radit. Daripada mengemis-ngemis minta dibukakan pintu, Tania malah memilih untuk duduk diam menyamping dan membelakangi Radit. Ia tidak mau berbicara sepatah katapun pada pemuda yang dia anggap sebagai mantan kekasihnya itu.
Radit sengaja mengunci pintu dan kaca mobil saat Tasya dan Hendra sudah keluar. Hal itu memang sudah ia rencanakan sebelumnya dengan Hendra. Keadaan semakin mendukung saat mereka melihat antrian panjang di tempat yang ingin mereka tempati untuk membeli martabak.
Seandainya tempat yang mereka singgahi tidak ramai dengan antrian, Hendra akan tetap mengajak istrinya untuk keliling mencari beberapa jenis makanan dengan alasan ia ngidam dan ingin makan makanan tersebut. Itu agar Radit dan Tania memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan masalah mereka.
Singkat cerita, Radit pun mulai melancarkan rencananya yang ia susun dengan Hendra sejak beberapa hari yang lalu. Pertama-tama ia akan mencoba membujuk Tania untuk memaafkannya. Kalau tidak berhasil, ia terpaksa akan menggunakan cara kedua.
"Nia!" panggil Radit.
Tapi Tania tidak menggubris panggilan Radit.
"Tania, aku minta maaf. Aku tau aku salah. Tapi, aku mohon kamu mau maafin aku, yah."
Tania tetap diam mematung tanpa suara dan tanpa gerakan sedikitpun. Ia masih bertahan pada posisinya dan melihat ke arah luar.
"Nia, sampai kapan kamu mau marah seperti ini sama aku?"