How To Love You

How To Love You
Bab 223



"Kamu bilang apa barusan?" tanya Miko. Bukan karena ia tidak mendengar ucapan Tantri barusan. Tapi ia ingin memastikan apakah Tantri masih berani mengulang ucapannya itu kembali.


"Nggak ada siaran ulang," jawab Tantri sambil membuang muka.


Semakin berani ya rupanya. Batin miko.


"Tri, lihat aku! Coba jelaskan kenapa kamu masih marah sama aku?" tanya Miko lagi.


Tantri terdiam. Tidak mungkin kan dia menjawab kalau dia marah karena Miko pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Bisa GR nanti. Pikirnya.


"Ayo jelaskan agar aku bisa minta maaf ataupun memperbaiki kesalahanku nanti," ujar miko.


Tantri yang tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa lebih memilih untuk meninggalkan Miko yang duduk di pinggir tempat tidurnya. Saat Tantri sedang buru-buru untuk turun dari tempat tidur, Miko menarik tangannya dan tanpa sengaja tubuh Tantri menimpa tubuh kekar Miko.


Bruk. Pandangan mereka bertemu. Keduanya sama-sama terpesona dengan keelokan wajah masing-masing.


Kak Miko kalau dilihat dari dekat ganteng banget. Tapi sayang kok makin kesini makin nyebelin. Beda banget sama dulu sebelum aku ikut dia ke sini. Sekarang kak Miko udah berubah 180°. Dulu aku nyaman banget kalo ada didekat dia. Tapi sekarang kok bawaannya keluar tanduk mulu. Batin tantri.


Aku harus memberikan pelajaran pada bibir lemesmu ini. Batin Miko sambil menelan salivanya. Ingin sekali rasanya ia menempelkan bibirnya pada bibir mungil yang jaraknya hanya beberapa senti di atas wajahnya. Pelan-pelan Miko mulai mengangkat sedikit kepalanya dan ingin semakin mendekatkan bibirnya pada bibir gadis pujaannya. Tiba-tiba, mata keduanya membulat mendengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok.


Dengan cepat Miko mendorong tubuh Tantri yang saat itu sedang menindih tubuhnya hingga terjatuh dan terbaring di sampingnya.


Ceklek. Suara pintu terbuka. Sesosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik meski usianya sudah menginjak kepala 5 muncul dari balik pintu.


"Tantri!" panggil Bu Melda.


"I-iya, Ma," jawab Tantri gugup. Ia pun segera bangun dan berdiri tegak di samping tempat tidurnya.


Semenjak perjodohan mereka disetujui oleh kedua belah pihak keluarga, Bu Melda meminta Tantri untuk memanggilnya dengan sebutan mama dan panggilan papa untuk Pak Afdal, papanya Miko.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Bu Melda saat melihat wajah Tantri yang terlihat sedikit pucat. Wanita paruh baya itu pun segera menghampiri calon menantunya.


"Enggak apa-apa kok, Ma," jawab Tantri.


"Kamu bilang tidak apa-apa. Tapi kok wajah kamu pucat begitu," ujar Bu Melda sambil berjalan menghampiri Tantri.


"Tantri beneran nggak apa-apa, Ma. Mungkin karena Tantri baru aja bangun tidur jadinya terlihat sedikit pucat," kata Tantri beralasan mencoba meyakinkan Bu Melda kalau dirinya memang sedang baik-baik saja agar Bu Melda tidak curiga padanya.


"Kamu yakin, sayang?" tanya Bu Melda.


"Iya, Ma. Tantri beneran nggak papa kok," jawab Tantri.


"Ada apa, Ma?"


"Begini, sayang. Mama mau mengajak kamu ke butik teman Mama. Kamu bisa, kan menemani Mama kesana?" tanya Bu Melda.


"Bisa-bisa. Bisa kok, Ma," jawab Tantri cepat. Ia buru-buru menyetujui ajakan Bu Melda karena ia ingin Bu Melda cepat keluar dari kamarnya.


"Bagus. Kalau begitu Mama tunggu kamu di bawah. Jam 5 sore nanti kita berangkat," ujar Bu Melda.


"Iya, Ma. Kalau gitu, Tantri mau mandi dulu yah, Ma."


"Iya, sayang. Mama juga mau kembali ke kamar untuk bersiap-siap."


Tantri merasa sangat lega karena Bu Melda cepat keluar dari kamarnya. Sebelum menyuruh Miko untuk keluar dari tempat persembunyiannya, terlebih dahulu Tantri mengunci pintu kamarnya.


"Kak Miko!" panggil Tantri.


"Hem," jawab Miko sambil bergumam.


"Ayo cepat keluar, Kak. Mama sudah pergi!" seru Tantri. Miko pun merangkak keluar dari kolong tempat tidur. Tanpa sengaja kepalanya terbentur sisi bawah ranjang.


"Auwh."


"Kak Miko kenapa?"


"Kepalaku kejedot tempat tidur."


"Aduh, kasian sekali. Ayo cepetan keluar, Kak! Kalau mama balik lagi gimana?" ujar Tantri sedikit was-was.


"Iya-iya ini juga lagi usaha kok," jawab Miko sambil terus merangkak keluar.


Setelah Miko berhasil keluar dari tempat persembunyiannya. Ia pun segera berlari menuju pintu. Ia ingin secepatnya kembali ke kamarnya. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya saat akan memutar knop pintu.


"Tri! Kamu masih punya hutang penjelasan padaku. Aku ingin dengar penjelasan kamu nanti," ucap Miko lalu dengan cepat keluar dari kamar Tantri.


"Dasar bos nyebelin!" umpat Tantri sambil mendengus kesal. Ia tahu betul kalau Miko nanti pasti akan menginterogasinya seperti tersangka kejahatan.


"Daripada mikirin kak Miko yang super nyebelin itu. Mending aku mandi sekarang. Jangan sampai mama Melda kelamaan menungguku dibawah sana nanti." Tantri pun segera mengambil handuk dan pakaian gantinya lalu masuk kedalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Tantri sudah selesai bersiap-siap. Ia mengecek jam di ponselnya. Masih ada waktu sekitar 20 menit lagi sebelum jam 5 sore. Ia pun memilih untuk duduk di tempat tidur sambil memainkan ponsel barunya dan berselfie ria menggunakan ponsel tersebut.


Tok tok tok.