
Miko bukan laki-laki pertama yang pernah menyatakan cinta pada Tantri. Sebelumnya, ada beberapa kakak kelas maupun teman sekelas yang pernah menyatakan cinta padanya secara langsung tapi ia menolak. Saat mereka menyatakan cinta pada Tantri, gadis itu merasa sangat kesal dan sangat tidak suka dengan hal tersebut. Apalagi pada mereka yang terkesan memaksa ingin pernyataan cintanya diterima. Entah mengapa ia merasa berbanding terbalik saat pernyataan itu keluar dari bibir laki-laki dewasa di sampingnya.
"Tapi kok, Kak Miko nggak pernah ngomong ke aku?" tanya Tantri penasaran.
"Karena aku takut kamu menjauh kalau ternyata kamu tidak menyukaiku," jawab Miko jujur.
"Kenapa, Kak Miko bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Tantri. Miko berbalik dan menatap wajah gadis itu.
"Apa kamu sangat berharap aku menyatakannya dari dulu?" tanya Miko sembari tersenyum dan menyelidik.
"Eh, ng-nggak kok, Kak. Aku nggak bermaksud begitu," jawab Tantri terbata. Entah mengapa ia merasa terpojok dengan pertanyaan tersebut.
"Kak Miko! Aku masuk dulu, yah. Aku udah ngantuk," imbuh Tantri lalu dengan cepat berlari masuk kedalam kamarnya. Tidak lupa pula ia mengunci pintu. Miko hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah polos gadis pujaannya.
"Astaga! Aku tadi ngomong apa sih? Kenapa aku bisa bertanya seperti itu sama kak Miko. Nggak tau malu banget," ujar Tantri berbicara sendiri sambil menutupi matanya dengan sebelah tangannya. Ia merasa sangat malu.
"Dasar bod*h," ucap Tantri memaki dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk jidatnya.
Tantri beranjak masuk kedalam kamar mandi. Karena ingin mencuci muka, ia pun membuka hijab instan yang ia kenakan sehari-hari selama ia berada dirumah. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin kemudian menatap pantulan dirinya di cermin wastafel. Matanya salah fokus pada benda berkilau yang melingkar indah di leher jenjangnya. Sebuah kalung, hadiah ulang tahun dari Miko.
Tantri mengingat kembali saat-saat itu. Ia mengingat bagaimana Miko melingkarkan kalung itu di lehernya. Dan sampai sekarang tidak pernah ia lepas sekalipun. Ia terus memakainya sesuai permintaan laki-laki itu.
Kok aku baru sadar, yah. Apa jangan-jangan, kak Miko memang udah naksir sama aku waktu itu? Batin Tantri tersenyum sambil terus menatap kalung berbentuk hati tersebut.
Setelah cukup lama berdiri didepan cermin, Tantri pun lalu berjalan keluar menuju tempat tidurnya. Berharap kali ini matanya akan lebih mudah untuk terpejam.
Setelah hampir seperempat jam Tantri membaringkan tubuhnya, namun rasa kantuk masih belum kunjung juga menghampiri. Ia pun memilih untuk memainkan ponselnya. Namun kali ini ia memainkan ponsel lamanya. Ia takut membuka ponsel yang tadi siang dibelikan oleh Miko. Ia semakin takut tidak bisa tidur saat memandang foto Miko.
Tantri membuka aplikasi WhatsApp di ponsel lamanya. Ia ingin mengecek grup chat teman sekelasnya. Biasanya tengah malam begini masih saja ada teman-teman mereka yang rusuh di jam segini. Karena sering merasa terganggu dengan notifikasi-notifikasi pesan yang masuk di grup tersebut, gadis itu pun sengaja membisukan notifikasi pesan grupnya selama 1 tahun.
Tantri terkikik membaca pesan-pesan singkat yang dikirim oleh teman-temannya di grup tersebut. Ada juga yang mengirim video lucu. Tiba-tiba tangannya terasa sangat gatal untuk tidak ikut nimbrung. Meskipun ia hanya mengirim 3 buah emoticon "πππ" untuk menanggapi video lucu yang dikirim oleh salah satu teman sekelasnya.
Tidak lama setelah ia mengirim pesan tersebut, tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya. Pesan itu ternyata dari sahabat dekatnya.
π© Anton : P
π© Tantri : Hai, Tonπ
π© Anton : Tumben jam segini kamu belum tidurπ€
π© Tantri : Belum ngantukπ
π© Anton : Kamu masih di Kota SKG kan?
π© Tantri : Iya emangnya kenapa?
π© Anton : Aku juga lagi di Kota SKG nihπ
π© Tantri : Kok bisa? Bukannya kamu lagi PKL di Bank BLI cabang Kota ABC?
π© Miko : Katanya tadi mengantuk. Kenapa sekarang belum tidur?
π© Miko : Ayo cepat tidur! Sekarang sudah larut
π© Tantri : Bentar Kak. Rasa kantukku yang tadi tiba-tiba menghilang
π© Miko : Sudah, cepat tidur sekarang! Bagaimana kamu bisa tidur kalau kamu main hp terus?
π© Tantri : Iya iya pak bos
Setelah membalas pesan Miko, Tantri pun kembali membaca pesan dari Anton. Ia belum mengindahkan perintah Miko yang menyuruhnya untuk tidur saat itu juga.
π© Anton : Iya itu 2 bulan yang lalu. 1 Bulan sebelum sertifikat aku keluar dari sana, aku sudah mengajukan permohonan magang di perusahaan tempat omku bekerja. Kebetulan omku kepala dibagian divisi keuangan. Jadi, aku bisa dengan mudah diterima masuk disana.
π© Tantri : Syukur alhamdulillah. Aku turut seneng Tonπ
π© Anton : Makasih. Oya, katanya kamu magang di resto kan? Di resto mana? Aku boleh minta alamatnya gak?π
π© Tantri : Boleh banget lah. Nama restonya M&A Restaurant. Alamatnya Jl. Kebagusan No. Xx
π© Anton : Eh, kalo nggak salah tadi siang aku lewat didepan resto itu loh. Tempatnya nggak jauh dari tempat praktek aku
π© Tantri : Oh yah. Sekali-kali kamu mampir dong Ton ke tempat aku
π© Anton : Siap bosπ Besok yah
π© Tantri : Jangan besok. 3 Hari ke depan aku di suruh libur sama bos
π© Anton : Kenapa? Kamu sakit?
π© Tantri : Nggak juga sih. Tapi itu perintah dari atasan. Nggak boleh dibantah
π© Anton : Oh. Enak banget ya kamu dapat jatah libur lama dari atasan kamu
π© Tantri : Hehe begitulah Tonπ
2 Buah pesan baru dari Miko kembali masuk ke nomor Tantri.
π© Miko : Kalau kamu belum berhenti online juga, aku akan ke kamar kamu
π© Miko : Aku mau kelonin kamu supaya kamu cepat tidur
"Gawat! Kalo kak Miko datang beneran gimana? Memangnya aku bayi apa pake mau dikelonin segala," ucap Tantri lalu buru-buru menyudahi chatingannya dengan Anton.
π© Tantri : Eh udah dulu yah Ton. Sampai ketemu hari kamis. Bye.
Setelah mengirim pesan tersebut Tantri segera menonaktifkan sambungan Wi-Fi di ponselnya. Ia memaksakan diri untuk tertidur karena takut Miko benar-benar datang ke kamarnya. Entah kenapa kali ini Tantri lebih mudah untuk terlelap. Entah karena memang sudah mengantuk atau mungkin karena takut ancaman.