
"Bu-bukan begitu, Tante." ucap Tantri terbata. Ia merasa serba salah. Ia takut salah bicara dan membuat Bu Melda tersinggung karena ucapannya.
"Lalu ...." tanya Bu Melda pelan.
Aduh aku harus bilang apa? Aku takut salah ngomong. Batin Tantri.
"Mm ... Tante! Tantri kan masih kecil, dan ...." Tantri menghentikan ucapannya.
"Dan apa?" tanya Bu Melda penasaran. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar lanjutannya.
"Dan ... mana mungkin kak Miko suka sama Tantri," jawab Tantri seraya menunduk. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia katakan. Tapi kenapa mulutnya mengeluarkan kata-kata itu.
Aduh, tadi aku mau bilang kalau aku belum siap menjalin hubungan. Kenapa mulutku bisa berkata seperti ini sih? Batin Tantri sambil menggigit sedikit bibir bawahnya. Ia juga bingung kenapa pikiran dan ucapannya tidak sinkron.
"Oh, jadi itu yang kamu khawatirkan?" tanya Bu Melda seraya tersenyum.
Tuh kan, jangan sampai Tante Melda salah paham. Batinnya lagi.
"I-iya, Tante." Tantri langsung saja mengiyakan ucapan Bu Melda karena ia tidak tahu harus berkata apa.
"Sayang, kamu salah. Asal kamu tau, anak Tante itu sayang sama kamu. Miko cinta sama kamu, sayang," jelas Bu Melda. Tantri begitu terkejut. Ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Ap-apa, Tante? Apa Tantri nggak salah dengar?" tanya Tantri tidak percaya.
"Iya, kamu tidak salah dengar. Miko cinta dan sayang sama kamu. Dia juga terlihat sangat bahagia saat kalian bersama. Maka dari itu, Tante sama papanya Miko memilih kamu jadi calon menantu kami. Karena kami yakin kalau kamu mampu membahagiakan Miko anak kami," jelas Bu Melda lagi.
Tidak bisa Tantri pungkiri, ia merasa senang mendengar penjelasan bu Melda bahwa Miko menyukainya. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa sesenang itu saat mengetahui hal tersebut. Padahal ia hanya menganggap Miko seperti kakaknya sendiri. Perasaan yang aneh. Pikirnya.
"Darimana, Tante tau kalau kak Miko suka sama Tantri?" tanya Tantri penasaran. Ia ingin memastikan kalau wanita paruh baya dihadapannya itu sedang tidak mengada-ngada mengenai hal tersebut.
"Miko sendiri yang mengatakannya langsung pada Tante," jawab Bu Melda.
"Tante serius?"
"Tapi kenapa kak Miko nggak pernah ngomong langsung sama Tantri?" tanya Tantri.
"Sayang, cinta itu tidak selamanya harus diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang ada tipe laki-laki yang tidak suka mengungkapkan cintanya dengan kata-kata. Namun ia hanya menunjukkannya dengan tindakan. Nah, Tante pikir Miko itu tipe pria yang tidak suka mengungkapkan cintanya dengan kata-kata, melainkan mengungkapkannya dengan tindakan. Atau mungkin dia tidak mengatakannya karena dia takut di tolak," jelas Bu Melda.
Apa mungkin karena itu? Bagaimana bisa kak Miko mengambil kesimpulan seperti itu sementara dia sendiri nggak pernah ngomong langsung ke aku. Batin Tantri.
"Tantri! Sekali lagi, Tante ingin bertanya sama kamu. Kamu mau, kan mendampingi anak Tante setelah kamu dewasa nanti?" tanya Bu Melda penuh harap. Ia berharap gadis didepannya itu mau mengiyakan pertanyaannya.
Aduh, aku harus menjawab apa? Kalau aku menolak, aku nggak enak sama tante Melda, sama kak Miko dan sama om Afdal juga. Mereka semua sudah baik banget sama aku. Tapi, aku juga malu bilang iya. Aduh, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan?
"Maaf, Tante. Tantri nggak bisa mengambil kesimpulan sendiri. Ini mengenai masa depan Tantri. Jadi, Tantri pikir sebaiknya hal ini dibicarakan dulu dengan kedua orang tua Tantri. Tantri akan menurut apapun keputusan mereka," jelas Tantri.
"Baiklah. Kamu benar, sayang. Sebaiknya hal ini kami bicarakan dengan orang tuamu dulu. Karena ini bukan hal yang main-main. Ini mengenai masa depan kalian berdua," ujar Bu Melda mengerti dengan maksud ucapan Tantri.
****************
Sementara itu, Miko yang ada dikamarnya sedang mondar-mandir kesana kemari tanpa ada tujuan yang jelas. Ia sudah bisa menebak kalau mamanya pasti ingin membicarakan perjodohannya dengan pujaan hatinya.
"Apa sebaiknya aku menghampiri mereka? Aku sangat penasaran Tantri akan menerimaku atau tidak," gumam Miko berbicara sendiri.
"Semoga saja mama tidak memaksakan kehendaknya. Semoga mama tidak memaksa Tantri untuk menerima perjodohan ini. Aku tidak mau dia menjauh dariku,"
Miko pun kemudian melangkah menghampiri pintu kamar Tantri. Saat ia ingin memutar knop pintu, tiba-tiba pintunya terbuka dan muncullah sosok mamanya dari balik pintu tersebut.
Miko begitu terkejut. Ia segera membalikkan badannya hendak masuk kembali ke kamarnya. Ia merasa malu-malu karena ketahuan oleh mamanya.
"Miko!" panggil Bu Melda pada putranya.
"I-iya, Ma." sahut Miko tanpa berbalik.
"Ikut Mama ke kamar! Mama mau bicara sesuatu sama kamu," jelas Bu Melda lalu beranjak menuju kamarnya. Miko pun segera memutar badannya, lalu menyusul langkah Bu Melda.