
Keesokan Harinya
Pagi itu Miko sengaja bangun lebih pagi dari biasanya. Ia ingin memulai melakukan pendekatan dengan gadis yang berhasil membuat hatinya berdebar hebat itu. Ia mememulai aksinya dengan cara mengantar jemput Tantri ke sekolah.
Awalnya Tantri menolak untuk diantar oleh Miko, karena ia sudah terbiasa berangkat ke sekolah menggunakan skuter matic kesayangannya. Tapi, karena Miko terus-terusan saja memaksanya, Tantri pun akhirnya memilih untuk mengalah.
Sebelum mereka berangkat ke sekolah, terlebih dahulu Miko mengantar Tantri pulang ke rumahnya untuk mengganti bajunya dengan seragam sekolah.
Setelah Tantri siap dengan serangam dan tas sekolahnya, Miko pun segera melajukan mobilnya menuju sekolah Tantri. Selama di perjalanan mereka cukup mengobrol banyak. Sepertinya mereka tidak kekurangan bahan untuk dijadikan topik pembicaraan.
Sisa jarak 300 meter lagi mereka sampai ditempat tujuan. Miko mulai memelankan laju mobil yang dikendarainya. Rasanya ia tidak rela waktu yang ia lalui bersama gadis itu berlalu begitu cepat.
"Yang di depan itu sekolah kamu?" tanya Miko.
"Iya Kak, yang itu." jawab Tantri seraya menunjuk pintu gerbang sekolahnya yang sudah terlihat jelas meskipun dari jauh.
"Oh iya, ngomong-ngomong, apa disekolahmu juga libur dihari sabtu dan minggu?" tanya Miko.
"Iya Kak. Emangnya kenapa?" jawab Tantri balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin tahu apakah sekolah-sekolah disini juga sama seperti di kotaku." jawab Miko beralasan.
Sebenarnya Miko ingin sekali mengajak Tantri jalan-jalan setiap hari libur. Tapi ia bingung bagaimana cara mengatakannya pada gadis itu. Untunglah hari minggu nanti tepat hari ulang tahun Tantri, jadi ia tidak perlu lagi repot-repot merangkai kata untuk mengajak gadis itu keluar jalan-jalan karena mereka memang sudah pernah janjian sebelumnya.
"Oh." ucap Tantri seraya membulatkan bibirnya.
"Kamu masuk kelas jam berapa nanti?" tanya Miko lagi.
"Jam setengah 8." jawab Tantri.
Miko melirik jam tangannya. Jam masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Miko menghentikan laju mobilnya tepat di depan pintu gerbang sekolah. Ia kemudian turun lalu berlari kecil mengitari mobil hendak membukakan pintu mobil untuk Tantri. Setelah pintunya terbuka, Tantri kemudian turun sambil membawa ransel di punggungnya.
"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Miko.
"Jam 3 sore Kak." jawab Tantri.
"Nanti sore aku jemput yah," ujar Miko.
"Oke!" balas Tantri sambil tersenyum dan mengangguk, kemudian ia membulatkan jari jempol dan telunjuknya ke arah Miko.
"Kalau begitu, aku pulang dulu." pamit Miko.
"Iya, Kak Miko hati-hati yah!" pesan Tantri.
"Iya. Masuklah!" seru Miko.
Miko hendak beranjak mengitari mobil kembali. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat Tantri memanggilnya.
"Kak Miko! Ada yang kelupaan," kata Tantri.
"Apa?" tanya Miko sambil mengeryitkan keningnya. Perasaan ia tidak melupakan sesuatu apapun.
"Salim dulu," ucap Tantri seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Miko.
"Ya iyalah. Emangnya Kak Miko pikir aku mau apa lagi?" tanya Tantri.
"Aku pikir tadi kamu mau minta uang jajan," jawab Miko.
"Hahaha. Kak Miko bisa aja. Aku tadi udah dikasih uang jajan sama Kak Hendra." jelas Tantri.
Miko pun kemudian membalas uluran tangan Tantri. Ia tersenyum saat gadis itu mencium punggung tangannya.
"Rasanya seperti kakak adik, eh salah. Lebih tepatnya seperti suami ist.... Ah, ada-ada saja aku ini. Apa yang aku pikirkan?" batin Miko. Ia pun lalu berusaha untuk menepis pikiran yang absurd menurutnya.
"Yah udah, aku masuk dulu yah Kak. Kak Miko hati-hati di jalan!" pesan Tantri sembari tersenyum manis ke arah Miko.
Setelah Tantri melepas jabatan tangannya, Miko kemudian mengambil dompet disaku belakang celanannya.
"Ini, uang jajan buat kamu," ucap Miko sambil memberikan selembar uang seratus ribuan pada Tantri.
"Eh?"
"Kak Miko kok kelewat baik sih. Aku kan jadi nggak enak." batin Tantri.
Tantri bingung harus mengambilnya atau tidak. Meskipun anak itu memang sedikit matre, tapi ia juga merasa tidak enak kalau Miko juga memberinya uang jajan, mengingat Miko bukanlah siapa-siapanya. Lagi pula, Miko juga sudah berbaik hati mau mengantarnya ke sekolah meskipun sebenarnya dengan sedikit paksaan. Kenapa Miko memberinya uang jajan lagi? Padahal ia sudah mengatakan pada laki-laki itu kalau ia sudah diberi uang jajan oleh Hendra, pikirnya.
"Kenapa, masih kurang?" tanya Miko yang heran melihat Tantri hanya diam mematung dan tidak mengambil uang pemberiannya itu.
"Nggak kok, Kak. Karena rejeki nggak boleh ditolak, jadi terpaksa aku harus menerimanya. Makasih banyak yah Kak Miko." jawab Tantri sembari mengambil uang itu.
"Loh, kenapa harus terpaksa?" tanya Miko.
"Mm, sebenarnya aku nggak enak, Kak. Soalnya, Kak Miko udah baik banget sama aku." jelas Tantri pelan tidak mau Miko tersinggung.
"Kenapa begitu? Kamu tidak perlu sungkan padaku. Mulai sekarang kamu harus terbiasa," ujar Miko.
"Terbiasa? Maksudnya?" tanya Tantri. Jujur, ia bingung dan tidak mengerti makna dari kata terbiasa itu.
"Ah, sudahlah. Lupakan! Aku pulang dulu yah. Dah." jawab Miko mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya, Kak, dah. Hati-hati di jalan!" balas Tantri.
Setelah Miko melajukan mobilnya menyusuri jalan pulang, barulah Sherina datang bersama Aldo, pacarnya si Sherina serta si Anton teman sekelas mereka bertiga. Anton merupakan sahabat dekat Tantri, sama seperti Sherina dan juga Aldo.
Anton sudah lama menyukai Tantri, namun anak itu belum memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Ia takut pernyataan cintanya itu ditolak dan akan berakibat pada rusaknya hubungan persahabatan yang mereka jalin selama ini.
"Ppaang!" teriak ketiganya serentak mengagetkan Tantri.
"Aargh!" pekik Tantri.
"Ih, kalian nyebelin banget sih. Suka banget bikin orang jantungan." ucap Tantri sambil memegang dadanya yang berdegup cukup kencang karena dikagetkan oleh ketiga sahabatnya itu.
"Enak juga yah ternyata pacaran sama Om-Om. Berangkat ke sekolah diantar pake mobil bagus, terus dikasih uang jajan banyak pula. Kamu mau traktir kita kita nggak nih, Tri?" tanya Sherina sambil melirik Aldo bergantian dengan Anton.