How To Love You

How To Love You
Bab 130



"Eh, papa ngagetin aja." ujar Radit.


"Selamat pagi, Om!" sapa Tania pada Pak Rahmat.


"Pagi. Kamu pagi-pagi sekali datangnya, Tania." ujar Pak Rahmat.


"I iya, Om." jawab Tania sembari tersenyum dan mengangguk sopan.


"Eh, calon mantu mama udah dateng rupanya," ujar Bu Risna yang juga tiba-tiba muncul dengan keranjang belanjaan ditangannya.


"Mau ke pasar yah, Tante," ujar Tania.


"Iya, sayang." jawab Bu Risna.


"Oh iya, Dit. Kamu ajarin, Tania yah. Awas, jangan macam-macam!" seru Bu Risna memperingati anaknya.


"Iya, iya, Bu Bos." balas Radit.


"Yah sudah, kalau begitu, Tante sama Om berangkat dulu, yah." ujar Bu Risna pada Tania.


"Iya, Tante hati-hati." ucap Tania.


"Iya, sayang." balas Bu Risna.


"Ma, titip makanan kesukaan aku yah," ujar Radit.


"Iya, iya. Tanpa kamu bilang pun, Mama pasti beliin." kata Bu Risna pada Radit.


Bu Risna pun kemudian berangkat ke pasar diantar oleh Pak Rahmat. Tidak lama kemudian Dewi pun akhirnya datang.


"Eh, ada karyawan baru nih," ucap Dewi saat melihat Tania diajari tata cara mengoperasikan mesin fotocopy oleh Radit.


"Pagi calon kakak ipar!" seru Tania.


Dewi hanya tersenyum menanggapinya.


"Gimana, Nia? Kamu udah ngerti belum?" tanya Radit.


"Iya, Dit. Aku udah ngerti, ternyata gampang banget." jawab Tania.


"Eh, Tania! Tasya sama Kak Hendra berapa hari di Turki?" tanya Dewi.


"Rencananya sih 1 minggu, Kak. Tapi nggak tau nanti," jawab Tania.


"Loh kenapa emangnya?" tanya Dewi lagi.


"Kata, Kak Tasya sih, lidah Kak Hendra nggak cocok sama makanan disana."


"Masa sih, kok bisa?"


"Iya, Kak. Katanya, Kak Hendra sering muntahin makanannya." kata Tania.


"Emang makanan orang disana seaneh itu, yah?" tanya Dewi lagi.


"Nggak tau juga, Kak. Tapi kata, Kak Tasya makanannya enak kok. Kak Hendranya aja yang nggak suka," jawab Tania bingung.


"Selera orang kan beda-beda, Tania." ujar Dewi.


"Iya, Kak."


***


Kamar Hendra dan Tasya, Pukul 01:30 Dini Hari


"Sayang, sayang." panggil Tasya.


Beruntunglah karena Hendra adalah tipe orang yang sangat mudah untuk dibangunkan.


"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Hendra.


"Aku lapar," ucap Tasya dengan nada setengah merengek.


"Kamu lapar? Tumben kamu mau makan jam segini," ucap Hendra seraya bangun dan duduk.


Sebenarnya Hendra malas untuk bangun. Selain karena ia masih sangat mengantuk, ia juga merasa badannya lemas karena kerap kali ia memuntahkan makanan yang ia makan. Tapi ia memaksakan diri untuk bangun demi istri tercintanya.


"Aku lapar sekali, sayang. Aku tidak bisa tidur." jelas Tasya.


"Yah sudah, kamu mau makan apa, sayang?" tanya Hendra.


"Apa aja, sayang. Yang penting bisa bikin perut aku kenyang. Soalnya aku sudah tidak tahan lagi. Aku sudah kelaparan dari tadi." ujar Tasya.


"Yah sudah. Ayo!"


Setelah mengenakan pakaian tebalnya mereka pun berjalan keluar mencari makanan. Tidak jauh dari penginapan mereka, ada beberapa kedai yang masih buka. Mereka pun segera memasuki sebuah kedai yang pernah mereka kunjungi kemarin sore.


Hendra memesan makanan menggunakan Bahasa Inggris karena ia tidak bisa berbahasa Turki. Untunglah pemilik kedai itu mengerti Bahasa Inggris. Jadi ia bisa memesan makanan tanpa adanya kendala.


10 Menit kemudian makanan sudah diantarkan ke meja mereka. Hendra lalu memesan dua porsi lagi untuk mereka bungkus dan dibawa pulang ke kamar mereka. Ini untuk mengantisipasi kalau Tasya tiba-tiba lapar lagi. Jadi mereka tidak perlu lagi repot-repot untuk keluar mencari makan.


Setelah selesai membaca do'a, mereka pun segera menyantap makanannya. Makanan yang mereka makan saat ini merupakan satu-satunya makanan yang tidak dimuntahkan oleh Hendra setelah ia selesai memakannya. Dan Tasya juga terlihat sangat menyukai makanan itu.



(Roti Pide)


"Enak banget yah, sayang." kata Tasya lalu memasukkan potongan roti mirip pizza itu ke dalam mulutnya.


"Hem." gumam Hendra.


Setelah mereka menghabiskan makanannya, mereka pun kembali ke penginapan. Diperjalanan pulang, mereka berjalan sambil mengobrol.


"Sayang, aku tidak yakin bisa bertahan disini selama 1 minggu."


"Loh kenapa, sayang?" tanya Tasya.


"Aku kangen sama masakan kamu," jawab Hendra.


Tasya tertawa mendengar penuturan suaminya.


"Sayang, aku serius. Makanan orang-orang disini sangat tidak enak. Kecuali yang baru saja kita makan." jelas Hendra lagi.


"Masa sih, sayang? Tapi kalau menurut aku makanannya enak kok, apalagi kebabnya. Mantul banget!" ujar Tasya seraya mengacungkan jempolnya ke arah Tasya.


"Tidak, sayang. Aku tidak suka. Aroma daging kambingnya saja bikin aku mau muntah,"


"Kok kamu jadi aneh begini sih, sayang. Bukannya kamu suka makan gulai kambing?"


"Itu gulai, sayang. Kalau ini kan kebab. Aku tidak suka." jelas Hendra.


"Kok Kak Hendra jadi aneh begini sih. Biasanya juga dia makan apa aja, nggak pernah pilih-pilih makanan."  batin Tasya.


"Ah sudahlah, inikan di negara orang. Mungkin lidahnya memang nggak cocok dengan makanan orang-orang disini."  batin Tasya lagi.


Setelah mereka sampai di kamar, mereka pun lalu kembali melanjutkan tidurnya. Kali ini Tasya sudah bisa tertidur nyenyak karena perutnya sudah kenyang.