
"Yah jelas lah aku cemburu. Kamu itu kan pacar aku . Aku cinta dan sayang sama kamu. Yah wajarlah kalau aku cemburu." jelas Radit lagi.
"Emangnya aku itu kamu? Yang nggak cemburu meskipun aku diembat sama cewek lain." Gumam Radit mendengus kesal sambil membuang mukanya kesamping.
Tania tergelak mendengar gumaman Radit, ia bisa mengerti meskipun Radit sedang bergumam.
"Pake ketawa lagi." ucap Radit tambah kesal.
"Jangan ngambek gitu dong Dit. Ayo masuk! Nanti kita dicariin lagi." bujuk Tania.
"Kamu aja yang masuk. Soalnya kamu pasti udah ditungguin sama pemilik resto. Sana masuk, aku masih mau tetap disini." ucap Radit mengambek.
"Kok ngomongnya gitu sih Dit. Emangnya kamu punya bukti apa, kalo Kak Miko itu naksir sama aku? Nggak ada kan?" tanya Tania.
"Yah untuk saat ini, aku memang belum punya bukti. Tapi cepat atau lambat, kamu sendiri yang akan melihat buktinya dengan mata kepala kamu sendiri Nia." jelas Radit.
"Oke, oke. Udahan yah ngambeknya, ayo kita masuk. Kalo kita kelamaan disini bisa-bisa kita masuk angin. Disini dingin banget." bujuk Tania.
"Nggak apa-apa. Kamu aja yang masuk sana. Nggak usah mikirin aku." Radit mengusir Tania secara halus.
"Dit. Ayolah! Jangan kayak anak kecil gitu dong." ucap Tania masih mencoba membujuk Radit.
"Kamu masuk aja Nia. Aku beneran nggak apa-apa. Aku cuma lagi pengen sendiri aja. Aku Nggak mau diganggu." ujar Radit.
"Tapi Dit ..." Tania.
"Udah, nggak ada tapi-tapi. Sana masuk. Nggak usah peduliin aku." ucap Radit masih terus mengusir Tania.
"Dit ... Radit." panggil Tania sambil menarik lengan Radit.
Tania merasa tidak tega meninggalkan Radit sendirian di luar. Tapi ia juga tidak mau tinggal berlama-lama ditempat itu karena bisa-bisa ia sakit kalau masih tetap duduk berlama-lama disitu.
"Nia. Kamu ini benar-benar keras kepala yah." ucap Radit yang tidak tahan dengan sikap keras kepala Tania.
Radit menarik tangan Tania dan mengantarnya sampai di depan pintu masuk restoran.
"Sana masuk." ucap Radit.
"Tapi Dit."
"Masuk Nia. Udah, sana masuk." tegas Radit.
Tania sebenarnya ingin protes tapi melihat ekpresi Radit yang kurang bersahabat, ia pun dengan berat hati memutuskan untuk mengalah dan menuruti perintah Radit.
***
Miko mengajak Hendra untuk berbicara empat mata diruangannya.
"Ada apa Mik? Kenapa Lu ngajakin Gue kesini?" tanya Hendra.
"Mm ... Gue pengen ngomong sesuatu sama Lo." jawab Miko.
"Apa itu? Ngomong aja." ucap Hendra.
"Mm ... Gue pengen nanyain tentang adik ipar Lo." jelas Miko.
"Siapa? Maksud Lo Tania?" tanya Hendra memastikan.
"Iya, Gue pengen nanyain sesuatu tentang dia." jawab Miko.
"Mik. Jangan bilang Elo naksir sama Tania." ucap Hendra menyelidik.
"Kalo iya, emang kenapa?" tanya Miko santai.
"Wah, wah Mik. Ini nggak boleh dibiarin. Tania tuh pacarnya Radit, adik sepupu Gue." jelas Hendra.
"Oh, jadi mereka beneran pacaran?" tanya Miko.
"Iya. Tania itu pacarnya Radit." jawab Hendra.
"Kan mereka cuma pacaran Hend. Belum juga nikah. Bisa aja kan, besok mereka tiba-tiba putus. Orang yang udah nikah aja bisa cerai, apalagi mereka yang masih pacaran." ujar Miko pantang menyerah mengejar Tania.
"Waduh, gimana yah Mik? Gue saranin Lo lupain aja Tania secepatnya. Lo cari cewek lain aja. Disini kan juga banyak cewek cantik dan seksi, seperti kriteria Lo dulu. Gadis berhijab seperti Tania itu kan, bukan tipe Lo." jelas Hendra. Ia sebenarnya tidak mau kalau Miko merebut Tania dari Radit. Karena ia tahu kalau Radit cinta mati pada Tania.
"Lagian kalian itu baru aja ketemu kemarin, masa Lo udah naksir aja Mik?" ucap Hendra.
"Hend. Apa Lo lupa? Dulu, Lo tuh juga begitu sama istri Lo. Elo jatuh cinta pada pandangan pertama sama istri Lo, iya kan? Sama. Gue juga kayak gitu ke adik ipar Lo." jelas Miko tidak mau kalah.
"Dan ... Lo bener Hend, Gue dulu emang tipe cowok yang suka sama cewek seksi. Tapi ... sekarang Gue ralat. Gue sekarang lebih suka cewek muslimah yang berpakaian tertutup. Karena mata dan hati Gue adem liatnya." lanjut Miko.
"Aduh gimana yah cara ngejelasinnya ke Elo Mik. Masalahnya tuh bukan di tipe ceweknya. Tapi, yang jadi masalah itu, Elo suka sama pacar adik sepupu Gue. Gue nggak mau Elo sama Radit sampe berantem cuma gara-gara kalian berebutan cewek. Apalagi ceweknya itu adik ipar Gue sendiri. Mik, Gue tanya sama Elo. Gimana rasanya Elo dikhianatin Lyvia dulu? Sakit kan? Nah, apa Elo tega ngelakuin hal yang sama ke orang lain? Hah?" cerocos Hendra panjang Lebar. Ia ingin meyakinkan Miko kalau hal yang dilakukannya itu adalah sesuatu hal yang tidak benar.
"Iya, Gue tau Hend. Tapi mau gimana lagi? Gue itu udah terlanjur suka sama Tania. Dan Gue yakin, nanti Tania pasti lebih milih Gue ketimbang adik sepupu Lo yang masih bocah ingusan itu. Anak seumuran Radit itu cuma mau main-main aja sama cewek, mereka belum bisa diajak serius. Beda sama Gue yang sudah matang, dewasa, sudah siap jadi suami, sudah siap jadi ayah dan sekaligus sudah siap menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab." jelas Miko percaya diri.
"Astagfirullah. Bener-bener Lo yah Mik. Masih aja nggak berubah sampai sekarang. Gue harus bilang apa lagi ke Elo, supaya Lo bisa ngerti kalo yang Lo lakuin itu salah." ucap Hendra.
Hendra putus asa sekaligus pusing melihat kelakuan sahabatnya itu, sambil ia memijat-mijat pangkal hidungnya. Ia tahu betul karakter Miko. Miko itu bukan tipe orang yang mudah menyerah. Kalau dia menginginkan sesuatu, ia pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang ia mau