How To Love You

How To Love You
Bab 59



Note : Bab ini belum direvisi, mohon jangan dibaca dulu.


...----------------...


Siang ini Hendra menghubungi Radit sepupunya untuk membantunya menyebar undangan pernikahannya dengan Tasya. Kurang lebih satu bulan lagi resepsi pernikahan mereka akan digelar disebuah hotel bintang 5 di Kota SKG. Karena di kota tersebut Hendra tumbuh besar dan ia mempunyai banyak teman dan kenalan disana. Pak Gunawan pikir lebih baik menggelar resepsinya disana saja. Fasilitas disana juga lengkap dibandingkan didaerah tempat tinggal mereka.


Di daerah tempat tinggalnya sekarang, mereka juga mengundang banyak orang mengingat Pak Gunawan merupakan seorang pebisnis dan pedagang besar yang banyak dikenal di berbagai daerah.


Mereka mencetak kurang lebih tiga ribu undangan. Pak Gunawan juga mengundang beberapa orang besar untuk turut hadir di pesta pernikahan putra semata wayangnya. Pak Gunawan dan Bu Arini ingin mempersembahkan pesta pernikahan yang super wah dan megah untuk anak dan menantunya mengingat pernikahan hanya ingin dilakukan sekali seumur hidup, pikir mereka.


"Halo Dit, kamu dimana?" tanya Hendra sambil menempelkan benda persegi panjang yang bernama smartphone itu ditelinganya.


"Lagi dirumah kak, kan hari minggu." jawab Radit di seberang telepon.


"Kamu ada kerjaan nggak hari ini?" tanya Hendra lagi sambil membuka kardus yang berisi undangan pernikahannya dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya lagi memegang handphone.


"Nggak ada kak. Aku kosong hari ini. Kenapa emangnya?" tanya Radit balik.


"Kamu bisa nggak bantuin aku nyebar undangan?" tanya Hendra lagi.


"Iya kak bisa. Tapi bentar yah abis shalat zhuhur." jawab Radit.


"Iya. Oke. Aku tunggu kamu dirumah." ujar Hendra.


"Siip kak." balas Radit.


Setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Radit, Hendra pun lalu menghubungi beberapa teman dekatnya yang ada di Kota SKG untuk membantunya menyebar undangan pernikahannya disana. Salah satunya adalah Miko.


"Hai what's up bro. Tumben lo nelpon gue. " sapa Miko diseberang telepon.


"Kabar gue baik Mik." balas Hendra.


"Ada angin apa lo tiba-tiba nelpon gue?" tanya Miko penasaran. Karena Hendra sudah lama tidak menghubunginya.


"Elo sibuk nggak? Gue mau minta bantuan elo nih." ujar Hendra.


"Bantuan apa man? Kalau gue bisa, dengan senang hati gue pasti bantuin lo." jawab Miko.


"Gue mau minta bantuan elo buat nyebarin undangan pernikahan gue disitu." kata Hendra.


"Widih ... Lama nggak ada kabar tiba-tiba udah mau nikah aja lo. Oh iya selamat yah bro atas pernikahan elo. Gue turut bahagia mendengarnya." ucap Miko.


"Makasih Mik." Hendra.


"Kapan emangnya?" Miko.


"Bulan depan tanggal 5." Hendra.


"Oh iya oke bro. Gue pasti bantuin elo. Elo kirim aja undangan elo ke alamat gue. Gue bakal minta bantuan temen-temen yang lain buat bantu gue nyebarin." Miko.


"Thanks bro." Hendra.


"Nggak usah sungkan. Kita inikan teman baik sejak SMP. Gue udah nganggap elo sebagai saudara gue sendiri. Oh iya, ngomong-ngomong calon istri elo orang mana bro?" Miko.


"Istri bukan calon, akadnya udah dari satu minggu yang lalu. Dan dia orang sini kok." Hendra.


"Widih. Ternyata The King of Playboy kepincut gadis desa rupanya. Hahaha. Pantas lo betah disana." Miko.


"Hehe. Bisa aja lo Mik. Gue udah lama pensiun tau." Hendra.


"Yang jelasnya dia berbeda dari mantan-mantan gue sebelumnya. Elo bakal tau kalau elo ketemu langsung sama dia nanti." Hendra.


"Masa sih? Hmm gue jadi penasaran." Miko.


"Hehe. Oh iya, udah dulu yah Mik. Gue masih banyak urusan." Hendra.


"Yoi bro." Miko.


Hendra memutuskan sambungan teleponnya dengan Miko. Ia pun lalu menghubungi Andi teman kerjanya dulu di sekolah.


"Halo." Andi.


"Halo Ndi." Hendra.


"Iya Hend. Ada apa?" Andi.


"Kamu lagi sibuk nggak Ndi?" Hendra.


"Nggak kok. Kenapa emang?" Andi.


"Aku mau minta bantuan kamu nih." Hendra.


"Bantuan apa?" Andi.


"Aku mau minta bantuan kamu buat nyebarin undangan pernikahan aku." Hendra.


"Oh. Oke bro. Kapan emang?" Andi.


"Kalo bisa sekarang yah sekarang." Hendra.


"Iya bentar bro. Aku mau shalat zhuhur dulu." Andi.


"Iya oke. Aku tunggu yah." Hendra.


"Oke." Andi.


***


Ba'da zhuhur, Tania dan Tantri sudah ada di tempat tinggal baru kakaknya. Ini pertama kalinya mereka berkunjung. Tasya menghubungi mereka tadi. Mereka juga mau membantu menyebar undangan pernikahan Tasya dan Hendra. Tidak lama kemudian datanglah Dewi dan Dewa. Dewa adalah kakak kandung Dewi. Hari ini Dewi libur ditoko, dia juga datang untuk membantu menyebar undangan bersama kakaknya.


Tasya sudah menyiapkan beberapa gelas minuman dan cemilan untuk tamunya. Tak lupa pula beberapa kotak es krim. Mereka pun menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan tuan rumah sambil mengobrol.


Tasya mengajak Dewi ke ruang makan untuk mengobrol berdua.


"Tasy. Kamu udah bikinin aku ponakan belum?" canda Dewi yang duduk disamping Tasya.


"Kasih tahu nggak yah. Hehe." balas Tasya bercanda.


"Bikin cepet-cepet dong. Aku udah nggak sabar nih pengen liat hasil karya kamu sama Kak Hendra. Hehe." goda Dewi lalu memasukkan keripik pisang kedalam mulutnya.


"Hahaha sabar aunty. Eh, kamu sama Kak Tama gimana? Udah kontek-kontekan belum?" tanya Tasya penasaran pada sahabat baiknya itu sambil menaik turunkan alisnya balik menggoda Dewi.


"Uhuk uhuk." Dewi tersedak. Kedua pipi Dewi merona karena malu.


"Mm ... aku sama Kaka Tama ... gimana cara ngomongnya yah." Dewi tidak tahu harus mulai darimana.