
Radit dan Tania ikut masuk kedalam rumah bersama Tasya. Mereka lalu duduk bersama dan mengobrol di meja makan. Radit duduk disamping Tania, sedangkan Tasya duduk diseberang meja mereka.
"Habis ini, kalian buru-buru nggak?" tanya Tasya pada Radit dan Tania.
"Nggak kok kak. Aku rencananya mau main disini seharian." jawab Tania.
"Aku juga kakak ipar." lanjut Radit.
"Kamu yakin Dit? Apa kamu nggak punya kesibukan lain?" tanya Tasya pada Radit.
"Iya kak, aku juga udah libur semester kok sekarang." jawab Radit.
"Oh, yah udah kalo begitu." balas Tasya.
"Kak Hendra kemana kak?" tanya Radit sambil menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Ada diatas, dikamar." jawab Tasya.
"Oh." ucap Radit.
"Kak Tasya ngapain tadi sebelum kami datang? Apa kami ganggu?" tanya Tania.
"Mm ... ak aku lagi masak tadi. Iya, hehe lagi masak." jawab Tasya salah tingkah.
"Tidak mungkin kan, kalau aku bilang yang sebenarnya pada mereka kalau kami mau ... Ah sudahlah." batin Tasya.
Radit dan Tania saling lirik, mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Tasya barusan.
"Oh. Aku bantu yah kak." tawar Tania kemudian.
"Boleh. Kamu ambil dulu gih cemilan sama minuman buat kamu dan Radit di kulkas. Kakak mau ke atas dulu. Mau mandi." ucap Tasya. Ia mencari alasan untuk naik ke kamarnya karena pasti suaminya sudah menunggunya disana.
"Iya kak." balas Tania.
Tasya pun beranjak naik ke kemarnya. Ia meninggalkan Tania dan Radit di meja makan berdua. Pelan-pelan Tasya membuka pintu kamarnya, ia mendapati suaminya sedang duduk disofa dan hanya mengenakan handuk seperti hendak mandi. Tasya menghampiri suaminya dan duduk disampingnya.
"Maaf sayang sudah membuat kamu menunggu." ucap Tasya sebelum akhirnya ikut duduk di sofa.
"Siapa yang datang sayang? Kenapa kamu lama sekali? Aku sudah dari tadi loh nunggunya." ujar Hendra sambil memeluk leher istrinya yang duduk disampingnya. Ia lalu menciumi seluruh wajah pujaan hatinya tersebut.
"Maaf yah sayang karena membuat kamu menunggu. Dibawah ada Tania sama Radit." jelas Tasya.
"Oh yah, mereka sudah datang rupanya. Kan kamu sendiri yang memanggilnya kemarin." kata Hendra.
"Iya sayang. Kalau gitu kamu mandi dulu gih. Aku mau turun temani mereka." ucap Tasya.
"Loh, katanya tadi mau ikhtiar bikin anak. Kok malah tidak jadi?" ucap Hendra dengan raut wajah kecewa.
"Mau bagaimana lagi sayang? Dibawah kita sedang kedatangan tamu." ucap Tasya lembut mencoba memberi pengertian pada suaminya.
"Sayang. Ayo kita mandi bareng, sekalian ... bikin anak." ajak Hendra sembari berbisik ditelinga istrinya.
Hendra lalu menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi tanpa meminta persetujuan dari sang istri. Tasya hanya menuruti semua kemauan suaminya. Termasuk berikhtiar bikin anak saat mereka sedang kedatangan tamu di lantai bawah.
***
Sementara itu di ruang makan, Tania dan Radit yang ditinggal berdua oleh nyonya rumah. Sekarang Tania sedang membuka pintu kulkas mencari cemilan dan minuman untuknya dan juga untuk Radit.
"Kamu mau makan apa Dit?" tanya Tania saat melihat banyak pilihan makanan di kulkas besar 2 pintu tersebut.
Tanpa Tania sadari Radit sudah berdiri dibelakangnya lalu menjawab, "Mm ... aku mau makan ini sama minum ini." ucapnya sambil menunjuk sebuah kue brownies kukus dan minuman yang ada didalam kulkas tersebut.
Tania terkejut saat mengetahui Radit berada persis dibelakangnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Bisa nggak Dit kamu nggak deket-deket kayak gitu? Gimana nanti kalau ada orang yang liat? Mereka bisa salah paham tau nggak." ujar Tania yang merasa risih dengan Radit yang seperti mau menempel padanya.
"Memangnya kenapa Nia sayang? Apa salahnya sih kalau aku nempel sama pacar sendiri?" goda Radit sembari semakin mendekatkan dirinya pada Tania yang berdiri persis dihadapannya.
Radit meletakkan kedua tangannya diatas kedua pintu kulkas yang terbuka. Seolah-olah Tania seperti terkurung dihadapannya. Radit sangat senang menggoda Tania, menurutnya Tania makin menggemaskan saat sedang digoda olehnya.
"Kamu tuh yah kalo dibilangin. Kayak kita pacaran saling mencintai aja. Sana jauh-jauh." ucap Tania kesal sambil mengusir Radit.
Melihat Tania yang kesal olehnya, Radit semakin ingin menggodanya. Ia tidak peduli dengan ucapan Tania yang mengusirnya tadi, ia malah terus menempel mendekatkan dirinya, hingga tubuhnya benar-benar menempel pada punggung Tania seperti hendak memeluknya. Karena kesal dan marah, Tania lalu berbalik dan mendorong Radit. Ia sangat takut kalau sampai ada yang melihat mereka dan salah paham. Apalagi ini dirumah kakaknya, Tania sangat takut kalau kakaknya sampai salah paham dan marah padanya.
"Jauh-jauh nggak." ucap Tania geram sambil mendorong tubuh Radit dengan sekuat tenaga.
"Bruk." Radit terjatuh dan jidatnya terbentur di pinggir meja makan.
"Auwh, sakit banget." ucap Radit mengaduh kesakitan.
Melihat Radit yang jatuh terluka dan kesakitan karena perbuatannya, Tania jadi panik sendiri sekaligus khawatir kalau sampai terjadi apa-apa pada Radit nantinya.
"Astaga, Dit ... Radit." pekik Tania sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia lalu melangkah cepat menghampiri Radit.
"Aku minta maaf yah. Aku nggak sengaja." tutur Tania. Ia merasa sangat bersalah pada Radit. Ia pun segera membantu Radit berdiri dan mendudukkannya di kursi meja makan.
Meskipun sedang kesakitan, tapi Radit tersenyum senang didalam hatinya karena Tania peduli padanya. Ia meringis kesakitan, sambil memegangi jidatnya yang terluka dan memerah itu.
"Aduh sakit banget." keluh Radit sambil terus memegangi jidatnya yang terluka.
"Maaf yah Dit, aku beneran nggak bermaksud menyakiti kamu tadi. Mana lukanya? Sini aku liat." ucap Tania lirih. Ia merasa sangat bersalah pada Radit. Terlihat jelas raut kekhawatiran diwajahnya.
Radit melepaskan tangannya yang menutupi lukanya.
"Yah ampun Dit berdarah." Tania makin panik karena luka Radit mengeluarkan darah, meskipun sebenarnya tidak terlalu parah.